KENDAL, Lingkarjateng.id – Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Kendal mendaftarkan tradisi weh-wehan ke kalender event nasional Karisma Event Nusantara (KEN).
Karisma Event Nusantara merupakan program strategisKementerian Pariwisata Republik Indonesia untuk mempromosikan festival budaya, pariwisata, dan ekonomi kreatif unggulan di berbagai daerah.
Kepala Disporapar Kendal, Achmad Ircham Chalid, membenarkan bahwa tradisi weh-wehan telah didaftarkan ke Kemenpar melalui program KEN.
“Bulan Agustus sampai September ini pendaftarannya. Nanti mungkin setelah itu ada kurasi. Mudah-mudahan nanti bisa masuk menjadi salah satu event nasional di Karisma Event Nusantara,” harapnya.
Sementara Kepala Desa Krajankulon, Abdul Latif, memgungkapkan tradisi weh-wehan ini memang pertama kali letaknya terdekat dengan Masjid Al-Muttaqin yaitu masjid yang menjadi pusat kegiatan dakwah di Kecamatan Kaliwungu.
“Tapi Alhamdulillah sekarang berkembang tidak hanya di Krajankulon saja. Tapu hampir di setiap desa di Kecamatan Kaliwungu InsyaAllah ada,” pungkasnya.
Bupati Kendal, Dyah Kartika Permanasari, mengatakan tradisi weh-wehan didaftarkan ke klender event nasional agar tradisi lokal lebih dikenal luas di penjuru nusantara.
“Sehingga harapannya tradisi ini bisa dikenal oleh daerah-daerah lain,” ujar Bupati Kendal di sela-sela kegiatan weh-wehan di Desa Krajankulon Kaliwungu, Senin, 24 Agustus 2026 sore.
Tradisi weh-wehan merupakan tradisi yang ada di Kaliwungu. Masyarakat saling berbagi makanan dan jajanan kepada tetangga maupun kerabat sebagai bentuk rasa syukur sekaligus ungkapan kebahagiaan atas kelahiran Nabi Muhammad SAW.
“Ini juga sebagai wujud syukur di bulan Maulid, untuk memperingati dan meneladani sifat-sifat Nabi Muhammad SAW. Termasuk juga untuk berbagi dan bersilaturahmi,” ungkapnya.
Bupati Tika menambahkan, di era modernisasi ini tradisi weh-wehan harus terus dijaga dan dilestarikan turun termurun sebagai identitas budaya masyarakat Kaliwungu, sehingga tidak hilang tergerus zaman.
“Karena ini tradisi budaya yang tujuannya baik sehingga harus kita wariskan dan dilestarikan para generasi penerus,” tambahnya.
Jurnalis: Anik Kustiani










