BLORA, Harianmuria.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blora terus mendorong Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdeskel) Merah Putih untuk membangun usaha mandiri dengan menggandeng mitra strategis, termasuk BUMN dan perbankan.
Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi, dan UKM (Dindagkop UKM) Blora, Kiswoyo, mengatakan bahwa komunikasi intensif dengan pemerintah desa, instansi pemilik aset, dan calon mitra usaha sangat diperlukan untuk mempercepat operasional koperasi di lapangan.
“Untuk tahap awal, Kopdeskel butuh tempat usaha. Pengurus harus aktif berkoordinasi dengan pemdes atau instansi lain untuk meminjam atau menyewa aset yang belum dimanfaatkan,” ujar Kiswoyo, Rabu, 6 Agustus 2025.
Kiswoyo mencontohkan, jika ada gedung sekolah tidak terpakai atau gudang milik desa, bisa dimanfaatkan oleh Kopdeskel melalui kesepakatan resmi, seperti Musyawarah Desa (Musdes).
Saat ini, mayoritas Kopdeskel Merah Putih masih memanfaatkan ruang di kantor desa untuk urusan administratif, seperti pengurusan perizinan. Namun, untuk operasional usaha ke depan, tetap dibutuhkan lokasi usaha yang layak.
Selain soal tempat, Kiswoyo juga mendorong Kopdeskel menjalin kemitraan dengan mitra strategis. Pemkab Blora sebelumnya telah memfasilitasi akses ke sejumlah BUMN seperti Bulog, Pertamina, dan Pupuk Indonesia.
“Kontak bisnis ini bisa dimanfaatkan untuk membangun jaringan kemitraan. Termasuk juga kerja sama dengan perbankan untuk akses permodalan,” tambahnya.
Kiswoyo menegaskan bahwa beberapa Kopdeskel sudah memenuhi syarat legalitas, tinggal menunggu Nomor Induk Berusaha (NIB) dan NPWP. “Kopdeskel sudah terbentuk secara kelembagaan. Tinggal NIB dan NPWP, setelah itu usaha bisa dimulai. Ini tinggal menunggu inisiatif pengurus,” ucapnya.
Modal Awal dari Partisipasi Warga
Kiswoyo mengakui bahwa permodalan masih menjadi tantangan utama. Oleh karena itu, ia mendorong pengurus untuk aktif merekrut anggota dari masyarakat. Dengan simpanan pokok sebesar Rp50 ribu dan simpanan wajib Rp10 ribu, semakin banyak anggota, maka modal awal koperasi akan semakin kuat.
“Pengurus harus gencar sosialisasi, bisa melalui kegiatan desa atau door to door. Partisipasi warga sangat penting untuk keberlangsungan koperasi sebelum mendapat pinjaman dari bank Himbara,” ujarnya.
Usaha Kopdeskel dari Skala Kecil
Menurutnya, usaha tidak harus langsung besar. Bisa dimulai dari skala kecil dan sektor yang sesuai dengan kemampuan desa, baik berupa barang maupun jasa.
“Kalau terkendala modal, bisa komunikasikan ke mitra dengan skema pembagian hasil yang jelas. Yang penting koperasi bisa jalan dulu,” tegasnya.
Dindagkop UKM Blora berkomitmen untuk terus mendampingi dan memfasilitasi perkembangan Kopdeskel Merah Putih hingga mampu berdiri sebagai koperasi yang mandiri dan berkelanjutan.
Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Basuki











