REMBANG, Harianmuria.com – Cuaca buruk yang melanda perairan utara Jawa berdampak signifikan terhadap aktivitas nelayan di Kabupaten Rembang. Sebagian memilih berhenti melaut, sebagian lain tetap beroperasi demi memenuhi kebutuhan hidup.
Nelayan dengan kapal kecil dan harian, termasuk kapal Sarang–Tayu serta kapal bermuatan di bawah 50 ton, mayoritas memilih berhenti melaut demi keselamatan.
Salah satu nelayan Desa Tasikagung, Kecamatan Rembang, Kadromi, mengatakan faktor keselamatan menjadi pertimbangan utama para nelayan kecil untuk tidak memaksakan diri turun ke laut.
“Kalau kapal-kapal kecil, ya berhenti. Faktor keselamatan yang paling utama,” ujar Kadromi, Sabtu, 17 Januari 2026.
Menurutnya, nelayan kecil seperti dirinya berbeda dengan nelayan kapal besar yang memiliki kapasitas muatan di atas 50 ton dan masih tetap melaut hingga perairan Selat Makasar.
“Yang besar-besar masih melaut, masih bisa bekerja. Kapal besar ibaratnya tidak terlalu mengenal kondisi ombak,” terangnya.
Kadromi menjelaskan setelah kembali dari Selat Makasar, kapal-kapal besar langsung membongkar hasil tangkapan di tempat pelelangan ikan (TPI). Sedangkan pasokan dari nelayan kecil tidak ada sehingga kondisi ini pun turut berdampak pada harga ikan di pasaran.
“Karena pasokan ikan dari nelayan kecil berkurang cukup banyak, harga ikan di pasaran biasanya naik dibanding hari-hari biasa,” bebernya.
Sementara itu, kondisi berbeda dialami nelayan jaring bobo di Desa Kabongan Lor, Kecamatan Rembang. Meski cuaca buruk dan hasil tangkapan minim, ratusan nelayan tetap nekat melaut demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Seorang nelayan jaring bobo, Yanto, mengaku hasil tangkapan dalam sepekan terakhir sangat tidak sebanding dengan biaya operasional yang dikeluarkan.
“Kalau angin barat, peluang hasil tangkapan kecil, sementara biaya operasional cukup tinggi,” ungkap Yanto.
Kondisi cuaca ekstrem, kata Yanto, membuatnya mengeluarkan modal lebih. Biasanya biaya operasional sekali melaut bisa mencapai Rp300 ribu.
Saat cuaca buruk, nelayan kerap hanya mendapatkan dua kilogram rajungan dengan nilai jual sekitar Rp200 ribu, sehingga harus menanggung kerugian. Kondisi tersebut masih harus dibagi dengan dua anak buah kapal (ABK) yang masing-masing minimal mendapat upah Rp50 ribu.
“Kalau dihitung-hitung hasilnya minus, sering rugi,” keluhnya.
Tak hanya di Rembang kota, nelayan pencari rajungan di Kecamatan Sluke juga terdampak cukup parah. Sepanjang hari Selasa, para nelayan rajungan di wilayah tersebut memilih berhenti total melaut.
Seorang pengepul rajungan di Desa Manggar, Kecamatan Sluke, mengatakan seluruh nelayan menghentikan aktivitasnya akibat hujan dan gelombang tinggi.
“Nggak ada yang melaut, mas. Berhenti semua. Mesin-mesin kapal dicopoti dan dibawa pulang ke rumah,” ujarnya.
Meski aktivitas melaut terhenti, harga rajungan hingga kini masih stabil di kisaran Rp105 ribu per kilogram.
“Kalau harga rajungan belum ada perubahan, masih di Rp105 ribu per kilo,” pungkasnya.
Jurnalis: Vicky Rio
Editor: Ulfa











