KUDUS, Harianmuria.com – Tim Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Indonesia Kabupaten Kudus berhasil memerankan cerita teater Gadis Pingitan dengan apik pada Sabtu, 9 Mei 2026.
Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris, yang menonton pertunjukan secara langsung pun menyampaikan apresiasi terhadap kreativitas para guru.
Alur cerita yang menyentuh serta penjiwaan para pemeran, teater tersebut berhasil membawa penonton larut dalam konflik keluarga yang diangkat di atas panggung.
“Sangat luar biasa keren, menjiwai semua, saya sampai ikut larut,” ujarnya, Sabtu, 9 Mei 2026.
Teater yang ditampilkan di auditorium Universitas Muria Kudus (UMK) tersebut mengangkat tema pingitan, sebuah tradisi masyarakat Jawa Tengah menjelang pernikahan. Tradisi pingitan dipercaya sebagai langkah menjaga kehormatan, mempersiapkan diri secara fisik dan mental, serta menghindari hal-hal yang tidak diinginkan sebelum hari pernikahan.
Menurut Sam’ani, budaya pingitan merupakan tradisi luhur yang memiliki nilai baik. Namun, penerapannya perlu menyesuaikan perkembangan zaman agar tidak menimbulkan konflik dalam keluarga.
“Menjaga tapi tidak mengekang. Silakan wanita berkarir, belajar, bekerja, tapi tetap menjaga sopan santun sebagai marwah wanita,” katanya.
Film “Gadis Pingitan” Bedah Stigma Tradisi Pingitan di Masyarakat Kudus Kulon
Ketua Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Indonesia Kudus, Arif Budiman, mengatakan ide pementasan Gadis Pingitan bermula dari gagasan Bupati Kudus yang kemudian dikembangkan melalui proses riset mendalam.
Arif menyebut tim terlebih dahulu melakukan penelitian dan menggali informasi dari para ahli untuk memahami makna tradisi pingitan secara lebih utuh.
“Dalam prosesnya kami melakukan penelitian terlebih dahulu, menemui narasumber (ahli), apa sih pingitan itu,” ujarnya.
Proses persiapan teater dilakukan selama sekitar satu bulan. Selain alur cerita, detail artistik panggung juga dibuat dengan menampilkan nuansa khas Kudus.
“Bisa dilihat setting-nya itu mengangkat khas Kudus, mulai dari undaan di rumah dan lain sebagainya,” katanya.
Seluruh pemeran dalam pementasan tersebut merupakan anggota MGMP Bahasa Indonesia Kudus yang terlibat langsung dalam proses kreatif hingga penampilan di panggung.
“Kebetulan dari anggota MGMP sendiri,” ujarnya.
Melalui pementasa Gadis Pingitan, pihaknya ingin menyampaikan pesan bahwa niat baik dalam keluarga perlu disampaikan dengan cara yang tepat agar tidak memicu konflik akibat ego masing-masing.
“Seperti tadi seorang ayah yang menginginkan yang terbaik untuk anaknya, namun hal itu mendapatkan penolakan karena saling memegang ego masing-masing,” tandasnya.
Jurnalis: Ahmad Abror
Editor: Ulfa











