SEMARANG, Harianmuria.com – Kenaikan harga solar serta pembatasan pembelian BBM subsidi bagi nelayan berdampak terhadap aktivitas melaut nelayan di Semarang Utara, Kota Semarang.
Nelayan di Semarang Utara terpaksa mengurangi aktivitas bahkan memilih tidak melaut demi menghindari kerugian.
Salah satu nelayan, Endi, mengaku biaya operasional melaut menjadi semakin berat. Selain menghadapi harga BBM mahal, akses pembelian bahan bakar juga dibatasi.
Menurut Endi, pembelian solar untuk tidak bisa langsung ke SPBU menggunakan jeriken sementara perahu tidak mungkin dibawa ke pom bensin. Nelayan terpaksa membeli solar di kampung nelayan seperti di Tambak Lorong dengan harga sekitar Rp8.000 per liter namun ketersediaannya kini semakin langka.
“Sangat memberatkan. Satu karena harganya sangat mahal. Kedua nelayan tidak bisa beli solar bawa jeriken ke pom. Jadi sekarang belinya di kampung-kampung nelayan. Itu pun sekarang langka,” terangnya, Senin, 4 Mei 2026.
Selain itu, menurut Endi, pembelian solar pun dibatasi sehingga bisa mengurangi kebutuhan yang seharusnya.
“Kalau yang pakai barcode itu per hari hanya bisa 60 liter. Sedangkan kita, kadang, pemakaian bisa lebih. Biasanya kalau full jalan bisa 100 sampai 150 liter. Kita kan nelayan musiman, kalau untuk mancing bisa irit, tapi untuk mengejar saat musim tengiri ya boros,” bebernya.
Saat musim ikan tenggiri, kata Endi, nelayan harus melaut ke perairan tengah dengan waktu tempuh hingga tiga setengah jam sehingga kebutuhan bahan bakar juga banyak.
Dalam sehari, kebutuhan BBM bisa mencapai enam puluh liter atau dua hingga tiga galon, tergantung jarak dan lokasi penangkapan ikan.
Sedangkan untuk menggunakan BBM nonsubsidi, seperti Dexlite, bagi Endi opsi tersebut tidak memungkinkan karena terlalu mahal untuk operasional.
“Kalau Dexlite nggak mungkin, nggak ketutup biaya operasionalnya. Kalau langka begini ya nggak melaut daripada tekor,” ucapnya.
Pendapatan nelayan pun turut terdampak. Endi mengaku pendapatannya tidak menentu. Dalam satu kali melaut, hasil bisa berkisar antara Rp400 ribu hingga Rp750 ribu.
Untuk rute dekat di perairan dangkal, kebutuhan BBM lebih irit namun hasil tangkapan juga terbatas. Berbeda dengan melaut ke perairan dalam yang membutuhkan lebih banyak BBM namun berpotensi mendapatkan hasil lebih besar.
Jurnalis: Syahril Muadz
Editor: Ulfa
Top of Form
Bottom of Form











