SEMARANG, Harianmuria.com – Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Jawa Tengah (Jateng) mulai memetakan sejumlah wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan pada musim kemarau tahun 2026.
Daerah yang menjadi fokus yakni Jepara, Banjarnegara, Blora, hingga Cilacap.
Kepala Distanak Jateng, Defransisco Dasilva Tavares, mengatakan pemetaan wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan tersebut dikarenakan letaknya jauh dari sumber distribusi air irigasi.
“Seperti Jepara misalnya, itu kalau air mau sampai sana kan kejauhan dari jalurnya. Kadang-kadang sudah terbagi habis di mana-mana,” kata Frans, Kamis, 14 Mei 2026.
Distanak juga kerja sama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) untuk memetakan wilayah yang diperkirakan mengalami kekeringan lebih awal.
“(Daerah) Itu yang kita perlu tambah. Misalnya sumber airnya di mana, kita lakukan irigasi perpompaan, tarik air masukkan ke jaringan irigasi supaya bisa mengalir,” ucapnya.
Sejumlah bantuan juga disalurkan melalui infrastruktur air untuk mendukung musim tanam, di antaranya rehabilitasi jaringan irigasi di 25 kabupaten sebanyak 134 unit dari APBD.
“Selain itu, terdapat bantuan irigasi alternatif sebanyak 75 unit di 15 kabupaten, irigasi perpompaan 1.823 unit di 30 kabupaten/kota, hingga irigasi perpipaan 366 unit di 26 kabupaten. Ini dari APBN dan APBD untuk mendukung supaya memasuki musim tanam aliran airnya lebih siap,” katanya.
Puncak kemarau diperkirakan mulai terasa
pada Agustus hingga September mendatang. Karena itu, pemerintah kini mempercepat pola tanam agar produksi pertanian tetap aman. Salah satu strategi yang diterapkan, kata Frans, ialah sistem ‘sepur’, yakni percepatan pengolahan lahan setelah panen.
“Kalau prediksinya paling tinggi itu akan kurang air sama sekali itu antara bulan Agustus dan September. Kalau untuk strateginya, jadi habis panen langsung diikuti pengolahan tanah, disemprot dekomposer, lalu ditanam lagi. Tujuannya mengejar air yang masih ada,” ujarnya.
Selain percepatan tanam, pemerintah juga menyiapkan jenis tanaman yang lebih tahan kekeringan serta pengajuan pembangunan jaringan irigasi air tanah ke pemerintah pusat.
“Kalau perlu sumur air dalam di daerah-daerah seperti ini,” tuturnya.
Jurnalis: Rizky Syahrul











