JEPARA, Harianmuria.com – Pemerintah Kabupaten Jepara menggandeng kader Tim Penggerak PKK menjadi garda dalam deteksi dini tuberkulosis (TB) di lingkungan masyarakat.
Untuk itu kader PKK mendapatkan pembekalan dan sosialisasi pencegahan dan penanggulangan TBC yang digelar TP PKK Kabupaten Jepara melalui Pokja IV di Pendopo Kartini Jepara pada Kamis, 7 Mei 2026.
Peserta menerima materi mengenai gejala TBC, pola penularan, serta pentingnya kepatuhan pasien menjalani pengobatan hingga tuntas. Para kader juga didorong aktif melakukan deteksi dini di lingkungan masing-masing.
Ketua I TP PKK Kabupaten Jepara, Syahnez Danniar Yusuf (Inez), mengatakan bahwa TBC masih menjadi persoalan serius dalam bidang kesehatan masyarakat. Karena itu, keterlibatan kader dinilai penting untuk membantu mencegah penyebaran penyakit tersebut.
“TBC dapat disembuhkan asalkan pasien disiplin menjalani pengobatan sampai selesai,” katanya.
Inez menjelaskan, pasien TBC harus rutin mengonsumsi obat selama enam hingga delapan bulan tanpa terputus. Dalam proses tersebut, kader PKK diharapkan hadir sebagai pendamping sekaligus pemberi motivasi bagi pasien.
Menurutnya, masyarakat juga perlu menghilangkan stigma terhadap penderita TBC agar penanganan dapat berjalan lebih baik.
“TBC bukan hanya persoalan medis, tetapi juga persoalan kemanusiaan. Jangan ada stigma ataupun rasa malu terhadap penderita,” ujarnya.
Sementara itu, narasumber dari Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara, Agus Carda, menyampaikan bahwa pemerintah menargetkan eliminasi TBC pada tahun 2030. Salah satu upaya yang dilakukan yakni meningkatkan penemuan kasus dan keberhasilan pengobatan pasien.
Pemkab Jepara terus memperkuat pengendalian TBC melalui evaluasi berkala dan pemantauan indikator program hingga tingkat desa.
“Kasus TBC harus ditemukan sedini mungkin agar segera diobati dan tidak menularkan kepada orang lain,” tuturnya.
Narasumber lainnya dari Koalisi Organisasi Profesi Indonesia untuk Penanggulangan Tuberkulosis, dr. Tri Adi Kurniawan, menjelaskan bahwa TBC merupakan penyakit infeksi yang menular melalui percikan dahak saat penderita batuk, bersin, maupun berbicara.
Menurutnya, kader memiliki peran strategis dalam edukasi masyarakat, deteksi dini, hingga pendampingan pasien agar tidak menghentikan pengobatan sebelum dinyatakan sembuh.
“Pasien yang putus berobat berisiko mengalami resistensi obat sehingga proses penyembuhannya menjadi lebih sulit,” jelasnya.
Jurnalis: Tomi Budianto
Editor: Ulfa











