JEPARA, Harianmuria.com – Kabupaten Jepara terpilih menjadi lokasi pembangunan Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) yang diperuntukkan bagi peserta didik berprestasi.
Bupati Jepara, Witiarso Utomo, mengatakan pada tahap awal SNT akan membuka empat rombongan belajar, terdiri atas dua rombel jenjang SMP dan dua rombel jenjang SMA. Masing-masing rombel menampung 20 siswa.
“Alhamdulillah tahun ini pada bulan Juli Jepara mendapatkan Sekolah Nasional Terintegrasi dari pemerintah pusat. Sekolah ini diperuntukkan bagi anak-anak yang memiliki prestasi. Juli ini sudah mulai proses rekrutmen, kegiatan belajar ditargetkan berlangsung pada Agustus mendatang,” ujarnya, Selasa, 7 Juli 2026.
Proses seleksi peserta didik Sekolah Nasional Terintegrasi sepenuhnya menjadi kewenangan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
Kesempatan mengikuti seleksi terbuka bagi siswa berprestasi, baik di bidang akademik maupun nonakademik, tanpa membedakan latar belakang ekonomi.
“Siswa yang telah bersekolah di tempat lain juga tetap dapat mengikuti proses seleksi apabila memenuhi persyaratan yang ditetapkan,” katanya.
Sementara sambil menunggu pembagunan gedung permanen, kata Bupati Jepara, kegiatan pembelajaran akan memanfaatkan fasilitas Balai Latihan Kerja (BLK) Pecangaan.
Adapun pembangunan kampus SNT dijadwalkan pada Oktober 2026 di lahan hibah seluas 10 hektare yang berada berdekatan dengan lokasi Sekolah Rakyat.
“Berbeda dengan sekolah berasrama, SNT menerapkan sistem belajar pulang-pergi sehingga peserta didik tidak diwajibkan tinggal di asrama. Seluruh layanan pendidikan diberikan secara gratis, dengan tetap mengacu pada kurikulum nasional yang dipadukan dengan konsep pembelajaran khusus,” terangnya.
SNT di Jepara juga akan melayani siswa dari daerah sekitar. Selain peserta didik asal Jepara, siswa berprestasi dari Kabupaten Kudus, Pati, dan Demak dapat mengikuti seleksi karena wilayah tersebut belum memiliki Sekolah Nasional Terintegrasi.
“Di Jawa Tengah hanya ada tiga lokasi, yaitu Jepara, Cilacap, dan Purbalingga. Secara nasional jumlahnya baru 25 sekolah,” pungkasnya.
Jurnalis: Tomi Budianto
Editor: Ulfa











