GROBOGAN, Harianmuria.com – Lima desa di Kabupaten Grobogan masuk wilayah rawan kekeringan paling tinggi pada musim kemarau 2026. Salah satu desa yang terdampak cukup parah yakni Dusun Kemiri, Desa Depok Kecamatan Toroh.
Warga Dusun Kemiri baru saja mendapat bantuan air bersih dari Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Grobogan bersama Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Muria Raya dan sejumlah mitra pada Senin, 3 Agustus 2026.
Bantuan diberikan untuk membantu masyarakat yang kesulitan memperoleh air bersih akibat dampak musim kemarau yang mulai meluas di berbagai wilayah.
Petugas PMI Grobogan, Gesit, mengatakan hingga saat ini telah mendistribusikan 220.000 liter air bersih kepada warga di sejumlah wilayah terdampak. Bantuan tersebut telah menjangkau sekitar 1.430 kepala keluarga.
“Untuk PMI sampai hari ini kami telah mendistribusikan air bersih sebanyak 220.000 liter di beberapa wilayah dan sudah menjangkau 1.430 kepala keluarga. Pada musim kemarau ini kami menargetkan dapat mendistribusikan 1.200.000 liter air bersih sesuai arahan Ketua Umum PMI,” ujar Gesit.
Distribusi air bersih telah dimulai sejak 10 Juli 2026 dan akan terus dilakukan hingga kebutuhan masyarakat terpenuhi atau kondisi kekeringan berakhir.
Gesit menjelaskan sejumlah wilayah dengan tingkat kekeringan paling parah berada di Desa Depok, Kecamatan Toroh; Desa Karangsono dan Desa Ketro, Kecamatan Karangrayung; serta Desa Asemrudung dan Desa Karanganyar, Kecamatan Geyer.
Saat ini PMI Grobogan mengoperasikan dua armada tangki air dengan kapasitas sekitar 20.000 liter per hari. Namun, jumlah tersebut dinilai belum mencukupi untuk melayani seluruh wilayah terdampak.
“Kami rasa dua armada ini masih kurang mengingat luasnya wilayah terdampak. Pada tahun 2023 saja PMI mendistribusikan air bersih di 18 kecamatan dan 67 desa. Harapan kami armada bisa ditambah agar pelayanan kepada masyarakat lebih maksimal,” ucapnya.
Ia juga mengimbau pemerintah desa yang mengalami kekeringan agar menyediakan tandon atau tampungan berbahan terpal sehingga proses distribusi air lebih cepat, efisien, dan meminimalkan air yang terbuang.
Sementara itu, Sekretaris IJTI Muria Raya, Nur Soli, mengatakan Grobogan menjadi salah satu daerah yang terdampak fenomena El Nino dan musim kemarau dengan sekitar 35 desa mengalami krisis air bersih.
“Pada momen Bulan Jurnalis IJTI ke-28 ini kami menggandeng PMI, Bank BKK dan sejumlah instansi lainnya untuk bersama-sama membantu masyarakat yang mengalami krisis air bersih. Distribusi dilakukan melalui tandon air agar penyaluran lebih maksimal dan tidak banyak air yang terbuang,” ujarnya.
Ia berharap bantuan serupa dapat terus dilakukan oleh berbagai pihak mengingat berdasarkan prediksi BMKG dan BPBD, Agustus menjadi puncak musim kemarau sekaligus puncak krisis air bersih.
“Meski bantuan yang diberikan tidak besar, kami berharap dapat memberikan manfaat bagi masyarakat yang sedang mengalami kesulitan mendapatkan air bersih,” tambahnya.
Salah satu warga, Tiyem, mengaku sangat terbantu dengan adanya bantuan air bersih. Selama musim kemarau, ia harus membeli air karena tidak memiliki sumur maupun sambungan PAM yang berfungsi.
“Kalau tidak ada bantuan ya beli air. Harganya sekitar Rp100 ribu dan biasanya hanya cukup sekitar satu minggu. Sekarang ada bantuan jadi sementara tidak perlu beli. Sangat membantu karena di rumah memang tidak punya sumur,” ungkapnya.
Jurnalis: Ahmad Abror
Editor: Ulfa











