BLORA, Harianmuria.com – Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kabupaten Blora, menggandeng Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Blora memberikan pendidikan kesetaraan bagi warga binaan.
Kepala SKB Kabupaten Blora, Jumini, mengatakan program tersebut diikuti 15 warga binaan yang terdiri 13 laki-laki dan dua perempuan dengan jenjang pendidikan Paket A, Paket B, dan Paket C.
“Pesertanya berasal dari berbagai jenjang, ada Paket A, B, dan C. Usianya juga beragam, ada yang masih muda sekitar 21 tahun dan ada yang berusia 53 tahun,” katanya saat ditemui, Rabu, 12 Agustus 2026.
Menurut Jumini, kerja sama antara SKB Blora dan Rutan Blora telah disepakati sejak Ramadhan lalu. Pelaksanaan pendidikan kesetaraan kemudian disesuaikan dengan tahun ajaran karena pembelajaran harus dimulai pada awal tahun pembelajaran.
Pelaksanaan pendidikan kesetaraan tidak hanya berfokus pada mata pelajaran umum, tetapi juga diintegrasikan dengan pembelajaran keterampilan.
“Kalau hanya pelajaran saja, mungkin akan membosankan bagi mereka. Jadi pembelajaran kami integrasikan dengan keterampilan,” ujarnya.
Setiap pertemuan pembelajaran berlangsung sekitar tiga jam. Waktu tersebut diisi dengan keterampilan dan mata pelajaran umum yang mendukung keterampilan tersebut.
Untuk keterampilan, Rutan Blora mengarahkan peserta pada bidang tata boga dengan fokus pembuatan roti atau bakery.
“Harapannya setelah mereka keluar dari Rutan bisa membuka usaha membuat roti. Jadi tidak hanya dibekali keterampilan, tetapi juga ijazah,” katanya.
Sementara itu, materi pendidikan umum yang diberikan antara lain pendidikan agama dan budi pekerti serta Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn).
Jumini mengatakan pihaknya juga tengah memikirkan keberlanjutan peserta setelah bebas, terutama terkait akses pekerjaan dan peluang membuka usaha.
“Kalau untuk SKCK, nanti akan kami komunikasikan dengan Polres. Kemudian kalau setelah keluar mereka ingin mendirikan usaha, kami juga akan mencoba berkoordinasi dengan Dindagkop UMKM untuk pendampingannya,” ujarnya.
Ia berharap program pendidikan kesetaraan tersebut dapat memberikan bekal yang lebih lengkap kepada warga binaan sehingga memiliki pendidikan dan keterampilan yang dapat dimanfaatkan ketika kembali ke tengah masyarakat.
Sementara itu, Kepala Rumah Tahanan (Rutan) Kelas IIB Blora, Sugito, mengungkapkan jumlah warga binaan di dalam Rutan mencapai 146 orang, namun yang mengikuti program tersebut hanya 15 orang.
“Sisanya karena sudah tua, sekitar usia 50 ke atas. Lalu yang lainnya juga sudah punya ijazah,” ujar Sugito.
Seluruh warga binaan yang mengikuti program tersebut harus menuntaskan pendidikan selama tiga tahun. Namun, bila warga binaan sudah keluar dari Rutan akan dilakukan secara daring.
“Tetap diprioritaskan hingga mendapatkan ijazah,” katanya.
Pembelajaran warga binaan di dalam Rutan dilakukan dua minggu sekali, sehingga tidak akan menggangu warga binaan yang lainnya.
“Nanti belajarnya luwes, tidak harus seperti formal, tadi kesepakatan dua minggu sekali. Materinya diberi keterampilan juga, itu keterampilan pembuatan roti,” katanya.
Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Ulfa











