REMBANG, Harianmuria.com – Masjid Jami’ Lasem yang berada di Kabupaten Rembang menjadi salah satu peninggalan bersejarah yang menandai perkembangan Islam sekaligus tata kota kuno di pesisir utara Jawa. Masjid yang berdiri sejak tahun 1588 tersebut kini telah berusia lebih dari empat abad dan masih berdiri kokoh hingga sekarang.
Pengurus Masjid Jami’ Lasem, Gus Abdul Aziz, mengatakan masjid ini termasuk salah satu masjid tua di Pulau Jawa yang berdiri pada masa awal berkembangnya kerajaan-kerajaan Islam di wilayah tersebut.
“Masjid Jami’ Lasem ini adalah masjid tua, berdiri pada tahun 1588. Usianya sekarang sekitar 440 tahun atau hampir 4,5 abad,” ujarnya Sabtu, 14 Maret 2026.
Menurutnya, pembangunan masjid tersebut berlangsung hampir bersamaan dengan berdirinya Masjid Gedhe Mataram Kotagede yang didirikan oleh Panembahan Senopati, penguasa pertama Kesultanan Mataram.
Masjid Jami’ Lasem sendiri dibangun sebagai bagian dari konsep pengembangan kota Lasem pada masa itu. Wilayah tersebut dipimpin oleh Adipati Tejo Kusumo I yang baru diangkat oleh Raja Kesultanan Pajang.
Sebagai pusat pemerintahan baru di jalur pantai utara Jawa, Tejo Kusumo I merancang tata kota yang terintegrasi. Di kawasan tersebut dibangun kompleks kadipaten, Masjid Jami’, alun-alun sebagai pusat aktivitas masyarakat, serta pasar di bagian selatan kawasan.
“Konsep pembangunan seperti itu menjadi ciri khas tata kota pada masa tersebut, di mana pusat pemerintahan, masjid, alun-alun, dan pasar berada dalam satu kawasan,” jelasnya.
Dalam proses pembangunannya, terdapat kisah yang berkaitan dengan tokoh ulama yang dikenal sebagai Mbah Sambu. Meski saat itu belum menjadi menantu penguasa Lasem, ia disebut turut membantu pembangunan masjid secara diam-diam.
Menurut salah satu cerita yang berkembang di kalangan pengurus masjid, Mbah Sambu merupakan santri utama sekaligus murid kesayangan dari cucu Sunan Bonang di pesantren Bonang Binangun.
Ia disebut tergerak membantu pembangunan masjid dengan membawa batu-batu besar dari kawasan pegunungan Kemuning. Batu-batu tersebut kemudian dimanfaatkan sebagai bahan fondasi dan dinding bangunan masjid.
“Batu-batu besar itu diambil dari sekitar pegunungan Kemuning, lalu dibawa ke Lasem untuk bahan fondasi dan dinding masjid,” katanya.
Hingga kini, batu-batu besar tersebut masih dapat dilihat dan menjadi ciri khas bangunan Masjid Jami’ Lasem. Struktur dinding batu tua itu menjadi bukti bahwa bangunan tersebut telah berdiri selama ratusan tahun.
Seiring berjalannya waktu, masjid ini juga telah mengalami beberapa kali pemugaran. Salah satu jejak renovasi terlihat dari ukiran angka tahun 1829 pada bagian kayu bangunan yang diduga menjadi penanda pemugaran pada masa tersebut.
Pemugaran besar juga pernah dilakukan pada awal 1990-an. Sementara renovasi terakhir berlangsung sekitar tiga tahun lalu ketika pemerintah melakukan penataan kawasan Lasem sebagai kota pusaka.
Jurnalis: Vicky Rio
Editor: Rosyid











