PATI, Harianmuria.com – Hari kesepuluh bulan Muharam atau juga dikenal hari asyura tercatat banyak peristiwa penting sejarah dalam peradaban umat Islam. Oleh karena itu, momen ini dimanfaatkan untuk refleksi diri.
Salah satu peristiwa penting dalam sejarah Islam pada 10 Muharam adalah tragedi Karbala. Konflik berdarah antara kelompok Yazid bin Muawiyah dan Husein bin Ali.
Dalam peristiwa itu, cucu Nabi Muhammad SAW, Sayyidina Husain bin Ali RA, gugur bersama para pengikutnya saat mempertahankan prinsip dan kebenaran di tengah konflik politik kekuasaan yang terjadi pada masa itu.
Ketua Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Jawa Tengah sekaligus Direktur Lingkar Media Group, Agus Sunarko, menilai hari asyura memiliki banyak pelajaran yang relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini, terutama di tengah derasnya arus informasi di era digital.
Menurutnya, generasi milenial dan gen z perlu diajak untuk tidak sekadar mengenang sejarah, tetapi juga memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Salah satu pesan penting yang dapat dipetik adalah menghindari perilaku pengkhianatan, fitnah, maupun sikap “menggunting dalam lipatan” dan “nabuk nyilih tangan” atau disebut juga lempar batu sembunyi tangan, yang dapat merusak hubungan sosial.
“Momentum 10 Muharram ini mengajak seluruh lapisan masyarakat, khususnya generasi milenial dan gen z untuk belajar, mengingat kembali, dan merenungkan peristiwa gugurnya cucu Rasulullah SAW,” ujarnya pada Kamis, 25 Juni 2026.
Dari sejarah itu, kata Agus, generasi muda bisa mengambil pelajaran agar selalu eling lan waspada terhadap perbuatan-perbuatan tercela yang terjadi di dunia nyata juga banyak ditemui di ruang-ruang digital.
“Tantangan saat ini tidak lagi hanya terjadi dalam kehidupan nyata, tetapi juga di ruang digital,” ucapnya.
Kehadiran media sosial yang memberikan kemudahan dalam menyebarkan informasi. Tak sedikit, ruang digital digunakan untuk menyebarkan informasi bohong atau hoaks, mengunggah sepotong informasi yang menimbulkan pertikaian, hingga narasi yang menyinggung perasaan dan aib orang lain.
Oleh karena itu, Agus mengingatkan masyarakat agar lebih bijak dalam menerima dan menyebarkan informasi. Menurutnya, sebuah konten harus dipahami secara utuh sebelum mengambil kesimpulan atau memberikan penilaian.
“Di tengah disrupsi digital, banyak sekali konten yang berisi hoaks maupun misinformasi. Biasakan melihat dan memahami konten secara lengkap, jangan hanya sepotong-sepotong. Karena makna pesan yang diterima pembaca bisa berbeda antara yang dipahami secara utuh dan yang hanya dipotong sebagian,” pesannya.
Di tengah momentum hari asyura, Agus mengajak masyarakat mengedepankan kejujuran, kehati-hatian, serta sikap kritis dalam menyikapi berbagai informasi.
“Nilai-nilai ini penting untuk menjaga persatuan sekaligus membangun budaya digital yang sehat di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat,” pungkasnya.
Jurnalis: Fahtur Rohman
Editor: Ulfa











