KUDUS, Harianmuria.com – Menu makan bergizi gratis (MBG) dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) 1 Kedungdowo menuai protes dari wali murid penerima manfaat. Keluhan muncul karena menu MBG dinilai sangat sedikit dan kurang menggugah selera.
Selain menerima protes dari wali murid, menu MBG tersebut juga menuai kritik dari warganet karena viral di media sosial.
Kepala Sekolah SD 1 Kedungdowo, Sri Suwarni, mengatakan wali murid mengeluhkan menu MBG yang diterima anak-anaknya terlalu sedikit. Bahkan, wali murid meminta sekolah agar pindah SPPG yang menyediakan menu MBG bagi anak-anaknya.
“Kami baru menerima MBG sekitar sepekan sejak Senin (19 Januari 2026) lalu. Tapi hampir setiap hari guru-guru kami itu dikomplain oleh wali murid terkait menu MBG-nya. Bahkan orang tua minta pindah SPPG saja,” katanya, Senin, 26 Januari 2026.
Ia menjelaskan, untuk menu MBG yang diterima siswa hari ini, Senin, 26 Januari 2026 yakni berupa kentang, saos sambal, buah melon, kedelai rebus dan fillet ikan lele. Namun, porsi setiap jenis menu dinilai sangat minim.
“Sejak pertama menerima MBG, menunya biasanya memang seperti itu. Contohnya itu sempat dapat menu seperti siomay, nugget, pepaya tapi ya sedikit seperti itu,” ungkapnya.
Sri mengatakan, pihak sekolah sudah menyampaikan keluhan wali murid ke pihak SPPG 1 Kedungdowo. Akan tetapi, kata dia, belum ada perubahan menu yang lebih menarik dan bergizi bagi siswa.
“Pihak SPPG bilang akan dievaluasi dan kedepannya akan semakin baik lagi, tapi saya tunggu-tunggu sampai hari ini ternyata masih gini-gini saja,” sebutnya.
Dia menambahkan, selama ini siswa yang menerima MBG ada yang habis, tapi ada juga yang tidak habis lalu dibawa pulang. Ia menyebut, total siswa SD 1 Kedungdowo yang menerima MBG yakni ada sebanyak 152 anak.
“Kami juga sudah kirimkan menu-menu MBG dari SPPG lain di Kudus sebagai referensi, tapi tetap belum ada perubahan,” tambahnya.
Sementara itu, Pasiter Kodim 0722/Kudus Kapten Arm Muslikhan mengatakan, setelah menerima aduan tersebut pihaknya akan mengecek SPPG yang bersangkutan.
“Kami akan lakukan pengecekan dulu setelah ini,” katanya.
Jurnalis: Nisa Hafizhotus Syarifa
Editor: Ulfa











