• Peta Situs
  • Kerjasama & Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kabar Hari Ini
Selasa, Agustus 18, 2026
harianmuria
  • Home
  • Nasional
  • Berita Daerah
    • Blora
    • Rembang
    • Grobogan
    • Pati
    • Jepara
    • Kendal
    • Demak
    • Kudus
    • Semarang
  • Artikel
    • Biografi
    • Kesehatan
    • Kuliner
    • Lifestyle
    • Parenting
    • Silabus & RPP
    • Tips
    • Travelling
  • Box Redaksi
No Result
View All Result
harianmuria
  • Home
  • Nasional
  • Berita Daerah
    • Blora
    • Rembang
    • Grobogan
    • Pati
    • Jepara
    • Kendal
    • Demak
    • Kudus
    • Semarang
  • Artikel
    • Biografi
    • Kesehatan
    • Kuliner
    • Lifestyle
    • Parenting
    • Silabus & RPP
    • Tips
    • Travelling
  • Box Redaksi
No Result
View All Result
harianmuria
No Result
View All Result

Ngaji NgAllah Suluk Maleman: Kedaulatan Pangan dan Kesadaran Budaya Adalah Kekuatan Bangsa

Sekar Sari by Sekar Sari
19 September 2022
in Kajian Agama
68 3
Anis Sholeh Ba’asyin dan Dr. Bambang Sadono dalam Ngaji NgAllah Suluk Maleman ‘Dan Allah Pun Terharu…’ yang digelar Sabtu (17/9) kemarin. (Dokumen Pribadi/Harianmuria.com)

Anis Sholeh Ba’asyin dan Dr. Bambang Sadono dalam Ngaji NgAllah Suluk Maleman ‘Dan Allah Pun Terharu…’ yang digelar Sabtu (17/9) kemarin. (Dokumen Pribadi/Harianmuria.com)

548
VIEWS
Tanya ChatGPTShare to FacebookWhatsAppTelegram

PATI, Harianmuria.com – Masalah kebangsaan kembali dibahas dalam Ngaji NgAllah Suluk Maleman pada Sabtu (17/9) malam. Forum ngaji budaya yang telah digelar secara offline tersebut  dibahas tentang pentingnya posisi kedaulatan pangan serta kesadaran budaya sebagai sumber utama kekuatan bangsa.

Bambang Sadono, seorang tokoh yang malam itu menjadi narasumber dalam Suluk Maleman menyebutkan, bahwa negara-negara besar bukanlah yang berbasis pada industri melainkan yang menitik beratkan pada sektor agraria. Kenyataannya, negara-negara yang telah mampu berdaulat dalam sektor pangan sajalah yang akan menjadi negara kuat.

“Kita sering terkecoh dengan sebutan yang disematkan pada mereka sebagai negara industri. Amerika misalnya, mereka justru memiliki lahan yang sangat luas untuk pertanian. Dulu saat kain berasal dari kapas mereka punya lahan kapas yang luas. Mereka juga punya kebun apel, gandum dan lain sebagainya. Bahkan, saat ini pasokan kedelai terbesar juga datang dari Amerika,” terangnya.

Ironisnya, sebagai bangsa pengonsumsi tempe, Indonesia justru harus mengimpor kedelai sebagai bahan pokoknya. Begitu pula untuk tepung, Indonesia adalah bangsa pengonsumsi mie terbesar kedua di dunia setelah China. Namun keberadaan gandum di negeri ini seolah tidak perna cukup hingga memilih untuk impor.

“Sehingga saat terjadi konflik Ukraina dan Rusia malah kita yang cukup kelimpungan. Banyak lagi contohnya. Gula misalnya,saat ini kita masih mengandalkan impor. Atau, yang terasa ironis, meski punya lahan sawit begitu besar tetap saja kita mengalami krisis minyak goreng,” sesalnya.

Selain kedaulatan pangan, Bambang Sadono juga menegaskan tentang pentingnya kebudayaan sebagai landasan sebuah peradaban. Bambang menyebut, Jepang sebagai contoh masyarakat yang memiliki basis kebudayaan kuat. Meski rata-rata orang Jepang cukup kaya, namun hampir tidak ada yang membeli mobil produk dari luar, baik Amerika maupun Eropa,

“Padahal tidak ada larangan untuk membelinya. Itu terjadi karena mereka punya ikatan yang kuat pada produk dalam negerinya sendiri,” begitu tambahnya.

Belum lagi kuatnya budaya malu di Jepang. Saat diisukan terlibat korupsi saja, mereka akan segera membuat pelakunya mundur dari jabatannya.

“Bandingkan disini. Sudah dipermalukan pun tetap tidak mau mundur,” tambahnya.

Untuk sistem politiknya, demikian menurut Bambang, di Jepang dan di banyak negara lain, ketua partai dipilih oleh anggota parlemen. Ini berangkat dari kesadaran bahwa anggota parlemen  yang nota bene dipilih oleh rakyat sekaligus pembawa aspirasi mereka. Karena itu tak mengherankan bila di banyak negara yang dianggap maju, nama ketua partai malah tidak banyak dikenal. Sebaliknya, yang dikenal adalah nama-nama anggota parlemen.

“Berbeda dengan disini. Justru ketua partailah yang terkenal. Dan bukan hanya terkenal, tapi juga seolah diposisikan sebagai pihak yang  paling menentukan segalanya. Begitu berkuasanya, sehingga tak jarang anak-anaknya sendiri dipilih untuk meneruskan,” sindir Bambang dengan tertawa.

Menurut sebuah teori, begitu ungkapnya, kebudayaan adalah dasar atau landasan bangunan kemasyarakatan. Kebudayaan itu sendiri ditentukan oleh agama, adat istiadat, serta etika. Kebudayaan inilah yang kemudian akan tercermin secara sosial, ekonomi dan politik.

“Ketika etikanya saja sudah tidak beres, kehidupan sosialnya pasti tidak beres,” begitu tambahnya.

Bambang pun mengingatkan betapa dulu para pejuang kemerdekaan kita memiliki nilai-nilai mulia yang diperjuangkan. Bahkan meski nilai itu berbeda-beda, baik agama, pendidikan, maupun ideologi, namun kesemuanya menyatu demi Indonesia.

“Kini kita banyak kehilangan nilai-nilai tersebut. Kita sekarang tampaknya malah sudah membalik urutan bangunan kemasyarakatan kita, dimana posisi paling atas adalah kekuatan ekonomi, baru setelah itu politik, sosial dan budaya. Jadi saat ini kekuatan ekonomilah yang menentukan segalannya, sementara kekuatan budaya yang seharusnya menentukan justru menjadi yang paling tidak berdaya.

Sementara itu menurut penggagas Suluk Maleman Anis Sholeh Ba’asyin, kita sebenarnya memiliki basis kebudayaan yang kuat. Kita memiliki mur’uah, harga diri yang kuat. Hanya saja seiring jalannya waktu, banyak nilai yang terkikis.

“Sebagai contoh, kita bisa sebut tokoh seperti Kalinyamat di Jepara. Meski perempuan namun mampu menjadi panglima perang dengan membawa 3 ribu kapal untuk menyerang Portugis. Itu semua bisa terjadi karena pasti ada nilai-nilai tentang penjagaan mu’ruah yang luas dipegang oleh masyarakat, sehingga dengan cara yang tepat mereka mampu untuk dimobilisasi ketika ada ancaman terhadap nilai tersebut,” demikian tegasnya.

“Sebelum itu juga ada juga kerajaan Kalingga dengan Ratu Shima-nya. Yang sering kita lupa, salah satu nilai yang menonjol pada waktu itu adalah larangan untuk mencuri atau korupsi. Bukan hanya mengambil, tapi konon sekadar menyentuh atau melompati barang yang jatuh di jalan saja akan dihukum potong tangan atau kaki. Bahkan ada cerita, anak Ratu Shima sendiri harus dipoting kakinya karena melompati barang hilang di jalan.”

“Pertanyaannya, bagaimana nilai-nilai mulia ini akhirnya terkikis dan hilang? Hari ini bangsa kita justru menunjukkan perilaku yang buruk terkait hal-hal tersebut?” sambung Anis.

Dirinya pun lantas mencoba memahami hal tersebut dengan pendekatan teori yang menyebut bahwa bangunan peradaban hampir selalu terbentuk dari lima unsur dasar. Yakni struktur, sistem, lembaga, norma dan yang paling dasar adalah apa yang disebut sebagai mental model. Dari apa yang disebut sebagai mental model yang berkembang secara personal inilah kemudian akan terbentuk bangunan-bangunan di atasnya.

“Norma itu nantinya akan membentuk lembaga. Dari lembaga itu akan melahirkan sistem hingga akhirnya nantinya membentuk struktur. Jadi kalau mental model yang menjadi landasannya sudah bermasalah, tentu akan berpengaruh pada norma, lembaga, sistem dan strukturnya,” demikian tambahnya

Berkait dengan mental model yang cenderung personal ini, Anis mengaku tertarik pada surat Al A’raf ayat 179 dimana disebutkan bahwa neraka jahanam akan banyak diisi oleh jin dan manusia yang tidak menggunakan hati untuk memahami, mata untuk melihat dan telinga untuk mendengarkan.

“Oleh Al Qur’an mereka disebut seperti ternak bahkan lebih buruk lagi. Saya jadi berfikir kenapa kok dipadankan dengan ternak dan bukan hewan? Jawabannya adalah: ternak adalah hewan yang diambil dari lingkungan dan kebiasaannya; lantas dibudi-dayakan agar sesuai dengan kebutuhan manusia. Bukankah ternak itu hewan yang dibudidayakan dengan kebiasaan-kebiasaan baru, bukan untuk kepentingannya tapi demi kepentingan manusia?” lanjut Anis.

“Membaca peringatan tegas Al Qur’an tersebut, mestinya kita harus selalu menggunakan hati untuk memahami kebenaran, mata untuk jernih melihat kenyataan, dan telinga untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya. Bila tidak, kita akan jauh lebih buruk dari ternak, karena hanya berpikir dan bertindak berdasar arahan para pemegang kekuasaan,” jelasnya.

“Dalam kaitan ini, tampak jelas bahwa Al Qur’an memosisikan kedaulatan manusia sebagai dasar atau mental model membangun peradaban. Manusia diminta untuk selalu dalam kondisi sadar dalam mengelola pikiran dan tindakannya,” lanjutnya.

Menurut Anis, ayat 179 surat Al A’raf di atas terhubung dengan ayat 36 surat Al Isra’, dimana disebutkan bahwa manusia tidak boleh mengikuti sesuatu yang dia tak punya ilmu tentangnya; karena pendengaran, penglihatan dan hati akan diminta pertanggung-jawaban. Kedua ayat ini sama-sama menyebut hati, penglihatan dan pendengaran sebagai kuncinya. Menurut Anis, penjagaan terhadap ketiga hal inilah yang bisa menjadi sumber lahirnya mental model peradaban yang sehat.

“Bisa diperkirakan bahwa pengikisan atau hancurnya suatu peradaban dimulai dari terdistorsinya ketiga sumber metal model ini. Apalagi di masa kini, di era carut marut medsos seperti saat ini, dimana dengan gampang orang diombang-ambing kesana kemari, di adu-domba begitu saja. Kalau boleh jujur, dalam hal ini kita benar-benar sudah diperlakukan dan memperlakukan diri sendiri sebagai ternak,” tegasnya.

Topik yang menggelitik ini membuat suasana ngaji yang dihadiri ratusan orang, baik langsung di Rumah Adab Indonesia Mulia mau pun lewat live streaming, tersebut terasa hidup. Apalagi diselingi dengan penampilan Sampak GusUran dengan komposisi musiknya. (Harianmuria.com)

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari harianmuria.com
Tags: Anis Sholeh Ba’asyinInfo PatiNgaji NgAllah Suluk Malemanpati
SummarizeShare40SendShare
Previous Post

Jangan Anggap Remeh Stunting, Yuk Ketahui Langkah Pencegahannya

Next Post

Menengok Museum Syekh Jangkung Sebagai Saksi Sejarah Dakwah Mbah Saridin

Sekar Sari

Sekar Sari

Berita Terkait

Upacara HUT ke-81 RI, DPRD Pati Ajak Jaga Semangat Perjuangan

Upacara HUT ke-81 RI, DPRD Pati Ajak Jaga Semangat Perjuangan

by ulfa puspa
17 Agustus 2026
512

PATI, Harianmuria.com – Ketua DPRD Kabupaten Pati, Ali Badrudin, mengajak masyarakat melanjutkan perjuangan bangsa. Pesan itu disampaikan usai upacara peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia di Alun-Alun Simpang Lima...

KUA PPAS 2027 Disetujui, Jajaran DPRD Pati Kawal Pelaksanaan APBD Tepat Sasaran

KUA PPAS 2027 Disetujui, Jajaran DPRD Pati Kawal Pelaksanaan APBD Tepat Sasaran

by ulfa puspa
17 Agustus 2026
516

PATI, Harianmuria.com – Jajaran DPRD Kabupaten Pati akan terus mengawal pelaksanaan APBD agar sesuai kebutuhan masyarakat seiring Kebijakan Umum Anggaran (KUA) serta Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS)...

HUT ke-81 RI, Ketua DPRD Pati Ajak Masyarakat Perkuat Nasionalisme

HUT ke-81 RI, Ketua DPRD Pati Ajak Masyarakat Perkuat Nasionalisme

by ulfa puspa
17 Agustus 2026
512

PATI, Harianmuria.com — Ketua DPRD Kabupaten Pati, Ali Badrudin, mengajak memperkuat rasa nasionalisme serta mengisi kemerdekaan dengan kegiatan-kegiatan yang positif dan bermanfaat. Hal tersebut disampaikan usai mengikuti kegiatan...

Ditanya Soal Mahar Seleksi Perangkat Desa, Ketua DPRD Pati: Saya Tidak Memerintahkan

Ditanya Soal Mahar Seleksi Perangkat Desa, Ketua DPRD Pati: Saya Tidak Memerintahkan

by ulfa puspa
15 Agustus 2026
525

PATI, Harianmuria.com – Sidang kasus dugaan korupsi pengisian perangkat desa di Kabupaten Pati terus bergulir. Pada Rabu, 12 Agustus 2026, saksi menyebut nama Ketua DPRD Pati Ali Badrudin...

Load More

BERITA UTAMA

Merah Putih Berkibar di Bawah Laut Pulau Gede Rembang Semarakkan HUT ke-81 RI

Merah Putih Berkibar di Bawah Laut Pulau Gede Rembang Semarakkan HUT ke-81 RI

17 Agustus 2026
516
Bus Trans Jateng Koridor Magelang-Temanggung Ditarget Beroperasi 2027

Bus Trans Jateng Koridor Magelang-Temanggung Ditarget Beroperasi 2027

16 Agustus 2026
530
Para siswa SD Negeri Terpencil Bainaa Barat di Desa Bainaa Barat, Kecamatan Tinombo, Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah berdiri di atas Jembatan Garuda yang selesai dibangun. (Istimewa)

Jembatan Garuda Bainaa Barat Selesai, Siswa SD Terpencil Tak Lagi Seberangi Sungai untuk Sekolah

14 Agustus 2026
530
KUA-PPAS 2027 Disepakati, DPRD Kudus Kawal Penggunaan APBD Sesuai Aspirasi Masyarakat

KUA-PPAS 2027 Disepakati, DPRD Kudus Kawal Penggunaan APBD Sesuai Aspirasi Masyarakat

14 Agustus 2026
530

TRENDING HARI INI

  • HUT ke-81 RI, Bupati Kendal Ajak Masyarakat Gotong Royong Bangun Negeri

    HUT ke-81 RI, Bupati Kendal Ajak Masyarakat Gotong Royong Bangun Negeri

    102 shares
    Share 41 Tweet 26
  • Anak PMI Asal Gresik Jadi Paskibraka KBRI Kuala Lumpur, Titip Harapan untuk Pendidikan

    102 shares
    Share 41 Tweet 26
  • Karantina Jawa Tengah Gaungkan Semangat Kemerdekaan untuk Perkuat Kedaulatan Hayati

    94 shares
    Share 38 Tweet 24
  • 76 Warga Binaan Rutan Blora Terima Remisi HUT ke-81 RI, 2 Langsung Bebas

    93 shares
    Share 37 Tweet 23
  • Gubernur Anwar Hafid Minta Forum Pemuda Sulteng Jadi Motor Pembangunan Daerah

    95 shares
    Share 38 Tweet 24
  • HUT ke-81 RI, Wali Kota Semarang Minta Semangat Kemerdekaan Tak Berhenti di Seremoni

    93 shares
    Share 37 Tweet 23
  • Merah Putih Berkibar, Veteran Asal Jepara Kenang Kembali Pengabdian di Timor Timur

    93 shares
    Share 37 Tweet 23
Harian Muria

Harian Muria Merupakan Media Online Tersertifikasi Dewan Pers Dengan Nomer 1287/DP-VERIFIKASI/K/X/2024

Penerbit :
PT. Mediatama Anugrah Pers
SK. Kemenkumham RI Nomor : AHU-0008754.AH.01.01.TAHUN 2023

PILIHAN EDITOR

Pada Hari HAM Sedunia 10 Desember, nasib 400 warga Indonesia masih menggantung karena status tersangka yang tak kunjung disidangkan.

Hari HAM Sedunia, 400 Orang Nasibnya Digantung

10 Desember 2025
548
ILUSTRASI: Penampakan Masjid Jami' Kajen yang menyimpan banyak peninggalan dan ajaran Syekh Ahmad Mutamakkin. (Instagram @basitagung/Harianmuria.com)

Menelusuri Sejarah dan Keunikan Masjid Jami’ Kajen yang Lekat Ajaran Syekh Ahmad Mutamakkin

8 September 2022
995

IKUTI SOSMED KAMI

  • Peta Situs
  • Box Redaksi
  • Kerjasama & Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

© 2026 Harian Muria - Portal Berita Muria Raya dan Sekitarnya

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Berita Daerah
    • Blora
    • Demak
    • Grobogan
    • Jepara
    • Kendal
    • Kudus
    • Pati
    • Rembang
    • Semarang
  • Artikel
    • Biografi
    • Kesehatan
    • Kuliner
    • Lifestyle
    • Parenting
    • Silabus & RPP
    • Tips
    • Travelling
  • Box Redaksi
  • Kerjasama & Iklan

© 2026 Harian Muria - Portal Berita Muria Raya dan Sekitarnya