JEPARA, Harianmuria.com – Seni ukir Jepara dikenalkan secara langsung kepada 52 mahasiswa internasional dari 14 negara, melalui praktik membuat ukiran kayu dalam rangkaian Summer Course 2026 Buja Sejana 2, di Galeri Jepara Wood Carving, pada Kamis, 20 Agustus 2026.
Salah seorang peserta, Sayed Rahman Hamid, tampak mencoba teknik pahat untuk pertama kalinya. Mahasiswa asal Afganistan yang menempuh pendidikan di Universitas Dian Nuswantoro Semarang itu mengaku belum pernah mempelajari seni ukir sebelumnya.
“Sangat menarik, baru pertama kali ini,” kata Sayed.
Ia mengatakan selama berada di Afganistan, pengetahuannya tentang pekerjaan kayu sebatas pada aktivitas perbaikan rumah. Karena itu, kesempatan belajar langsung dari pengukir Jepara menjadi pengalaman baru baginya.
Pengalaman serupa dirasakan Aisha Jumma Mussa, mahasiswa asal Tanzania. Sebelum datang ke Jepara, ia hanya mengenal seni ukir Jepara melalui informasi yang ditemukan di internet.
Setelah memegang alat ukir dan mencoba sendiri, Aisha menyadari bahwa membuat ukiran membutuhkan ketelitian dan latihan. Menurutnya, keterampilan tersebut tidak bisa dikuasai dalam waktu singkat.
“Tidak bisa dipelajari dalam satu hari karena membutuhkan teknik dan kelenturan tangan,” ujarnya.
Sementara itu, Huzairu Kanamwangi, mahasiswa asal Uganda, memilih membuat nama dan motif ukiran dengan didampingi instruktur. Ia berharap hasil praktiknya dapat dibawa pulang sebagai kenang-kenangan sekaligus menjadi cerita tentang pengalaman belajar seni ukir di Indonesia.
“Saya akan membawa ini ke negara saya dan menunjukkan bahwa saya yang membuatnya. Dari Jepara, Indonesia,” katanya.
Sebanyak 23 instruktur pengukir turut mendampingi para peserta. Mereka tidak hanya mengajarkan cara menggunakan pahat, tetapi juga mengenalkan pola dan tahapan dasar dalam proses pembuatan ukiran Jepara.
Instruktur ukir, Rumini mengatakan peserta diperkenalkan dengan sejumlah tahapan dasar, mulai dari ngrancapi, nglemahi, ngekoli, hingga nyoreti.
“Yang ingin kami tanamkan bukan hanya keterampilan mengukir. Kami juga mengenalkan budaya Jepara yang terkenal sebagai kota ukir,” jelasnya.
Koordinator Summer Course 2026 Buja Sejana 2, Wati Istanti mengatakan praktik tersebut merupakan bagian dari pembelajaran budaya maritim yang berlangsung selama tiga bulan dengan metode blended learning.
Menurutnya, pembelajaran secara langsung diperlukan agar mahasiswa internasional tidak hanya memperoleh pengetahuan melalui materi daring, tetapi juga mengalami dan mempraktikkan budaya yang dipelajari.
“Supaya mahasiswa tidak sekadar tahu secara daring, kami mengajar secara luring untuk melihat dan mempraktikkan langsung,” ujarnya.
Wati menambahkan, kegiatan tersebut juga membuka peluang untuk membangun kerja sama lebih luas dengan para pelaku seni ukir Jepara.
“Kolaborasi ke depan dapat melibatkan perguruan tinggi, dunia usaha, industri, UMKM, pemerintah, hingga para praktisi,” imbuhnya.
Di sisi lain, Ketua Umum Yayasan Pelestari Ukir Jepara, Hadi Priyanto, menilai pertemuan mahasiswa dari berbagai negara dengan pengukir Jepara menjadi ruang penting untuk memperkenalkan seni ukir secara langsung kepada masyarakat internasional.
Ia berharap para mahasiswa yang mengikuti kegiatan tersebut dapat membawa pengalaman dan pengetahuan tentang ukir Jepara ke negara masing-masing.
“Harapan kami mereka dapat menjadi duta budaya masyarakat Jepara,” katanya.
Hadi juga menekankan pentingnya regenerasi untuk menjaga keberlanjutan seni ukir Jepara. Menurutnya, ketertarikan generasi muda, termasuk generasi dari berbagai negara, terhadap seni ukir dapat menjadi bagian dari upaya memperluas pengenalan dan pelestarian warisan budaya tersebut.
“Seni ukir Jepara sendiri telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2015. Pengenalan melalui kegiatan pendidikan internasional diharapkan turut memperkuat keberadaan seni ukir Jepara sekaligus memperkenalkan identitas budaya daerah kepada dunia,” pungkasnya.
Jurnalis: Tomi Budianto
Editor: Sekar











