BLORA, Harianmuria.com – Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Kabupaten Blora bakal menggelar aksi damai menagih janji operasional Pabrik Gula PT Gendhis Multi Manis (GMM) Bulog untuk muism giling tahun 2026.
APTRI Blora sempat menemui Bupati Arief Rohman pada Jumat, 27 Maret 2026 guna menyampaikan hasil rapat konsolidasi terkait janji musim giling 2026 di Bumi Indah Flora, samping Pabrik Gula PT GMM Bulog, Tinapan, Kecamatan Todanan.
Ketua APTRI Blora, Sunoto, mengatakan ada sejumlah poin yang disampaikan, di antaranya para petani tebu serta berbagai elemen masyarakat menagih janji Direktur Utama Bulog Pusat yang berkomitmen mengoperasionalkan kembali PT GMM untuk musim giling 2026.
Boiler Rusak dan Target Meleset, PT GMM Blora Catat Kerugian Rp134 Miliar di 2025
Janji tersebut mencakup penggantian dua buah boiler yang rusak berat serta reformasi total manajemen internal PT GMM Bulog.
“Mengingat hingga saat ini belum ada kejelasan maupun tanda-tanda perbaikan fisik, para petani sepakat akan menggelar aksi damai,” kata Sunoto.
Selain itu, APTRI memberikan opsi apabila Bulog merasa tidak sanggup mengelola PT GMM, petani meminta agar pengelolaan diserahkan kepada pihak swasta.
Menurut Sunoto, pilihan tersebut demi nasib para petani tebu tidak terus menjadi korban ketidakpastian manajemen.
Rugikan Petani Tebu, APTRI Blora Protes Keputusan PT GMM Tutup Musim Giling
APTRI Blora juga berencana menggelar aksi damai pada Kamis, 2 April 2026 di Alun-alun Blora untuk menagih janji tersebut.
Sunoto selaku penanggung jawab aksi menyatakan kegiatan akan dilakukan secara santun namun tetap mengedepankan semangat perjuangan dan kekeluargaan.
Rencananya aksi damai digelar pukul 09.30 WIB dengan massa sekitar 5.000 terdiri dari berbagai elemen masyarakat.
Aksi ini bertujuan menyuarakan penderitaan petani agar didengar oleh Presiden Prabowo Subianto demi mendukung swasembada gula tahun 2027.
Menurutnya, aksi damai itu merupakan respons trauma kerugian pada musim giling tahun 2025. Pasalnya terjadi penghentian giling secara sepihak oleh manajemen PT GMM akibat kerusakan boiler yang menyebabkan kerugian petani mencapai Rp75 miliar.
Wahyuningsih, mantan Kabag Tanaman PT GMM, juga menyatakan keheranannya (gumun) karena meski perwakilan petani sudah berulang kali mengadu hingga ke Jakarta, belum ada solusi nyata.
Jurnalis: Lingkarjateng Group Network











