REMBANG, Harianmuria.com – Berawal dari usaha jual beli kayu bekas sepulang kuliah, Arifin, warga Desa Krikilan, Kecamatan Sumber, Kabupaten Rembang berhasil membawa produk furnitur asal Rembang menembus pasar internasional melalui PT Sasana Antik Furniture.
Perusahaan yang dirintis sejak 2003 itu kini mengekspor produk ke berbagai negara di Eropa dan Asia. Untuk memperkuat pasar ekspor, Sasana Antik bahkan tengah membuka kantor perwakilan di Austria melalui Kayusa GmbH yang ditargetkan mulai beroperasi pada akhir tahun.
Arifin menceritakan, setelah lulus dari jurusan Manajemen di Yogyakarta pada 2003, ia memilih kembali ke kampung halamannya untuk merintis usaha dibanding mencari pekerjaan di kota.
“Begitu kami lulus kuliah di Yogyakarta tahun 2003, saya memutuskan pulang ke Rembang, tepatnya di Desa Krikilan, Kecamatan Sumber. Awalnya saya mencoba usaha di bidang perkayuan dengan sistem jual beli kayu. Saat itu saya belum membuat furnitur dan belum mengenal ekspor,” ujarnya, Senin, 6 Juli 2026.
Sebelum pulang ke Rembang, Arifin sempat membuka usaha studio musik di Yogyakarta. Namun usaha tersebut tidak berkembang sehingga ia memutuskan kembali ke kampung halaman dan memulai usaha dari nol.
Menurutnya, dunia usaha merupakan passion yang telah ditekuninya sejak masih menjadi mahasiswa.
“Dari waktu kuliah saya sudah sering mencoba berbagai macam usaha. Banyak yang gagal, tetapi semuanya memberi pengalaman. Ketika pulang ke Rembang, saya memutuskan benar-benar serius menekuni bisnis kayu. Sekarang saya juga ingin mendorong teman-teman di Rembang agar berani berwirausaha karena potensi daerah kita sangat besar,” katanya.
Perjalanan membangun Sasana Antik tidak selalu mulus. Pada 2005, Arifin mulai mencoba ekspor furnitur. Pengiriman perdana justru mengalami kegagalan karena satu kontainer mebel rusak akibat proses produksi yang belum sesuai standar ekspor.
Namun kegagalan tersebut menjadi pengalaman berharga. Dengan pendampingan buyer dari Belanda, Arifin mempelajari standar kualitas internasional hingga akhirnya mampu menghasilkan produk yang diterima pasar Eropa.
Kini produk Sasana Antik telah dipasarkan ke Jerman, Belanda, Belgia, Perancis, Austria, Finlandia, Denmark, Jepang, Korea Selatan, hingga Australia.
Untuk meningkatkan daya saing, Sasana Antik membuka kantor perwakilan di Austria agar dapat menjual produk langsung kepada konsumen tanpa melalui broker.
“Selama ini banyak pembeli yang datang merupakan perantara. Mereka membeli dari kami dengan harga sekitar Rp4 juta lalu dijual kembali hingga sekitar Rp24 juta di negara mereka. Karena itu kami ingin mendekatkan diri ke pasar agar nilai tambahnya bisa dinikmati perusahaan,” jelas Arifin.
Selain berkembang menjadi eksportir, Sasana Antik turut menggerakkan perekonomian masyarakat sekitar dengan memberdayakan tenaga kerja lokal dan menggandeng pelaku usaha di Rembang sebagai pemasok bahan baku maupun komponen produksi. Untuk menjaga standar kualitas ekspor, seluruh proses finishing tetap dilakukan di pabrik perusahaan.
Sekitar 80 persen bahan baku yang digunakan berasal dari kayu jati bekas atau kayu daur ulang yang dipasok dari Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga Jawa Barat. Produk-produknya juga telah mengantongi sertifikasi Forest Stewardship Council (FSC), yang menjadi salah satu syarat penting untuk memasuki pasar internasional.
Selain furniture indoor dan outdoor, Sasana Antik juga mengembangkan berbagai produk berbahan kayu seperti parket, pintu, kaligrafi, hingga kerajinan tangan. Menurut Arifin, inovasi desain menjadi salah satu kunci mempertahankan pasar ekspor di tengah persaingan dengan negara lain.
“Kuncinya menjaga kualitas, tepat waktu dalam produksi, dan selalu mengikuti tren pasar. Sekarang yang banyak diminati adalah perpaduan material kayu dengan logam,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi, dan UKM Kabupaten Rembang, M. Mahfudz mengapresiasi keberhasilan PT Sasana Antik Furniture menembus pasar internasional. Menurutnya, keberhasilan tersebut membuktikan produk mebel Rembang memiliki daya saing tinggi di pasar global.
“Pemerintah Kabupaten Rembang melalui Dindagkop UKM terus memberikan dukungan kepada pelaku usaha, mulai dari pendampingan legalitas dan sertifikasi, fasilitasi promosi dan pameran dagang, hingga membuka akses pasar ekspor. Kami berharap semakin banyak UMKM dan industri mebel Rembang yang mampu mengikuti jejak Sasana Antik sehingga dapat meningkatkan perekonomian daerah,” kata Mahfudz.
Jurnalis: Vicky Rio
Editor: Sekar











