BLORA, Harianmuria.com – Angka stunting di Kabupaten Blora mengalami penurunan 0,3 persen per September 2025. Berdasarkan data Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM), persentase stunting turun dari 5,9 persen menjadi 5,6 persen.
Penurunan ini menjadi dorongan bagi Pemkab Blora untuk terus menggencarkan intervensi stunting. Bupati Blora, Arief Rohman, menegaskan komitmen untuk menekan angka stunting dengan memperkuat sinergi antarpemangku kepentingan (stakeholders).
“Alhamdulillah turun. Salah satunya melalui intervensi kepada orang tua agar pemenuhan gizinya tercukupi,” ujar Arief, Kamis, 2 Oktober 2025.
ASN Dilibatkan untuk Dampingi Keluarga
Bupati menambahkan, Aparatur Sipil Negara (ASN) diarahkan untuk mendampingi keluarga yang memiliki anak stunting. Pemeriksaan dan skrining rutin dilakukan untuk mendeteksi masalah gizi sejak dini.
“ASN kami arahkan untuk mendampingi keluarga yang terdapat stunting. Kami juga melakukan skrining rutin untuk memantau kondisi anak,” jelasnya.
Intervensi Dinkesda untuk Anak dan Ibu Hamil
Kepala Dinas Kesehatan Daerah (Dinkesda) Blora, Edi Widayat, menjelaskan bahwa penurunan angka stunting menunjukkan intervensi yang dilakukan berjalan efektif, meskipun masih sedikit.
“September ini turun jadi 5,6 persen menurut data dari e-PPGBM. Ini menunjukkan intervensi yang kami lakukan berproses,” jelas Edi.
Edi menekankan pola asuh dan pemenuhan gizi sebagai faktor utama stunting. Berbagai intervensi dilakukan, termasuk evaluasi berat badan balita, pemberian vitamin, suplemen bagi remaja anemia, serta pendampingan ibu hamil.
“Untuk ibu hamil, kami memberikan arahan pemenuhan gizi yang cukup dan suplemen penambah darah agar mencegah stunting pada bayi,” katanya.
Edukasi Masyarakat Cegah Pernikahan Dini
Selain itu, Dinkesda aktif mensosialisasikan risiko pernikahan dini yang dapat memicu stunting pada bayi. Program edukasi ini ditujukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya kesehatan ibu dan anak.
“Terkait itu, kami sampaikan ke masyarakat agar bisa mencegah rencana pernikahan dini karena hal itu bisa mempengaruhi kondisi bayi,” pungkas Edi.
Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Basuki











