SEMARANG, Harianmuria.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang menemukan adanya pelanggaran terhadap 16 dari 19 standar operasional prosedur (SOP) di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menyalurkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) ke SMKN 6 Semarang.
Temuan tersebut diperoleh dari investigasi awal terkait dugaan keracunan massal yang dialami puluhan siswa usai menyantap menu MBG pada Jumat, 31 Juli 2026.
Kepala Dinkes Kota Semarang, Abdul Hakam, mengatakan dari hasil pemeriksaan lapangan hanya tiga SOP yang dinilai telah dipenuhi oleh SPPG.
“Secara garis besar dari 19 SOP yang harus ditaati SPPG, tapi hanya tiga yang terpenuhi. Berarti ada 16 SOP yang tidak terpenuhi,” ungkapnya, Senin, 3 Agustus 2026.
Tiga prosedur yang telah dijalankan tersebut meliputi penggunaan bahan baku, proses distribusi makanan, serta tata cara penyajian kepada siswa.
Selain dugaan pelanggaran SOP, investigasi juga menemukan indikasi makanan telah dimasak sejak pukul 21.00 WIB pada malam sebelum didistribusikan kepada siswa keesokan paginya.
Menurut Hakam, proses pengolahan makanan seharusnya dilakukan mendekati waktu pendistribusian agar kualitas dan keamanan pangan tetap terjaga.
“Idealnya makanan yang dibagikan pagi hari mulai dimasak sekitar pukul 04.00 atau 05.00 pagi. Setelah matang sebaiknya tidak lebih dari dua jam langsung didistribusikan dan dikonsumsi,” jelasnya.
Hakam mengatakan pihaknya masih menunggu hasil uji laboratorium untuk memastikan penyebab dugaan keracunan makanan yang dialami para siswa.
Menurutnya, sampel makanan yang diperiksa masih menjalani proses kultur bakteri sehingga hasil akhir diperkirakan baru dapat diketahui dalam waktu 7 hingga 14 hari.
“Kalau hasil pastinya belum selesai karena sampelnya harus dibiakkan dulu untuk menemukan apakah positif kuman atau bakteri. Pemeriksaan kultur bakteri membutuhkan waktu sekitar 7 sampai 14 hari,” katanya.
Sejumlah sampel makanan yang diperiksa meliputi ayam bumbu rendang, daun singkong, tahu, dan telur puyuh.
Berdasarkan hasil wawancara terhadap siswa yang mengalami gejala, menu ayam bumbu rendang menjadi makanan yang paling banyak dicurigai sebagai penyebab, disusul telur puyuh dan daun singkong. Meski demikian, kepastian penyebabnya masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.
Hakam menduga bakteri yang berpotensi menyebabkan keracunan antara lain Escherichia coli (E. coli), Staphylococcus, atau Salmonella, namun identifikasi jenis bakteri masih menunggu hasil kultur.
Hingga kini, sejumlah siswa masih menjalani perawatan di RSUD KRMT Wongsonegoro, RS Panti Wilasa Citarum, dan Puskesmas Bangetayu. Sebagian besar pasien mengalami keluhan mual, muntah, dan diare, namun kondisi mereka dilaporkan terus membaik.
“Alhamdulillah semua mulai membaik. Hanya ada satu pasien yang dirujuk karena kondisinya lemas dan perlu pemeriksaan elektrolit,” ujar Hakam.
Ia menambahkan, hasil investigasi lengkap beserta hasil pemeriksaan laboratorium nantinya akan disampaikan kepada Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai bahan evaluasi.
Jurnalis: Syahril Muadz
Editor: Rosyid











