BLORA, Harianmuria.com – Dua Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Kabupaten Blora, yakni TPA Temurejo dan TPA Cepu, diprediksi hanya mampu menampung sampah selama 3 hingga 5 tahun ke depan.
Kondisi ini mendorong Pemerintah Kabupaten Blora untuk menyiapkan solusi jangka panjang berupa pembangunan TPST RDF (Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Refuse Derived Fuel).
Menurut Subkoordinator Pengelolaan Sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Blora, Lingdung Arum Setyawan, pengelolaan sampah di Blora selama ini masih mengandalkan pemberdayaan masyarakat melalui bank sampah unit, bank sampah induk, serta TPS3R (Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle).
“Ke depan, Pemkab Blora berupaya membangun fasilitas pengolahan sampah berbasis RDF melalui program-program dari Kementerian Pekerjaan Umum,” ujarnya, Kamis, 28 Agustus 2025.
RDF Jadi Solusi Penanganan Sampah
Ia juga menyebut bahwa implementasi RDF didukung oleh nota kesepakatan (MoU) antara Pemkab Blora dan PT Semen Gresik Indonesia Pabrik Rembang, yang memungkinkan pemanfaatan sampah sebagai bahan bakar alternatif (RDF) di industri semen.
“Asumsinya, dari total timbunan sampah di Blora, sekitar 40 persen berpotensi diolah menjadi RDF. Tapi ini tergantung jenis sampah dan kadar air yang sesuai standar pabrik,” jelas Lingdung.
Volume Sampah di Blora Capai 1.600 Ton per Bulan
DLH Blora mencatat, volume sampah yang masuk ke dua TPA mencapai 55 ton per hari, atau sekitar 1.600 ton per bulan. Rinciannya, TPA Temurejo menerima 30 ton per hari, sementara TPA Cepu 25 ton.
“Pada bulan Juli 2025, total timbunan sampah dari dua TPA tersebut mencapai 1.641,84 ton,” terangnya.
Penuhi Kebutuhan RDF di Pabrik Semen Rembang
Dalam skema kerja sama, 70 persen kebutuhan RDF untuk PT Semen Gresik di Rembang akan dipasok dari kabupaten sekitar, termasuk Blora. Hal ini karena produksi sampah di Rembang sendiri hanya mampu mencukupi sekitar 30 persen dari total kebutuhan RDF pabrik tersebut.
Kerja sama antara Pemkab Blora dan PT Semen Gresik telah ditandatangani pada 21 Maret 2025. Kesepakatan ini lahir sebagai solusi karena volume sampah terus meningkat, sementara kapasitas TPA dengan sistem controlled landfill maupun sanitary landfill semakin terbatas.
Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Basuki










