BEKASI, Harianmuria.com — Badan Karantina Indonesia (Barantin) mendorong transformasi total sistem perkarantinaan nasional demi mempermudah jalan bagi produk-produk unggulan Indonesia menembus pasar internasional.
Arahan tersebut ditegaskan oleh Kepala Barantin Abdul Kadir Karding saat membuka Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Barantin 2026 di Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Karantina, Bekasi, Jawa Barat, Kamis (15/10/2026).
Menurut Karding, perubahan dinamika perdagangan dunia, pesatnya mobilitas barang, serta tantangan perubahan iklim menuntut fungsi karantina untuk berkembang pesat melampaui tugas konvensional di pintu masuk dan keluar wilayah negara.
“Perdagangan antarnegara semakin kompleks, perpindahan manusia dan barang semakin cepat, dan perubahan iklim terus memengaruhi kehidupan kita. Dalam situasi seperti ini, peran karantina menjadi semakin penting,” ujar Karding.
“Kami bertugas melindungi negeri ini, menjaga kesehatan masyarakat, kelestarian sumber daya alam, dan ketahanan pangan, sekaligus memfasilitasi produk-produk pertanian, perikanan, dan kehutanan Indonesia menembus pasar dunia. Tidak boleh ada bottleneck, tetapi harus bisa mempermudah akses perdagangan ke negara tujuan,” lanjutnya.
Rakornas yang dihadiri jajaran pimpinan pusat dan perwakilan Unit Pelaksana Teknis (UPT) dari 38 provinsi ini bertepatan dengan momentum Hari Karantina ke-149 bertema “Dari Penjaga Gerbang ke Diplomasi Ekonomi, Menuju Indonesia Emas 2045”.
Menurutnya, peran diplomasi ekonomi diwujudkan melalui pemenuhan standar karantina, sistem ketertelusuran (traceability), sertifikasi resmi, hingga jalinan komunikasi teknis yang intensif dengan negara-negara tujuan ekspor.
Guna memperkuat posisi ekspor Indonesia, Barantin mengadopsi berbagai keunggulan dari negara maju yang disesuaikan dengan kebutuhan dalam negeri.
"Biosekuriti yang bagus di Australia, laboratorium yang sangat baik di Jepang, traceability atau ketertelusuran, dan manajemen data yang kuat di Cina. Namun, Indonesia tidak boleh hanya meniru satu negara saja, melainkan mengambil keunggulan dari berbagai negara dan menyesuaikannya secara kontekstual dengan kondisi domestik," jelas Kepala Barantin kepada awak media.
Guna menyokong kemudahan ekspor tanpa mengabaikan aspek perlindungan hayati, Barantin memprioritaskan sejumlah langkah strategis, mencakup penguatan sistem pengamanan hayati terintegrasi, pengembangan ekosistem digital, pembangunan dan revitalisasi laboratorium berstandar internasional, serta peningkatan kapasitas SDM.
“Kehadiran karantina harus menjadi mitra strategis yang melindungi sekaligus memudahkan masyarakat dan pelaku usaha. Kekuatan kita terletak pada kebersamaan, sinergi pusat dan daerah, serta kolaborasi seluruh unsur organisasi,” tegas Karding.
Editor: Asih











