BLORA, Harianmuria.com – Dinas Perdagangan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Dindagkop UKM) Blora berencana mengajukan kuota fakultatif gas subsidi ukuran 3 kilogram menjelang Ramadan 1447 Hijriah/2026 Masehi.
Plt Kabid Perdagangan Dindagkop UKM Blora, Indah Yuniatik, mengatakan akan melakukan sidak ke pangkalan untuk mengetahui stok maupun harga di tingkat pangakalan.
“LPG subsidi nanti kita mintakan tambahan fakultatif. Pengawasan nanti kita monev, harga dan stok. Nanti kita lakukan muter (keliling),” ujarnya, Selasa, 3 Februari 2026.
Indah menyampaikan bahwa penambahan kuota fakultatif akan dilakukan bila terdapat aduan kelangkaan dari masyarakat. Namun, ia memastikan saat ini stok LPG masih aman.
“(Saat ini) Belum dirasa perlu, kalo ada kami share. Nanti kalo ada kelangkaan baru meminta tambahan edaran (LPG subsidi),” katanya.
Tahun sebelumnya, sambung Indah, dilakukan hal serupa, dari monev hingga sidak. Namun untuk tahun ini akan ada keterlibatan aparat penegak hukum (APH), sehingga pengawasan LPG subsidi akan lebih ketat.
“Sementara kuota dan permintaan aman. Untuk tahun ini lebih ada tim polres jadi lebih ketat lagi,” katanya.
Lebih lanjut, terkait ketersediaan bahan bakar mesin (BBM) di Kabupaten Blora, Indah juga akan memastikan ketersediaannya. Sementara untuk pengawasan masih dalam tahap melakukan uji Tera ke seluruh SPBU di Kabupaten Blora.
“Seluruh SPBU, kebetulan mereka baru saja melakukan Tera, hasil Tera aman semua,” katanya.
Indah juga telah melakukan penjadwalan sidak terhadap lonjakan permintaan di SPBU maupun SPBE untuk LPG pada akhir Februari dan Maret 2026 menjelang hari raya Idulfitri.
“Ada untuk monev di SPBU dan SPBE. Jelang hari raya nanti. Kita keliling lagi, Untuk SPBU SPBE kita perkirakan dua Minggu sebelum hari raya idul Fitri,” terangnya.
Pihaknya berharap agar ASN di Blora tidak lagi menggunakan LPG subsidi. Sehingga apabila terdapat lonjakan permintaan masyarakat, terlebih menjelang hari raya, tidak terjadi kelangkaan untuk masyarakat.
“Kalau ASN harusnya pake yang non subsidi. Jangan pake pake yang 3 kilo yang subsidi. Jadi harus seperti itu, untuk menghindari kelangkaan (di masyarakat),” harapnya.
Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Ulfa











