• Peta Situs
  • Kerjasama & Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kabar Hari Ini
Jumat, Oktober 16, 2026
harianmuria
  • Home
  • Nasional
  • Berita Daerah
    • Blora
    • Rembang
    • Grobogan
    • Pati
    • Jepara
    • Kendal
    • Demak
    • Kudus
    • Semarang
  • Artikel
    • Biografi
    • Kesehatan
    • Kuliner
    • Lifestyle
    • Parenting
    • Silabus & RPP
    • Tips
    • Travelling
  • Box Redaksi
No Result
View All Result
harianmuria
  • Home
  • Nasional
  • Berita Daerah
    • Blora
    • Rembang
    • Grobogan
    • Pati
    • Jepara
    • Kendal
    • Demak
    • Kudus
    • Semarang
  • Artikel
    • Biografi
    • Kesehatan
    • Kuliner
    • Lifestyle
    • Parenting
    • Silabus & RPP
    • Tips
    • Travelling
  • Box Redaksi
No Result
View All Result
harianmuria
No Result
View All Result

Kegagalan Hari Itu Bukanlah Akhir

Sekar Sari by Sekar Sari
9 Februari 2023
in Artikel, Kesehatan
81 4
Ilustrasi anak dengan Down Syndrome. (Freepik/Harianmuria.com)

Ilustrasi anak dengan Down Syndrome. (Freepik/Harianmuria.com)

652
VIEWS
Tanya ChatGPTShare to FacebookWhatsAppTelegram

Harianmuria.com – Blitar, 14 Februari beberapa tahun silam pejuang Indonesia yang tergabung dalam batalion Pembela Tanah Air (PETA) wilayah Blitar yang dipimpin oleh Shodanco Soeprijadi melakukan aksi untuk melawan kekejaman  pemerintah Jepang. Hal itu bermula ketika Shodanco Suprijadi cemas akan nasib Indonesia di bawah pendudukan pemerintah Jepang yang selalu ditindas dan dikeruk kekayaannya, bahkan pemerintah Jepang juga mengingkari janjinya sebagai pelindung Asia.

Selan itu, PETA yang merupakan organisasi militer di bawah kepemimpinan Jepang juga merasakan diskriminasi dengan diwajibkan memberi hormat kepada tentara Jepang yang bahkan pangkatnya lebih rendah dari mereka. Akhirnya Shodanco Suprijadi mengumpulkan pasukannya dan merencanakan pemberontakan. Meskipun awalnya mendapat penolakan dari Soekarno, Moh. Hatta, dan beberapa pemuda gerakan bawah tanah, Shodanco Suprijadi tetap kukuh dengan pendiriannya yakni melawan pemerintah Jepang dengan sasaran Markas Militer Jepang wilayah Blitar, yang berada di Hotel Sakura pada 14 Februari 1945 dini hari dengan menembakkan meriam. Karena ledakkan dari meriam muncul bentrok antara pasukan PETA dan pasukan Jepang wilayah Blitar. Namun sayang seribu sayang, pemberontakan ini berhasil digagalkan dan bahkan rencana pemberontakan diketahui oleh Jepang sebelum pemberontakan terjadi sehingga Jepang bisa melakukan antisipasi dan langsung mengumpulkan pasukan yang berada di Malang dan Kediri. Banyak dari anggota PETA berlarian dan ada yang menyerahkan diri. anggota PETA yang tertangkap oleh Jepang diberi hukuman penjara seumur hidup bahkan dihukum mati. Namun dari semua anggota PETA yang dimintai pertanggung jawaban pada 15 Februari 1945, pemimpin mereka, Shodanco Suprijadi tidak ditemukan keberadaannya.

 Meskipun hari itu bangsa Indonesia gagal mengambil haknya, namun semangatnya tetap menjalar hingga kini, bahkan bagi penyandang disabilitas sekalipun. Dalam UU No. 8 tahun 2016 pasal 1, yang berbunyi Penyandang Disabilitas adalah setiap orang yang mengalami keterbatasan fisik, intelektual, mental, dan/atau sensorik dalam jangka waktu lama yang dalam berinteraksi dengan lingkungan dapat mengalami hambatan dan kesulitan untuk berpartisipasi secara penuh dan efektif dengan warga negara lainnya berdasarkan kesamaan fisik.

Ada beberapa jenis disabilitas yang  umum ditemukan. Beberapa diantaranya, gangguan penglihatan, tuli atau sulit mendengar, kondisi kesehatan mental disabilitas intelektual, cedera otak setelah lahir, gangguan spektrum autisme, atau disabilitas fisik.

Di kesempatan kali ini kita akan sedikit membahas tentang salah satu jenis disabilitas, yakni Down Syndrome atau Sindrom Down. Down Syndrome adalah kelainan genetik yang paling umum terjadi, dan dapat menyebabkan masalah terkait kesehatan seperti gangguan jantung dan pencernaan. Anak yang mengalami gangguan ini tidak sedikit yang mengalami kecacatan seumur hidup dan bahkan harapan hidupnya lebih pendek.

Apa Penyebabnya?

Umumnya, sel pada tubuh manusia terdiri dari 23 pasang kromosom. Satu kromosom pada setiap pasangan berasal dari ayah dan lainnya dari ibu. Dan sel akan membelah yang menghasilkan tubuh memiliki 46 kromosom. Namun, bagi penderita down syndrome terjadi kegagalan pembelahan sel gamet pada proses Meiosis I ataupun Meiosis II, sehingga mengakibatkan terjadinya kelebihan kromosom 21 sel gamet yang nantinya akan menghasilkan salinan tiga kromosom 21 dan mengakibatkan bayi memiliki 47 kromosom. Menurut National Downs Syndrome Society, semakin tua usia ibu hamil, kemungkinan melahirkan bayi down syndrome juga semakin tinggi.

Tapi, apakah down syndrome bisa dicegah? Bagaimana caranya? Melansir dari laman klikdokter, di bawah ini adalah cara mencegah down syndrome yang bisa diterapkan.

Yang pertama, hamil di usia yang dianjurkan, baik usia Ibu maupun Ayah. Kedua, cukupi kebutuhan asam folat saat hamil, karena zat gizi ini terbukti efektif mencegah kelainan yang mungkin terjadi pada janin. Ketiga, lakukan pemeriksaan antenatal secara rutin dan teratur, pemeriksaan ini bertujuan untuk mendeteksi dan mencegah segala kelainan yang mungkin terjadi. Keempat, hindari paparan bahan-bahan berbahaya, hindari rokok dan alkohol karena dapat mempengaruhi kualitas sperma dan sel telur. Kelima, terapkan pola makan sehat. Keenam, olahraga rutin. Ketujuh, istirahat yang cukup. Dan yang terakhir, merencanakan kehamilan dengan penuh persiapan.

Karena dilahirkan sebagai anak yang istimewa, penyandang down syndrome memiliki IQ yang dianggap rendah yakni berkisar antara 50 – 70 ketika manusia yang lebih sehat memiliki IQ 85 – 115. Namun hal ini tidak membuat semangat yang dimiliki penyandang down syndrome menurun. Meski dengan segala keterbatasan yang dimiliki, penyandang down syndrome mampu memiliki prestasi yang bisa membuat semua orang berdecak kagum.

Stephanie Handojo atau yang kerap dipanggil Fani adalah salah satu penyandang down syndrome. Meskipun terlahir sebagai anak yang diberi karunia spesial dari tuhan, Fani memiliki segudang prestasi yang gemilang. Pada tahun 2009 di Semarang, tepatnya saat Fani berusia 18 tahun ia berhasil mencatat Rekor MURI Anak Berkebutuhan Khusus yang memainkan 22 lagu secara nonstop dengan piano. Di tahun berikutnya, yakni tahun 2010 Fani meraih prestasi renang di ajang Singapore National Games. Tak hanya itu pada tahun 2011, Stephanie berhasil menjadi atlet Indonesia pertama yang meraih medali emas di Special Olympics World Summer Games di Athena Yunani, untuk nomor 50 meter gaya dada. Puncaknya pada tahun 2012, Fani menjadi perwakilan Indonesia sebagai salah satu pemegang obor Olimpiade London di Nottingham. Pada tahun 2013 Fani kembali mendapatkan medali emas di ajang Special Olympics Asia Pacific 2013 di Australia.

Semangat juang yang telah berhasil ditorehkan oleh pejuang PETA dan Stephanie seharusnya membuat kita tersadar, bahwa setiap manusia memiliki keistimewaan dalam mencapai kesuksesannya masing-masing. Selamat hari peringatan pemberontakan PETA, kita harus percaya bahwa setiap kegagalan adalah langkah awal menuju kesuksesan.

Putri Sofiana, Siswi SMA Modern Al Rifa’ie Gondanglegi, Kabupaten Malang

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari harianmuria.com
Tags: ArtikelDown SyndromeKesehatan
SummarizeShare47SendShare
Previous Post

Ta’sis Masjid Menara Kudus Kenalkan Alquran lewat Lomba Kaligrafi

Next Post

Melawan Arogansi Ganjar, Komut LMG Agsun: Minta Maaf atau Proses Hukum

Sekar Sari

Sekar Sari

Berita Terkait

RSU Permata Tambah 10 Unit ICU Baru, Bupati Blora: Utamakan Keselamatan Pasien

RSU Permata Tambah 10 Unit ICU Baru, Bupati Blora: Utamakan Keselamatan Pasien

by ulfa puspa
14 Oktober 2026
530

BLORA, Harianmuria.com – Bupati Blora, Arief Rohman, meresmikan gedung baru Rumah Sakit Umum (RSU) Permata Blora, Rabu, 14 Oktober 2026. Gedung empat lantai itu dilengkapi tambahan 24 tempat...

Puskesmas Kragan II Bakal Direlokasi, Pemkab Rembang Cari Lahan di Plawangan

Puskesmas Kragan II Bakal Direlokasi, Pemkab Rembang Cari Lahan di Plawangan

by ulfa puspa
12 Oktober 2026
572

REMBANG, Harianmuria.com – Pemerintah Kabupaten Rembang akan membeli lahan baru untuk relokasi pembangunan Puskesmas Kragan II. Pembangunan gedung baru Puskesmas Kragan II itu lantaran bangunan lama akan dimanfaatkan...

Algo Sapiens: Ketika Manusia Dikendalikan Mesin

Algo Sapiens: Ketika Manusia Dikendalikan Mesin

by ulfa puspa
30 September 2026
591

Harianmuria.com - Muncul paradoks yang besar dengan munculya budaya digital. Niat awalnya manusia menciptakan mesin pintar agar bisa membantu mengatasi problem hidupnya sehingga kehidupan lebih mudah dan nyaman...

Tata Cara Salat Istisqa dan Bacaan Doanya

Tata Cara Salat Istisqa dan Bacaan Doanya

by ulfa puspa
8 September 2026
621

Harianmuria.com – Musim kemarau berdampak menyusutnya sumber air bersih sehingga masyarakat kesulitan memenuhi kebutuhan air untuk konsumsi maupun aktivitas harian. Kemarau juga mengakibatkan vegetasi mudak kering sehingga rawan...

Load More

BERITA UTAMA

Investor Jepang Ingin Bangun Pabrik Biometan di Blora, Bupati: Lirik Potensi Limbah Pertanian

Investor Jepang Ingin Bangun Pabrik Biometan di Blora, Bupati: Lirik Potensi Limbah Pertanian

16 Oktober 2026
517
Festival Literasi Blora 2026 Digelar 4 Hari, Bupati Dorong Budaya Baca hingga Desa

Festival Literasi Blora 2026 Digelar 4 Hari, Bupati Dorong Budaya Baca hingga Desa

15 Oktober 2026
526
RSU Permata Tambah 10 Unit ICU Baru, Bupati Blora: Utamakan Keselamatan Pasien

RSU Permata Tambah 10 Unit ICU Baru, Bupati Blora: Utamakan Keselamatan Pasien

14 Oktober 2026
530
Rembang Bisa Hemat Rp300 M Jika Gaji PPPK Dibayar Pusat, Bupati: Tapi TKD Harus Tetap

Rembang Bisa Hemat Rp300 M Jika Gaji PPPK Dibayar Pusat, Bupati: Tapi TKD Harus Tetap

13 Oktober 2026
545

TRENDING HARI INI

  • SPPG di Kendal Wajib Ambil Telur dari Peternak Lokal dengan Harga Rp26 Ribu

    Masih Ada SPPG Tak Serap Telur Lokal, Peternak Kendal Minta BGN Tindak Tegas

    207 shares
    Share 83 Tweet 52
  • DPU Semarang Keruk 33 Sungai Hingga Benahi Drainase Jelang Musim Hujan

    98 shares
    Share 39 Tweet 25
  • Kemarau Panjang, Warga Sambongrejo Blora Mulai Krisis Air Bersih

    99 shares
    Share 40 Tweet 25
  • KPK Tangkap Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo: Diduga Suap BPK dan Pengadaan Barang Jasa

    96 shares
    Share 38 Tweet 24
  • Gubernur Jateng Tanggapi Kabar Bupati Klaten Terjaring OTT KPK

    96 shares
    Share 38 Tweet 24
  • Didanai APBN Rp400 Juta, Pemkab Kudus Buka 5 Kelas Pelatihan Kerja

    95 shares
    Share 38 Tweet 24
  • Festival Literasi Blora 2026 Digelar 4 Hari, Bupati Dorong Budaya Baca hingga Desa

    95 shares
    Share 38 Tweet 24
Harian Muria

Harian Muria Merupakan Media Online Tersertifikasi Dewan Pers Dengan Nomer 1287/DP-VERIFIKASI/K/X/2024

Penerbit :
PT. Mediatama Anugrah Pers
SK. Kemenkumham RI Nomor : AHU-0008754.AH.01.01.TAHUN 2023

PILIHAN EDITOR

Menjelang HUT RI, Penyedia Sewa Kostum di Rembang Banjir Orderan

Menjelang HUT RI, Penyedia Sewa Kostum di Rembang Banjir Orderan

2 Agustus 2022
851
Dinkes Catat 29 Kasus Suspek Campak di Rembang

Dinkes Catat 29 Kasus Suspek Campak di Rembang

7 April 2026
731

IKUTI SOSMED KAMI

  • Peta Situs
  • Box Redaksi
  • Kerjasama & Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

© 2026 Harian Muria - Portal Berita Muria Raya dan Sekitarnya

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Berita Daerah
    • Blora
    • Demak
    • Grobogan
    • Jepara
    • Kendal
    • Kudus
    • Pati
    • Rembang
    • Semarang
  • Artikel
    • Biografi
    • Kesehatan
    • Kuliner
    • Lifestyle
    • Parenting
    • Silabus & RPP
    • Tips
    • Travelling
  • Box Redaksi
  • Kerjasama & Iklan

© 2026 Harian Muria - Portal Berita Muria Raya dan Sekitarnya