KUDUS, Harianmuria.com – Masyarakat Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus melangsungkan tradisi kirab budaya, Selasa (20/9). Kirab tersebut menjadi serangkaian agenda dari kegiatan Festival Rebo Wekasan Air Salamun.
Ribuan masyarakat tampak antusias menyambut pelaksanaan kirab yang sudah vakum dalam dua tahun terakhir. Total ada 33 kontingen dari berbagai kelompok dengan membawa gunungan hasil bumi, kreasi, dan pertunjukan kirab yang dimulai dari gang Al Ikhlas RW 10 menuju area Masjid Wali Al Ma’mur.
Ketua Panitia Pelaksana, Nur Aziz mengatakan konsep kirab air salamun tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, karena terdapat gunungan hasil bumi dan buah-buahan yang ikut diarak dalam kirab.
Muhammad Ridwan selaku Nadhir Masjid Wali Jepang mengatakan tujuan penyelenggaraan kirab budaya dalam festival air salamun Rebo Wekasan ini bertujuan untuk ngalap berkah dan berdoa menolak bala. Selain itu, masyarakat juga kompak bersedekah untuk mensukseskan kegiatan yang kurang lebih dimeriahkan 1500 an orang.
Banyak warga memadati area pelataran masjid Wali Jepang untuk menonton berbagai pertunjukan. Sedangkan akhir dari serangkaian kirab tersebut, akan diakhiri pembagian air salamun atau air keselamatan dari sumur peninggalan wali Sunan Kudus.
“Ribuan warga ikut memeriahkan, dari anak-anak, madrasah, drumband, kirab gunungan dan sebagainya. Semua dalam rangka sedekah sesuai anjuran Mbah Sunan Kudus,” ujarnya ketika ditemui, Selasa (20/9).
Kirab budaya yang berlangsung sejak tahun 2009 ini sempat berhenti akibat pandemi Covid-19. Hanya saja, pada waktu itu air salamun tetap dibagikan kepada warga meski tanpa dimeriahkan seperti saat ini.
Dinamakan air salamun sendiri, menurut Ridwan, karena membawa keselamatan dan tolak bala. Selain itu, kata ‘salamun’ disebutkan dalam Al-Qur’an sebanyak tujuh kali.
Koordinator Kirab budaya Ti’an Suwandi menambahkan, gunungan-gunungan yang diarak merupakan hasil sedekah warga kepada masjid dan masyarakat desa Jepang pada umunya. Tahun ini, kegiatan kirab air salamun Rebo Wekasan dikoordinir oleh pengurus masjid Wali Al-Makmur Jepang.
Kegiatan ini juga diharapkan dapat mengangkat kearifan lokal Desa Jepang sebagai desa wisata, sekaligus meningkatkan pendapatan dan perekonomian masyarakat sekitar dengan adanya bazar-bazar UMKM.
“Terbukti meningkatkan ekonomi masyarakat karena banyak orang yang laris jualannya. Genap 8 hari itu ada 152 UMKM, ini bisa memunculkan kearifan lokal sekitar masjid,” akunya.
Ke depan, pihaknya berharap kegiatan kirab budaya festival air salamun Rebo Wekasan Desa Jepang bisa semakin meriah dan ramai dikunjungi banyak orang. Baik warga, pengurus masjid dan pemerintah desa guyub rukun melestarikan kebudayaan yang ada di Desa Jepang, Mejobo, Kudus. (Lingkar Network | Hasyim Asnawi – Harianmuria.com)











