Harianmuria.com – Maulid Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada bulan Rabiul Awal diperingati oleh sebagian umat muslim di dunia, tidak terkecuali Indonesia. Saat peringatan maulid Nabi, umat muslim akan membaca manakib Nabi SAW yang terdapat dalam sejumlah kitab seperti Barzanji, Simthud Duror, Diba’, Syaroful Anam, Burdah, dan lainnya.
Dalam menyambut bulan kelahiran Nabi, umat muslim di Indonesia bahkan mengadakan berbagai perayaan yang turun-temurun hingga membentuk sebuah tradisi. Diantaranya tradisi Barikan dan tradisi Meron di Kabupaten Pati, Grebeg Maulid di Keraton Yogyakarta, Amyang Maulid di Kabupaten Kudus, serta Sekaten di Solo.
Sejarah Maulid Nabi Muhammad SAW
Dikutip dari laman Basznas.go.id pada pendapat Ahmad Tsauri dalam bukunya “Sejarah Maulid Nabi”yang mengacu kitab Wafa’ul Wafa bi Akhbar Darul Mustafa, disebutkan bahwa penentuan awal mula peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW menemui banyak versi. Ada yang berpendapat bahawa peringatan Maulid Nabi pertama kali dilakukan saat Dinasti Fatimiyah berkuasa. Namun ada juga yang berpendapat peringatan Maulid Nabi dimulai sejak masa Salahudin Al-Ayyubi.
Dijelaskan juga didalamnya, Khaizuran atau Juraisyiyah binti ‘Atha (170 H/786 M) yang merupakan istri Khalifah al-Mahdi bin Mansur al-Abbas juga ibu dari Amirul Mukminin Musa al-Hadi dan al-Rasyid datang ke Madinah. Khaizuran memerintahkan kepada penduduk Madinah untuk menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Nabawi.
Khaizuran kemudian pergi ke Mekkah dan memerintahkan penduduk Mekkah untuk mengadakan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Peringatan Maulid Nabi SAW digelar agar umat muslim meneladani ajaran dan menginspirasi kepemimpinan Nabi Muhammad SAW. Sebagian besar ulama meyakini Nabi Muhammad SAW lahir pada tanggal 12 Rabiul Awaal tahun Gajah atau 570 M. Sehingga pada tanggal tersebut kemudian diperingati sebagai Maulid Nabi SAW.
Rabiul Awal Bulan Maulid Nabi, Inilah Sederet Amalan yang Dianjurkan
Perbedaan Pendapat Perayaan Maulid SAW
Mengacu pada tulisan Prof Dr Ajid Thohir yang menyadur kitab Haulal Ihtifal bi Dzikri Maulid Nabiyyi al-Syarif karya As-Sayyid Muhammad bin ‘Alawy al Maliki al-Husainy, tidak sedikit yang memberikan tuduhan kepada umat muslm yang merayakan Maulid Nabi dengan sebutan sesat, bid’ah, syirik, bahkan kemunkaran.
Memperingati Maulid Nabi secara hakikat mengenalkan sosok Nabi Muhammad dalam perjalanannya menjalaskan tugas kenabian yang dipenuhi berbagai macam ujian dan cobaan. Melalui Maulid Nabi, umat muslim dapat mengenal sejarah turunnya a-Qur’an, Isra Mi’raj, hijrah, sampai peperangan bersama para Shahabat.
Merayakan Maulid Nabi Mauhammad adalah merasakan bahagia. Dasar perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW dengan suka cita disebutkan dalam ayat al-Qu’an (QS Ali Imran: 146) yang artinya “Sungguh Allah telah memberikan anugerah pada orang-orang beriman seorang Rasul yang diutus dari jenis mereka”.
Selain itu, perintah untuk menyambut Maulid Nabi SAW secara bahagia juga disebutkan dalam QS al-Anbiya: 107.
Bahkan Nabi Muhammad sendiri respek dengan hari kelahirannya sendiri. Hal ini disebutkan dalam Hadist Shahih Muslim bab “Shaum”.
7 Tradisi Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Jawa Tengah
Dari Abu Qatadah, ketika Rasullah SAW ditanya saat berpuasa pada hari Senin, beliau menjawab: “Pada hari ini aku dilahirkan dan pada hari ini pula aku diturunkan di bumi”.
Sedangkan dalam perayaan Maulid Nabi selalu ada bacaan sholawat, pujian, dan sanjungan serta penghormatan atas segara sifat-sifatnya. Baik kemukjizatan, kesabaran, dan kesejukan dalam membina umatnya.
Dengan demikian, hukum melaksanakan Maulid Nabi Muhammad SAW dipandang sebagai kebaikan. Sebagaimana hadist riwayat Ahmad dari Ibnu Ma’ud: “Segala sesuatu yang dipandang baik oleh orang-orang Islam, maka Allah memandangnya baik, sebaliknya jika dipandang jeleng begitupula Allah akan memandangnya jelek”. (Lingkar Network | Harianmuria.com)











