DEMAK, Harianmuria.com – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Demak mencatat sebagian besar bank sampah yang telah terbentuk di wilayah setempat belum beroperasi secara optimal. Dari total 254 bank sampah yang terdaftar, hanya sekitar 30 persen yang masih aktif menjalankan kegiatan pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Kepala DLH Kabupaten Demak, Mulyanto, mengatakan kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam upaya pengurangan sampah dari sumbernya. Oleh karena itu, pihaknya terus melakukan pembinaan dan pendampingan untuk mengaktifkan kembali bank sampah yang tidak lagi beroperasi.
“Saat ini bank sampah yang sudah terdaftar di kami ada 254 unit. Namun yang aktif baru sekitar 30 persen,” kata Mulyanto, Senin, 22 Juni 2026.
Mulyanto mengatakan pihaknya menggandeng bank sampah induk untuk memperkuat pembinaan di tingkat masyarakat. Menurutnya, saat ini terdapat dua bank sampah induk yang beroperasi di Kabupaten Demak, yakni di wilayah Katonsari dan Desa Batursari.
Keberadaan bank sampah induk dinilai penting karena berperan dalam memberikan pendampingan, edukasi, serta mendorong terbentuknya kelompok pengelola sampah baru di desa-desa yang belum memiliki bank sampah.
“Saat ini terdapat dua bank sampah induk di Kabupaten Demak, di Katonsari dan Desa Batursari. Bank sampah induk membantu dalam melakukan pembinaan kepada bank-bank sampah lainnya. Selain itu, mereka juga ikut memberikan sosialisasi untuk mendorong pembentukan bank sampah baru,” jelasnya.
Selain membentuk bank sampah baru, DLH juga berupaya menghidupkan kembali unit-unit yang sudah tidak aktif melalui kegiatan monitoring dan sosialisasi secara berkala.
“Jika ada desa yang belum memiliki bank sampah, kami datangi dan kami sosialisasikan. Harapannya bisa terbentuk bank sampah baru. Begitu juga bank sampah yang sudah tidak aktif, kami berikan pendampingan agar bisa aktif kembali,” sambungnya.
Mulyanto menjelaskan, sebagian besar bank sampah yang aktif saat ini masih berfokus pada kegiatan pemilahan sampah sebelum dijual kepada pengepul. Sementara kegiatan pengolahan sampah menjadi produk bernilai tambah masih sangat terbatas.
“Bank sampah di Demak saat ini baru ke pemilahan untuk dibawa ke pengepul. Kalau untuk pengolahan masih belum,” katanya.
Ia mengungkapkan, sebelumnya pernah ada upaya pemanfaatan sampah plastik menjadi paving block. Namun program tersebut tidak berlanjut karena terkendala pemasaran dan masih adanya keraguan masyarakat terhadap kualitas produk yang dihasilkan.
“Dulu pernah ada pengolahan sampah plastik diolah menjadi paving block, tapi ada beberapa kendala sehingga itu berhenti. Pertama, dari pembelinya kurang, kedua, masyarakat yang mendukung dengan yang tidak malah banyak yang tidak karena paving pakai plastik itu dinilai nggak efisien, ada yang bilang bahan plastik kalau kena hujan atau banjir ngambang, karena terbuat dari plastik,” ungkapnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa tujuan utama pengolahan sampah bukan semata menghasilkan produk, tetapi juga mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA).
“Tapi kan padahal tujuan utama pengolahan tersebut adalah mengurangi volume sampah plastik melalui proses daur ulang sehingga memiliki nilai guna dan nilai ekonomi,” sambungnya.
Menurut Mulyanto, keberlangsungan bank sampah sangat bergantung pada partisipasi masyarakat karena tidak ada alokasi anggaran khusus yang diberikan untuk operasional kelompok tersebut.
“Bank sampah lebih mengandalkan kesadaran masyarakat. Sesuai amanat undang-undang, pengurangan sampah harus dilakukan sejak dari sumbernya, baik di lingkungan rumah tangga, tempat usaha, maupun industri melalui pemilahan dan pengolahan,” jelasnya.
Ia menambahkan, pengelolaan sampah dari sumber dapat secara signifikan mengurangi jumlah sampah yang masuk ke TPA. Sampah organik dapat diolah menjadi kompos, sedangkan sampah anorganik yang masih bernilai ekonomi dapat dijual maupun didaur ulang.
“Kalau dari 10 kilogram sampah dilakukan pemilahan dan pengolahan, maka yang akhirnya menjadi residu dan harus dibuang ke TPA bisa tinggal sekitar 3 kilogram. Dengan begitu umur TPA akan lebih panjang dan beban lingkungan juga berkurang,” pungkasnya.
Jurnalis: M. Burhanuddin Aslam
Editor: Rosyid











