KUDUS, Harianmuria.com – Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Dispertan) Kabupaten Kudus menilai sektor budidaya perikanan masih memiliki peluang besar untuk dikembangkan. Tingginya kebutuhan konsumsi ikan di masyarakat dinilai membuka kesempatan usaha yang menjanjikan bagi para pembudidaya.
Kepala Bidang Perikanan Dispertan Kabupaten Kudus, Zaenal Arifin, mengatakan kebutuhan konsumsi ikan di Kudus saat ini mencapai sekitar 280 ton per tahun. Namun, kapasitas produksi ikan budidaya lokal dinilai masih belum mampu memenuhi permintaan tersebut.
“Angka kebutuhan konsumsi dan produksi masih terpaut jauh,” ujarnya, Rabu, 13 Mei 2026.
Menurut Zaenal, keterbatasan produksi lokal membuat Kabupaten Kudus masih bergantung pada pasokan ikan dari sejumlah daerah lain, seperti Pati, Grobogan, dan Jepara.
“Jelas kurang, karena di sini pembudidayanya sedikit,” katanya.
Ia menjelaskan, jumlah pembudidaya ikan di Kabupaten Kudus saat ini tercatat sekitar 286 orang. Mayoritas membudidayakan ikan lele dan nila yang tersebar di wilayah Kecamatan Jekulo, Mejobo, dan Undaan.
Jumlah tersebut dinilai masih sangat kecil dibanding daerah lain yang memiliki ribuan pembudidaya ikan. Karena itu, peluang usaha di sektor perikanan budidaya di Kudus dinilai masih terbuka lebar.
“286 pembudidaya itu masih sedikit, di daerah lain ribuan, jadi potensi untuk jadi pembudidaya sangat besar,” ujarnya.
Zaenal menyebut budidaya ikan lele menjadi salah satu usaha yang relatif mudah dijalankan, terutama bagi pemula. Selain proses pemeliharaannya lebih sederhana, usaha tersebut juga memiliki prospek keuntungan yang cukup menjanjikan.
“Sektor ini masih menjanjikan, penghasilan bisa sampai Rp10 juta per bulan,” tuturnya.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa usaha budidaya perikanan tetap memiliki sejumlah risiko, seperti perubahan cuaca, serangan penyakit ikan, hingga fluktuasi harga pakan.
Untuk itu, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Kudus siap memberikan pendampingan kepada masyarakat yang ingin memulai usaha budidaya ikan agar dapat berkembang secara optimal.
“Risiko usaha tetap ada, akan kami dampingi agar para pemula pembudidaya itu bisa sukses,” pungkasnya.
Jurnalis: Ahmad Abror
Editor: Rosyid











