SEMARANG, Harianmuria.com – Sekitar 3.000 peserta pegiat olahraga memadati Balai Kota Semarang dalam Festival Olahraga Masyarakat Kota (Forkot) Semarang 2026, Minggu, 4 Oktober 2026.
Tak hanya menjadi ajang perlombaan, kegiatan yang digelar Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang bersama Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI) Kota Semarang itu juga menjadi momentum menggaungkan gaya hidup sehat sekaligus melestarikan olahraga tradisional.
Sebanyak 37 dari 43 Induk Organisasi Olahraga (Inorga) KORMI Kota Semarang ikut ambil bagian dengan menghadirkan beragam aktivitas, mulai dari olahraga tradisional, senam, dance, bela diri hingga komunitas sepeda tua.
Ketua KORMI Kota Semarang, Dyah Tunjung Pudyawati yang akrab disapa Mbak Tunjung, mengatakan olahraga masyarakat tidak semata-mata berbicara mengenai prestasi.
Menurutnya, olahraga harus menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat untuk menjaga kebugaran sekaligus mempererat hubungan sosial.
“Olahraga tidak selalu berorientasi pada prestasi, tetapi menjadi sarana untuk tetap bugar, membangun silaturahmi, meningkatkan rasa percaya diri, serta menciptakan lingkungan yang sehat dan aktif,” katanya.
Karena itu, ia berharap Forkot dapat menjadi ruang bertemunya berbagai komunitas olahraga sekaligus mendorong semakin banyak masyarakat untuk aktif bergerak.
“Mari kita jadikan FORKOT 2026 sebagai momentum untuk sehat badannya, gembira olahraganya, erat persaudaraannya, dan semakin semangat bergerak bersama,” ujarnya.
Salah satu yang menjadi perhatian dalam Forkot tahun ini adalah olahraga tradisional. Melalui Inorga Federasi Olahraga Tradisional Indonesia (Fortina), permainan seperti egrang dan bakiak kembali diperkenalkan kepada generasi muda.
Dyah menyebut, pelestarian permainan tradisional penting dilakukan agar olahraga yang menjadi bagian dari budaya masyarakat tersebut tidak hilang di tengah perkembangan zaman.
“Inorganya namanya Fortina, jadi itu kumpulan olahraga tradisional. Salah satunya ada egrang, ada bakiak, ya. Jadi, ini juga salah satu upaya untuk melestarikan budaya yang ada di Kota Semarang,” jelasnya.
Selain mendorong masyarakat untuk aktif berolahraga, Forkot juga menjadi bagian dari pembinaan pegiat olahraga masyarakat.
Para juara dari masing-masing Inorga nantinya dipersiapkan mengikuti Festival Olahraga Masyarakat Daerah (Forda) Jawa Tengah yang dijadwalkan berlangsung Desember mendatang.
Sementara itu, Plt Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Semarang, Didik Dwi Hartono, mengapresiasi antusiasme masyarakat yang mengikuti Forkot dari berbagai kelompok usia.
Menurut Didik, olahraga masyarakat dapat menjadi aktivitas bersama yang tidak mengenal batas usia. Mulai dari anak-anak, orang dewasa hingga lansia dapat ikut bergerak dan menikmati olahraga sesuai minat masing-masing.
“Mari kita sukseskan FORKOT Semarang 2026. Kegiatan ini milik kita bersama, mulai dari anak-anak, orang dewasa, hingga lansia, semuanya bersemangat mengikuti kegiatan olahraga,” ujar Didik.
Semangat melestarikan olahraga tradisional kemudian terlihat dalam lomba egrang yang diikuti puluhan pelajar dari berbagai sekolah di Kota Semarang.
Para peserta harus menjaga keseimbangan di atas egrang bambu sembari menyelesaikan lintasan secara estafet. Setiap tim terdiri dari empat orang yang bergantian melewati lintasan hingga menyelesaikan perlombaan.
Tak jarang peserta terjatuh saat berusaha menjaga keseimbangan. Namun, mereka segera bangkit dan kembali melanjutkan pertandingan. Aksi tersebut justru membuat suasana perlombaan semakin meriah dan mengundang sorakan penonton.
Salah satu peserta, Cantika Triyanda Gifti, mengaku sempat mengalami kaki kapalan dan beberapa kali terjatuh selama perlombaan. Meski begitu, siswi kelas 8 SMP Negeri 39 Kota Semarang itu tetap berusaha menyelesaikan lintasan.
Baginya, bermain egrang bukan hanya soal menang atau kalah. Permainan tersebut juga melatih keberanian, kepercayaan diri dan membuat generasi muda kembali mengenal permainan tradisional.
“Kegiatan ini tuh seru banget karena ini melatih daya kita kayak percaya diri sama kita bisa lebih mengenal permainan tradisional di Indonesia,” ujar Cantika.
Peserta lainnya, Rasyadan Zunur Thirafi, juga merasakan hal serupa. Siswa kelas 9 SMP Negeri 30 Semarang itu mengaku telah mengenal egrang sejak kelas empat SD saat bermain bersama teman-temannya di Kelurahan Krobokan.
Namun, ia melihat permainan tersebut kini semakin jarang dimainkan. Untuk mengikuti Forkot, Rasyadan bahkan berlatih bersama teman-temannya setiap pulang sekolah hingga sore.
“Harapannya untuk kegiatan kali ini lebih sering diadakan agar ramai juga ada kegiatan olahraga di Kota Semarang dan biar tidak terlupakan permainan tradisionalnya,” ujarnya.
Jurnalis: Syahril Muadz
Editor: Rosyid











