BLORA, Harianmuria.com – Dinas Kesehatan Daerah (Dinkesda) Kabupaten Blora mengimbau masyarakat mewaspadai potensi penyakit yang disebabkan kurangnya kebutuhan air bersih.
Sementara itu pada musim kemarau ketersediaan air bersih mulai berkuriang akibat sumber air mengering. Data BPBD Blora memprakirakan 49,6 ribu jiwa dari 98 desa yang tersebar di 14 kecamatan mengalami krisis air bersih.
Persoalan pemenuhan kebutuhan air bersih menjadi perhatian Dinkesda Blora karena dinilai berpotensi meningkatkan risiko sejumlah penyakit di tengah masyarakat.
Kepala Dinkesda Blora, Edi Widayat, mengatakan pihaknya telah memetakan setidaknya tiga penyakit yang berpotensi meningkat selama musim kemarau dan kekeringan.
“Tiga penyakit yang perlu diwaspadai saat musim kemarau ini adalah diare, ISPA dan penyakit kulit,” kata Edi, Selasa, 25 Agustus 2026.
Menurutnya, potensi penyakit diare, ISPA dan penyakit kulit berkaitan erat dengan keterbatasan air bersih dan kondisi lingkungan selama musim kemarau.
Edi menjelaskan potensi penyakit diare dikarenakan keterbatasan air bersih dapat membuat masyarakat kesulitan menjaga kebersihan peralatan makan secara maksimal.
Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan peralatan makan kurang bersih sehingga meningkatkan risiko masuknya kuman penyebab penyakit ke dalam tubuh.
“Karena kesulitan air bersih, peralatan makan kadang tidak bisa dicuci secara maksimal. Ini bisa menjadi salah satu faktor risiko terjadinya diare,” jelasnya.
Untuk mencegah diare, masyarakat diimbau tetap memastikan tangan dan peralatan makan dalam kondisi bersih. Air yang digunakan untuk minum juga harus dipastikan aman, termasuk dengan memasaknya hingga mendidih apabila sumber air belum terjamin kebersihannya.
Selanjutnya, penyakit kedua yang perlu diwaspadai adalah infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA, dikarenakan banyaknya debu akibat lahan yang saat ini mengering.
Saat kondisi tanah dan sumber air mengering, debu lebih mudah beterbangan. Paparan debu dalam jumlah banyak dapat mengganggu saluran pernapasan, terutama bagi masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan.
“Kalau kemarau, debu cukup banyak, bahkan tidak tau asal-muasal debu, apakah dari kotoran hewan atau yang lainnya. Itu yang juga perlu diantisipasi karena dapat mengganggu saluran pernapasan,” ujar Edi.
Masyarakat disarankan menggunakan masker ketika berada di lingkungan berdebu. Selain itu, lingkungan rumah perlu dijaga agar tidak terlalu banyak debu dan ventilasi tetap baik.
Terakhir, keterbatasan air juga dapat memengaruhi kebersihan tubuh dan lingkungan. Salah satunya adalah penggunaan air dalam bak atau tempat penampungan yang jarang dikuras.
“Untuk penyakit kulit, salah satunya karena air kulah atau tempat penampungan air yang tidak dibersihkan atau dikuras,” katanya.
Karena itu, masyarakat diminta tetap memperhatikan kebersihan tempat penampungan air. Bak mandi maupun wadah penampungan air perlu dibersihkan dan dikuras secara berkala.
Edi mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan kebersihan meskipun sedang mengalami keterbatasan air.
Menurutnya, masyarakat perlu mengatur penggunaan air secara bijak dengan tetap memprioritaskan kebutuhan dasar, seperti minum, memasak, kebersihan tangan, peralatan makan, serta kebersihan tubuh.
“Yang paling penting masyarakat tetap menjaga perilaku hidup bersih dan sehat. Air yang ada digunakan seefisien mungkin, tetapi kebutuhan untuk kebersihan dan kesehatan tetap harus diperhatikan,” pungkasnya.
Dinkesda Blora juga mengimbau warga yang mengalami keluhan kesehatan, seperti diare berkepanjangan, gangguan pernapasan, atau masalah kulit yang tidak kunjung membaik, agar segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.
“Dengan menjaga kebersihan air, makanan, tubuh dan lingkungan secara mandiri, risiko munculnya penyakit selama musim kemarau diharapkan dapat diminimalisir,” tandasnya.
Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Ulfa











