KENDAL, Harianmuria.com – Banjir yang melanda sejumlah wilayah Kabupaten Kendal pada awal Januari 2026 juga berdampak pada sektor pertanian. Ribuan hektare lahan padi terendam air dan terancam gagal panen.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kabupaten Kendal, Pandu Rapringat Rogojati, menjelaskan bahwa banjir merendam lahan sawah produktif. Sebagian besar lahan baru memasuki masa tanam sehingga genangan banjir dikhawatirkan menggangggu pertumbuhan padi.
“Total ada 1.444 hektare lahan sawah yang baru ditanami padi dan kini terendam banjir di berbagai kecamatan,” kata Pandu saat dikonfirmasi pada Selasa, 20 Januari 2026.
Lahan padi di Kendal yang terendam banjir tersebar di berbagai kecamatan. Di Kecamatan Patebon141 hektare, Kecamatan Kaliwungu 68 hektare, Kecamatan Cepiring 20 hektare, Kecamatan Brangsong 407 hektare.
Kemudian di Kecamatan Kendal 74 hektare, Kecamatan Rowosari 512 hektare, Kecamatan Weleri 13 hektare, Kecamatan Ngampel 177 hektare, serta Kecamatan Pegandon 32 hektare.
Pandu menjelaskan bahwa padi yang terlalu lama terendam banjir berisiko mengalami gangguan pertumbuhan hingga risiko mati.
DPP Kendal terus memperbarui pendataan dan koordinasi dengan intansi terkait untuk memantau perkembangan kondisi lahan dan menyiapkan langkah penanganan lanjutan.
“Harapannya genangan bisa segera surut agar tanaman padi masih bisa diselamatkan,” imbuhnya.
Seorang petani di Desa Brangsong, Susanto, mengatakan Desa Brangsong menjadi salah satu wilayah yang terdampak cukup serius akibat banjir. Sebagian besar sawah terendam air dan rata-rata sudah memasuki masa tanam.
“Bibit padi baru sebulanan kita tanam tapi malah ada banjir,” ungkapnya.
Ia mengaku tidak memiliki banyak pilihan untuk menyelamatkan tanaman padi. Pasalnya, padi sudah terlanjur ditanam sebelum banjir melanda wilayah tersebut.
“Kita hanya bisa menunggu air surut dan berharap tanaman padi tidak mati akibat terendam terlalu lama,” pungkasnya.
Jurnalis: Anik Kustiani
Editor: Ulfa











