KENDAL, Harianmuria.com – Ribuan warga memadati pesisir Desa Gempolsewu, Kecamatan Rowosari, Kabupaten Kendal menyaksikan prosesi larung sesaji sedekah laut atau Nyadran pada Jumat, 26 Juni 2026.
Sedekah laut di Gempolsewu merupakan tradisi tahunan masyarakat nelayan yang digelar setiap hari ke sepuluh bulan Muharam atau asyura.
Puncak acara ditandai dengan pelarungan sesaji berupa kepala sapi, aneka jajanan pasar, dan hasil bumi ke tengah laut yang diiringi ratusan kapal nelayan.
Tradisi turun-temurun ini menjadi simbol rasa syukur atas limpahan hasil laut sekaligus doa agar para nelayan selalu diberi keselamatan saat melaut.
Bupati Kendal, Dyah Kartika Permanasari, mengatakan sedekah laut merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat pesisir Desa Gempolsewu. Tradisi ini mencerminkan kearifan lokal serta hubungan harmonis antara manusia dan alam.
“Ini merupakan wujud syukur kepada Allah SWT atas limpahan rezeki dari hasil laut, sekaligus memohon keselamatan bagi para nelayan saat melaut,” ujarnya.
Menurutnya, sedekah laut tidak hanya menjadi upaya melestarikan budaya lokal. Agenda tahunan ini berkembang menjadi ikon wisata Desa Gempolsewu yang memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat.
Berbagai rangkaian kegiatan turut memeriahkan pesta rakyat tersebut, mulai dari pagelaran wayang kulit, kirab budaya, lomba dayung, hingga berbagai hiburan rakyat yang menarik perhatian masyarakat dari berbagai daerah.
“Dampaknya luar biasa karena mampu meningkatkan perekonomian warga sekaligus mendorong perkembangan sektor olahraga dan pariwisata. Semoga ke depan kegiatan ini semakin meriah, direncanakan lebih matang, dan terus berkembang,” ungkapnya.
Bupati juga menyatakan komitmen Pemerintah Kabupaten Kendal untuk mendorong sedekah laut Gempolsewu masuk dalam Kalender Event Nasional (KEN) Kementerian Pariwisata.
“Kami siap mendukung agar ke depan bisa menjadi event tingkat nasional. Kami juga sudah berkomunikasi dengan Kementerian Pariwisata dan akan mengajukan Sedekah Laut Gempolsewu masuk dalam Kalender Event Nasional,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Sedekah Laut, Bambang, menjelaskan bahwa larung sesaji merupakan acara inti dari seluruh rangkaian pesta laut yang memiliki makna mendalam bagi masyarakat nelayan.
“Larung sesaji adalah wujud rasa syukur para nelayan atas kelimpahan hasil laut yang mereka peroleh selama bertahun-tahun mencari nafkah di laut,” ujarnya.
Sesaji berupa kepala sapi, aneka jajanan pasar, dan hasil bumi didoakan bersama sebelum dilarung ke laut. Usai prosesi, para nelayan mengambil air di sekitar lokasi sesaji yang telah dilarung untuk kemudian dipercikkan ke kapal masing-masing sebagai simbol harapan memperoleh keselamatan dan rezeki yang melimpah.
“Kami berharap tradisi Sedekah Laut Gempolsewu terus dilestarikan sebagai warisan budaya sekaligus semakin berkembang menjadi agenda wisata unggulan yang mampu menarik lebih banyak wisatawan setiap tahunnya,” pungkasnya.
Jurnalis: Anik Kustiani
Editor: Ulfa











