REMBANG, Harianmuria.com – Bupati Rembang, Harno, meninjau pelaksanaan kegiatan belajar di Sekolah Rakyat Terintegrasi yang berlokasi di Desa Kaliombo, Kecamatan Sulang, Selasa, 4 Agustus 2026.
Kunjungan yang didampingi Kapolres Rembang dan Dandim 0720/Rembang itu sebelumnya sempat tertunda karena Harno menghadiri agenda bersama Presiden.
Menurutnya, pemantauan secara langsung diperlukan untuk melihat kondisi siswa serta memastikan program pendidikan berjalan sesuai harapan.
“Ini adalah kunjungan saya yang kemarin tertunda karena ada undangan dari Bapak Presiden. Hari ini saya datang bersama Pak Kapolres dan Pak Dandim untuk mengetahui langsung kondisi di sini. Dengan datang langsung seperti ini kami bisa bertemu dengan anak-anak, melihat bagaimana mereka belajar dan beradaptasi,” ujar Harno.
Ia mengaku terharu melihat semangat para siswa menjalani kehidupan di asrama meski masih dalam tahap penyesuaian setelah berpisah dari keluarga.
Harno juga menilai cakupan penerima manfaat Sekolah Rakyat masih terbatas. Oleh karena itu, pihaknya akan mengkaji usulan penambahan kelompok penerima berdasarkan kategori desil agar lebih banyak anak dapat mengakses program tersebut.
“Kuotanya memang masih terbatas. Ke depan akan kita evaluasi, termasuk kemungkinan menaikkan desil agar lebih banyak anak yang bisa masuk. Kalau memungkinkan, penerima bisa diperluas dari desil 1–2 menjadi desil 3 sampai 5, bahkan bila kuota memungkinkan dapat menjangkau desil 6 sampai 10. Harapannya semakin banyak anak yang membutuhkan bisa memperoleh kesempatan belajar di Sekolah Rakyat,” katanya.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (Dinsos PPKB) Kabupaten Rembang, Nurdin Fahrudi, mengatakan tantangan utama pada awal penyelenggaraan program adalah membantu siswa beradaptasi dengan lingkungan asrama.
“Drama yang muncul di awal tentu saja anak-anak masih ingat rumah karena baru satu dua hari tinggal di asrama. Saat hari kunjungan keluarga, mereka kembali teringat rumah sehingga proses adaptasi dimulai lagi,” jelasnya.
Untuk mempercepat proses adaptasi, pihak sekolah memberi ruang bagi siswa untuk mengikuti berbagai aktivitas olahraga dan permainan agar mereka merasa nyaman tinggal di lingkungan asrama.
Ia menambahkan, penggunaan telepon genggam masih dilarang sesuai ketentuan yang berlaku di seluruh Sekolah Rakyat. Sebagai penunjang kegiatan belajar, setiap siswa nantinya akan difasilitasi satu unit laptop.
Meski demikian, siswa tetap diperbolehkan pulang apabila memiliki keperluan khusus dengan persetujuan pihak sekolah, sementara wali asuh dan pengasuh asrama terus melakukan pendampingan agar proses adaptasi berjalan baik.
Pada tahun ajaran 2026/2027, Sekolah Rakyat Terintegrasi Kabupaten Rembang menampung 225 siswa yang terdiri atas 10 siswa jenjang SD, 95 siswa SMP, dan 120 siswa SMA, termasuk 30 siswa yang berasal dari Kabupaten Blora.
Sekolah Rakyat Terintegrasi menerapkan kurikulum yang menggabungkan pendidikan formal dengan pembinaan karakter melalui sistem asrama.
Selain pembelajaran sesuai standar nasional, program tersebut juga menitikberatkan pada pengembangan karakter, kedisiplinan, kepemimpinan, spiritualitas, serta kemandirian sebagai bekal bagi para siswa di masa depan.
Jurnalis: Vicky Rio
Editor: Rosyid











