BLORA, Harianmuria.com – Warga Dukuh Gunungrowo, Desa Sambongrejo, Kecamatan Tunjungan, Kabupaten Blora keluhkan kerusakan jalan desa sekitar 1 kilometer yang terdampak mobilitas kendaraan berat.
Jalan Dukuh Gunungrowo itu dilewati kendaraan berat dengan tonase besar saat ada proyek peningkatan Jalan Japah-Tunjungan pada tahun 2025.
Warga setempat, Uliyati, mengatakan kerusakan jalan terjadi sudah lama. Namun, diperparah karena kendaraan yang mengangkut material saat perbaikan jalan Japah-Tunjungan.
“Saat perbaikan itu banyak kendaraan berat. Terlebih datangnya saat musim hujan. Jadi sekarang kerusakannya parah,” ujar Uliyati, Senin, 30 Maret 2026.
Uliyati berharap jalan tersebut dapat diperbaiki kembali menggunakan konstruksi beton, bukan paving.
“Kalo bisa dicor kayak desa yang lainnya,” ucapnya.
Warga lain, Keluk Pristiwahana, menyebut kerusakan jalan tidak hanya mengganggu aktivitas sehari-hari, tetapi juga berpotensi membahayakan pengguna jalan.
“Jalannya sekarang banyak yang amblas dan bergelombang. Kalau dilewati motor harus pelan-pelan, apalagi kalau malam hari cukup berbahaya,” ungkapnya.
Keluk berharap ada kejelasan komitmen dari pelaksana proyek untuk memperbaiki jalan desa yang terdampak serta mengatur tonase kendaraan proyek yang melintas.
“Pembangunan infrastruktur strategis seharusnya tidak menimbulkan kerugian bagi fasilitas desa maupun membahayakan keselamatan masyarakat setempat,” tegasnya.
Menurut Keluk, struktur jalan paving yang sebelumnya hanya dirancang menahan beban kendaraan kecil, sekitar 3 ton. Sehingga ia menilai paving tidak mampu menahan tekanan kendaraan proyek, yang melintas secara berulang dengan muatan berat.
“Akibatnya, sejumlah ruas jalan desa mengalami kerusakan,” sambungnya.
Warga berharap pihak pelaksana proyek segera menepati komitmen yang telah disepakati untuk memperbaiki jalan desa yang terdampak aktivitas proyek tersebut.
Di sisi lain, Kepala Desa Sambongrejo, Siswadi, mengaku sudah tidak ada komunikasi dengan pelaksana proyek IJD 2025 yang melintasi jalan desanya.
Pihaknya juga mengaku tidak mengetahui apakah pelaksana proyek akan menepati komitmen untuk memperbaiki jalan yang rusak pada 14 November 2025.
“Kemarin cuma dikasih 5 rit grosok dari PT pemborong. Itu yang membenahi warga saya. Mau saya minta perbaiki (jalan) bilangnya (pemborong) tidak mampu,” terangnya.
Menurutnya, warga desa Sambongrejo ada yang geram atas kerusakan jalan tersebut sehingga warga inisiatif melakukan grosok sendiri, pasca panen tebu.
“Ada sekitar empat orang yang menurunkan grosok,” katanya.
Siswadi juga mengaku pemerintah desa bahkan tidak punya anggaran untuk perbaikan jalan di desanya.
“Kalau ada tuntutan warga, saya akan menuntut PT-nya. Jalan desa sendiri (saat ini) tidak ada anggarannya. Ngga ada dana untuk itu (perbaikan jalan),” terangnya.
Menurutnya, perbaikan kerusakan jalan tidak cukup hanya ditutup grosok. Dia menyebut butuh pembangunan seperti semula, yaitu menggunakan paving.
“Estimasi paving lagi, itu sekitar Rp600 juta,” katanya.
Pantauan di lapangan menunjukkan, sejumlah titik paving block rusak dengan berbagai tingkat kerusakan mulai dari pecah, amblas hingga bergelombang. Kerusakan paling parah terjadi pada ruas paving sepanjang lebih dari 500 meter.
Sebagai informasi, proyek peningkatan Jalan Japah-Tunjungan senilai Rp27,9 miliar tersebut bersumber dari APBN melalui program Instruksi Presiden (Inpres) Jalan Daerah (IJD) 2025.
Pekerjaan proyek dilaksanakan oleh PT Mitra Wardhana di bawah Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Wilayah III Jawa Tengah.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, proyek tersebut dimulai pada 10 Oktober 2025 dan ditargetkan selesai pada 31 Desember 2025.
Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Ulfa











