REMBANG, Harianmuria.com – Kabar kenaikan harga tembakau membuat para petani di Rembang sumringah. Namun, kenaikan harga ini ternyata tak bisa dinikmati seluruh petani yang menanam komoditas tersebut tahun ini.
Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Kabupaten Rembang, Wawan Edi Susanto, menuturkan tembakau yang ditanam di lahan tegalan pertumbuhannya kurang optimal, bahkan sebagian mengalami gagal tanam. Hal ini karena sumber air yang minim.
Kondisi tersebut membuat sebagian petani yang menanam di lahan tegalan tak sepenuhnya menikmati kenaikan harga. Sebaliknya, tembakau yang ditanam di lahan sawah bekas padi menunjukkan kualitas produk lebih baik karena masih memiliki cadangan air tanah.
“Kalau dari sisi kualitas justru musim kering seperti ini bagus untuk tembakau. Yang menjadi kendala hanya lahan tegalan yang kesulitan air. Sementara di lahan sawah hasilnya jauh lebih bagus karena tembakau membutuhkan air, tetapi tidak menyukai kondisi yang berlebihan,” jelasnya, Rabu, 2 September 2026.
Lebih lanjut, Wawan menuturkan saat ini harga tembakau hampir mencapai Rp30 ribu per kilogram. Harga tersebut lebih baik daripada musim sebelumnya yang hanya sekitar Rp24 ribu per kilogram.
“Tahun kemarin pembelian awal sekitar Rp24 ribu per kilogram. Tahun ini sudah mendekati Rp30 ribu, berada di kisaran Rp26 ribu hingga Rp27 ribu. Artinya ada peningkatan harga sejak awal musim,” ujarnya.
Menurut Wawan, kondisi cuaca panas yang berlangsung selama musim tanam menjadi keuntungan bagi tanaman tembakau. Selain meningkatkan kualitas daun, bobot hasil panen juga diperkirakan lebih baik dibanding saat curah hujan tinggi.
Sementara itu, Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Rembang, Agus Supriyanto, mengatakan jumlah petani tembakau tahun ini justru mengalami peningkatan. Namun, produksi di sejumlah wilayah belum maksimal akibat ketersediaan air yang terbatas.
“Jumlah petaninya meningkat. Hanya saja kondisi cuaca menyebabkan hasil panen di beberapa lokasi belum maksimal,” katanya.
Agus menambahkan harga tembakau tetap ditentukan berdasarkan kualitas daun tembakau. Berdasarkan informasi yang diterima dari mitra pembelian, harga diperkirakan berada pada kisaran Rp30 ribu hingga Rp40 ribu per kilogram, menyesuaikan grade hasil panen.
Menurutnya, keberadaan komoditas tembakau memberikan dampak ekonomi yang besar bagi masyarakat Rembang. Selain meningkatkan kesejahteraan petani, sektor ini juga mampu mengurangi angka perantauan warga karena membuka peluang usaha di daerah sendiri.
“Adanya tembakau membuat masyarakat memiliki pekerjaan di kampung halaman. Banyak yang sebelumnya merantau kini memilih menjadi petani tembakau karena hasilnya menjanjikan,” ungkap Agus.
Sebagai informasi tambahan, berdasarkan data resmi Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Rembang, luas tanam tembakau hingga semester pertama 2026 mencapai 7.440 hektar.
Dengan produktivitas rata-rata 1,5 hingga 2 ton per hektar, total produksi tembakau Rembang diproyeksikan mencapai 11.160 hingga 14.880 ton pada musim ini. Dengan jumlah ini, sektor ini diperkirakan mampu menghasilkan perputaran uang hingga sekitar Rp455 miliar di Rembang.
Jurnalis: Vicky Rio
Editor: Utia Lil











