KUDUS, Harianmuria.com — Parade Sewu Kupat Muria merupakan agenda tradisi tahunan di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Tahun 2026, tradisi tersebut akan digelar lebih meriah dibanding sebelumnya.
Ketua Panitia, Suwanto, mengatakan Parade Sewu Kupat Muria 2026 telah disiapkan secara matang oleh panitia bersama berbagai elemen masyarakat di Desa Colo, Kecamatan Dawe.
Kegiatan yang sarat nilai kebersamaan ini dijadwalkan berlangsung pada 27–28 Maret 2026 dengan melibatkan partisipasi luas dari warga dan instansi terkait.
“Parade Sewu Kupat ini adalah pengembangan tradisi yang kami jaga dan lestarikan bersama. Bukan hanya mempertahankan acara tahunan saja, tapi juga nilai-nilai di dalamnya,” ujarnya, Senin, 23 Maret 2026.
Menurutnya, tradisi Sewu Kupat Muria tidak sekadar menjadi agenda seremonial, tetapi menjadi simbol kuat gotong royong masyarakat Desa Colo dalam menjaga warisan budaya leluhur.
“Ini adalah wujud kebersamaan dan gotong royong untuk menjaga budaya yang sudah dilakukan para pendahulu,” katanya.
Dalam konsep yang telah disusun, parade akan menampilkan tandu utama berisi ketupat lepet serta tandu kedua berisi hasil bumi. Selain itu, akan dihadirkan empat gunungan campuran ketupat dan hasil bumi dari empat RW di Desa Colo.
Partisipasi juga datang dari 17 desa se-Kecamatan Dawe yang akan menghadirkan tandu gunungan dengan ukuran sekitar panjang 60 sentimeter, lebar 50 sentimeter, dan tinggi 90 sentimeter.
Setiap tandu akan diiringi maksimal 20 orang dengan mengenakan pakaian adat Nusantara. Peserta kirab juga melibatkan pelajar dari sekolah dan madrasah se-Desa Colo, serta organisasi masyarakat dengan masing-masing sekitar 30 orang peserta.
“Parade kupat ini bukan sekadar acara, tetapi pengingat bahwa budaya mengajarkan kita tentang kebersamaan, gotong royong, dan rasa syukur. Nilai-nilai itu yang ingin terus kami wariskan kepada generasi muda,” jelas Suwanto.
Rangkaian kegiatan akan diawali pada Jumat, 27 Maret 2026 dengan doa bersama (istighasah) yang digelar pukul 18.00–19.00 WIB di Taman Ria Colo. Kegiatan dilanjutkan dengan ziarah panitia serta penyerahan tampah pataka kepada pengurus YM2SM di area Masjid dan Makam Sunan Muria mulai pukul 19.00 WIB hingga selesai.
Sementara itu, puncak acara akan berlangsung pada Sabtu, 28 Maret 2026. Sejak pukul 07.00 WIB, seluruh peserta tandu dan pengiring telah berada di titik kumpul yang ditentukan, yakni di Puri Colo dan Halaman Kediaman Mustiko.
Kegiatan diawali dengan wilujengan di wilayah masing-masing pada pukul 06.00–06.30 WIB, dilanjutkan persiapan panitia hingga pukul 07.00 WIB. Selanjutnya, tandu utama, tandu hasil bumi, serta para pengiring bergerak menuju Area Gentong, dilanjutkan wilujengan bersama serta ziarah ke Makam Sunan Muria.
Memasuki inti acara, pada pukul 07.50–08.00 WIB dilakukan prosesi pemberangkatan tandu menuju lokasi kirab. Seluruh gunungan kupat dan hasil bumi diarak oleh para peserta yang mengenakan busana adat Nusantara, menciptakan suasana semarak khas tradisi.
Selanjutnya pada pukul 08.00–08.15 WIB dilakukan persiapan kirab, sebelum prosesi kirab resmi dimulai pada pukul 08.15–08.30 WIB. Dalam kirab ini, tandu utama, tandu hasil bumi, serta gunungan dari berbagai desa diarak bersama diikuti ratusan pengiring.
Setelah kirab, acara dilanjutkan dengan penyerahan dan pembacaan pataka pada pukul 08.30–08.40 WIB sebagai simbol dimulainya puncak perayaan. Kemudian, pada pukul 08.40–08.50 WIB, Ketua Panitia Suwanto menyampaikan sambutan, disusul sambutan Bupati Kudus Sam’ani Intakoris pada pukul 08.50–09.00 WIB.
Puncak acara berlangsung pada pukul 09.15–09.30 WIB melalui prosesi Grebek Ketupat. Dalam momen ini, masyarakat bersama-sama berebut gunungan ketupat dan hasil bumi sebagai simbol rasa syukur serta harapan akan keberkahan.
Setelah prosesi tersebut, kegiatan dilanjutkan dengan istirahat serta hiburan langgam campursari hingga acara selesai.
Acara ini dijadwalkan akan dihadiri oleh sejumlah pejabat dan tokoh penting, di antaranya Bupati Kudus Sam’ani Intakoris, anggota DPR RI Musthofa, jajaran Forkopincam Dawe, perwakilan Dinas Pariwisata, pemerintah desa, tokoh masyarakat, serta berbagai elemen pemuda.
“Kehadiran para pemangku kepentingan ini diharapkan semakin memperkuat dukungan terhadap pelestarian tradisi Sewu Kupat sebagai warisan budaya yang terus dijaga oleh masyarakat Desa Colo,” pungkasnya.
Jurnalis: Nisa Hafizhotus Syarifa











