• Peta Situs
  • Kerjasama & Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kabar Hari Ini
Jumat, Oktober 16, 2026
harianmuria
  • Home
  • Nasional
  • Berita Daerah
    • Blora
    • Rembang
    • Grobogan
    • Pati
    • Jepara
    • Kendal
    • Demak
    • Kudus
    • Semarang
  • Artikel
    • Biografi
    • Kesehatan
    • Kuliner
    • Lifestyle
    • Parenting
    • Silabus & RPP
    • Tips
    • Travelling
  • Box Redaksi
No Result
View All Result
harianmuria
  • Home
  • Nasional
  • Berita Daerah
    • Blora
    • Rembang
    • Grobogan
    • Pati
    • Jepara
    • Kendal
    • Demak
    • Kudus
    • Semarang
  • Artikel
    • Biografi
    • Kesehatan
    • Kuliner
    • Lifestyle
    • Parenting
    • Silabus & RPP
    • Tips
    • Travelling
  • Box Redaksi
No Result
View All Result
harianmuria
No Result
View All Result

Ngaji NgAllah Suluk Maleman: Kemerdekaan dan Ketlingsutnya Hak-hak Adami

Sekar Sari by Sekar Sari
21 Agustus 2022
in Kajian Agama
73 1
Ngaji NgAllah Suluk Maleman: Kemerdekaan dan Ketlingsutnya Hak-hak Adami | Harianmuria
566
VIEWS
Tanya ChatGPTShare to FacebookWhatsAppTelegram

PATI, Harianmuria.com – Pada momen bulan Agustus ini, majelis Ngaji NgAllah Suluk Maleman mengambil tema ‘Kemerdekaan dan Ketlingsut-nya Hak-hak Adami’ berupaya untuk mengurainya dengan pemaknaan dari sisi lain.

Acara yang digagas oleh Anis Sholeh Ba’asyin ini juga dihadiri oleh dosen Institut Agama Islam (IAIN) Kudus Abdul Jalil, Guru Besar Universitas Negeri Semarang (UNNES), Saratri Wilonoyudho dan dosen UNNES, Ilyas Arifin dan pada Sabtu (20/8)

Sosok yang kerap disapa dengan Habib Anis ini mengingatkan pentingnya memaknai kemerdekaan dalam hubungannya dengan hak-hak adami, atau hak sesama manusia.

Kemerdekaan yang dimaksud yakni setiap individu dalam melakukan sesuatu, diharapkan tidak menganggu apalagi mencederai hak-hak orang lain. Kemerdekaan dalam hal ini, harus berlandas tujuan untuk memuliakan manusia, bukan malah melakukan kehinaan  dengan beragam cara.

“Salah satu hal yang justru perlu diperhatikan adalah: apakah kemerdekaan digunakan untuk mendzolimi orang lain atau tidak? Ini menjadi sangat penting, karena menurut Al Qur’an, pencederaan apalagi pendzoliman pada sesama manusia, adalah jenis dosa yang tak termaafkan bahkan oleh Allah sekali pun, tanpa yang bersangkutan secara sukarela memaafkan kita,” ungkapnya.

Konsep hak-hak sesama manusia atau dalam tradisi Islam dikenal sebagai hak-hak adami, ini pun harus dipahami secara berjenjang. Mulai dari level horizontal, baik personal maupun sosial. Atau level vertikal yang berkait dengan dimensi kuasa, antara yang memimpin dan yang dipimpin, antara negara dengan rakyat dan seterusnya.

“Nah, kalau secara horizontal dan personal, orang perorang saja pelanggaran dan pencederaan hak adami adalah persoalan yang dianggap serius oleh Allah. Tak terbayang tingkat keseriusannya bila ini terjadi secara vertikal, dengan melibatkan lembaga dan kuasa, yang jangkauan pelanggaran dan pencederaan otomatis bersifat masif, melibatkan hampir semua orang yang ada di dalam wilayah kuasanya,” tegas Habib Anis.

Selain itu, Habib Anis juga menjelaskan tentang beberapa contoh dari kemerdekaan yang diciderai.

“Perilaku korup misalnya, adalah salah satu contoh kecil bagaimana kemerdekaan dicederai. Kekayaan yang seharusnya menjadi hak bangsa, rakyat; disedot demi kerakusan segelintir orang dengan memanfaatkan kuasa yang dimilikinya. Jelas ini mengacaukan kehidupan sosial dan merusak substansi kemerdekaan itu sendiri; karena koupsi merampas kemungkinan sejahtera di kalangan bangsa, rakyat. Apalagi bila perilaku korup ini lantas jadi budaya, sungguh tak terbayang dampaknya. Setiap orang yang masuk dalam sistem mau tak tak mau seperti digiring dan dipaksa melakukannya kalau tak ingin diasingkan atau malah disingkirkan. Kalau sudah demikian keadaanya, sungguh tak terbayang besarnya kemungkinan azab yang bisa datang,” terangnya.

Ia pun mengajak kepada setiap orang yang hadir saat itu sekaligus secara umum umat manusia untu mengevaluasi diri atas pelaksanaan hakikat kemerdekaan.

“Maka dari itu kini saatnya kita harus berani introspeksi dan mengevaluasi: mampukah kemerdekaan kita selenggarakan tanpa melanggar dan mencederai hak orang lain, hak rakyat, hak bangsa?,”tanyanya.

Di lain sisi, Saratri Wilonoyudho menyayangkan jika di era kemerdekaan saat ini justru banyak peninggalan leluhur yang semakin menghilang. Tidak hanya kekayaan alam, tapi juga kesenian, teknologi, bahasa maupun berbagai kekayaan luhur lainnya.

“Padahal itu modal kekuatan bangsa ini. Kekayaan alam sudah semakin tergerus lantaran kerakusan para koruptor,” katanya.

Dalam hal teknologi misalnya, Indonesia memiliki sistem persenjataan yang kuat seperti keris yang terbuat dari puluhan lapis, kapal yang banyak diakui terbaik di masanya.

“Kita juga punya obat-obatan herbal. Namun karena itu tidak ada di barat, seolah-olah obat herbal dianggap tidak berkhasiat. Borobudur juga, itu juga menunjukkan betapa hebatnya leluhur kita di zaman dulu,” tambahnya.

Persoalan dunia pendidikan pun saat ini dinilai kian merosot. Pendidikan banyak dikomersialisasi dan hanya mengejar ranking serta demi kebutuhan pekerjaan belaka.

“Padahal nenek moyang kita dulu benar-benar luar biasa dalam mencari ilmu. Tapi sekarang ini banyak yang hanya mengejar gelar bukan ilmu. Inilah yang menyebabkan derajat kita tak pernah naik, dan tentu saja ini memperlemah posisi kita sebagai sebuah bangsa,” tambahnya.

Pola pandang seperti itu pulalah yang disebut Saratri sebagai salah satu penyebab utama terjadinya perilaku korup. Banyaknya orang yang dihormati hanya karena kekayaannya, maka tak mengherankan bila kemudian banyak yang berlomba mengejar untuk menjadi kaya. Sehingga mau melakukan apapun, termasuk melanggar aturan.

Sementara itu, Abdul Jalil mengingatkan bahwa kata merdeka memiliki makna yang begitu baik. Merdeka jika diserap dari bahasa sansekerta maka berasal dari kata Maha Ardika. Dimana ada empat poin kunci yakni pengetahuan, kebijakan, kekuatan dan kekayaan.

“Empat hal itu sendiri sebenarnya telah ada di Pancasila. Kalau kita pakai kata kemerdekaan dalam pengertian tersebut, sebenarnya kita bisa mengatakan bahwa bangsa yang merdeka adalah bangsa yang cerdas, bijak, punya kekuatan dan sejahtera. Bila empat parameter tersebut tidak ada, maka kita tidak atau belum bisa menyebut bangsa tersebut sebagai bangsa yang merdeka. Nah, berdasar parameter tersebut, mestinya kita masing-masing bisa membuat penilaian: sudahkah kita mencapai kemerdekaan?”

Menggaris-bawahi pendapat tersebut, Ilyas Arifin mengatakan bahwa kondisi rakyat Indonesia hampir seperti banyak kondisi negara yang dikategorikan berkembang, sedang kemerdekaan justru sering ditandai dengan mengerucutnya kekuatan dan kekayaan pada kelompok kecil. Sementara pihak yang berkuasa seolah meninggalkan yang lain di samudra ketidak-berdayaan dan kemiskinan.

“Dari semua itu, yang paling mengenaskan adalah kenyataan bahwa yang selalu tersingkir dan hampir selalu menjadi korban pertamanya adalah pengetahuan dan kebijakan, dan orang-orang yang setia terhadapnya,” tuturnya. (Lingkar Network | Harianmuria.com)

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari harianmuria.com
Tags: Anis Sholeh Ba’asyinKemerdekaanNgaji NgAllah Suluk Maleman
SummarizeShare41SendShare
Previous Post

Hari Maritim Bukan 21 Agustus, Tapi Diperingati Pada Tanggal Ini

Next Post

Jalin Kerja Sama, RSUD Kudus Kawal Kesehatan Pemain Persiku

Sekar Sari

Sekar Sari

Berita Terkait

NgAllah Suluk Maleman: Kita, Agama dan Kuasa

NgAllah Suluk Maleman: Kita, Agama dan Kuasa

by ulfa puspa
25 Mei 2026
703

PATI, Harianmuria.com – Penyalahgunaan relasi kuasa patut menjadi bahan perenungan yang serius. Keberadaan ilmu tentu menjadi penting untuk mencegah persoalan itu terjadi di tengah carut marut saat ini....

Refleksi mendalam Anis Sholeh Ba’asyin dalam Suluk Maleman edisi 168 tentang runtuhnya empat saka guru bangsa dan tantangan peradaban Indonesia hari ini.

Suluk Maleman Edisi 168: Merekonstruksi Empat Saka Guru Bangsa

by Basuki
22 Desember 2025
740

Refleksi mendalam Anis Sholeh Ba’asyin dalam Suluk Maleman edisi 168 tentang runtuhnya empat saka guru bangsa dan tantangan peradaban Indonesia hari ini.

Ngaji NgAllah Suluk Maleman edisi 167 menekankan manusia bukan sumber kebenaran.

Suluk Maleman Edisi 167: Manusia Bukan Sumber Kebenaran

by Basuki
17 November 2025
695

Ngaji NgAllah Suluk Maleman edisi 167 menekankan manusia bukan sumber kebenaran. Anis Sholeh Ba’asyin ajak warga bersihkan persepsi dan hindari kebencian di media sosial.

Suluk Maleman edisi 166 mengangkat tema "Sejarah Dimulai Dari Rumah" yang menyoroti peran ibu sebagai pusat peradaban dan pentingnya pendidikan dalam keluarga menghadapi tantangan kapitalisme.

Suluk Maleman Edisi 166: Ibu Adalah Punjer Peradaban

by Basuki
20 Oktober 2025
554

Suluk Maleman edisi 166 mengangkat peran ibu sebagai pusat peradaban. Anis Sholeh Ba’asyin dan Abdul Jalil mengkritik kapitalisme dan pentingnya pendidikan perempuan.

Load More

BERITA UTAMA

Investor Jepang Ingin Bangun Pabrik Biometan di Blora, Bupati: Lirik Potensi Limbah Pertanian

Investor Jepang Ingin Bangun Pabrik Biometan di Blora, Bupati: Lirik Potensi Limbah Pertanian

16 Oktober 2026
539
Festival Literasi Blora 2026 Digelar 4 Hari, Bupati Dorong Budaya Baca hingga Desa

Festival Literasi Blora 2026 Digelar 4 Hari, Bupati Dorong Budaya Baca hingga Desa

15 Oktober 2026
529
RSU Permata Tambah 10 Unit ICU Baru, Bupati Blora: Utamakan Keselamatan Pasien

RSU Permata Tambah 10 Unit ICU Baru, Bupati Blora: Utamakan Keselamatan Pasien

14 Oktober 2026
530
Rembang Bisa Hemat Rp300 M Jika Gaji PPPK Dibayar Pusat, Bupati: Tapi TKD Harus Tetap

Rembang Bisa Hemat Rp300 M Jika Gaji PPPK Dibayar Pusat, Bupati: Tapi TKD Harus Tetap

13 Oktober 2026
546

TRENDING HARI INI

  • Didanai APBN Rp400 Juta, Pemkab Kudus Buka 5 Kelas Pelatihan Kerja

    Didanai APBN Rp400 Juta, Pemkab Kudus Buka 5 Kelas Pelatihan Kerja

    98 shares
    Share 39 Tweet 25
  • Investor Jepang Ingin Bangun Pabrik Biometan di Blora, Bupati: Lirik Potensi Limbah Pertanian

    97 shares
    Share 39 Tweet 24
  • Kemarau Panjang, Warga Sambongrejo Blora Mulai Krisis Air Bersih

    101 shares
    Share 40 Tweet 25
  • KPK Tangkap Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo: Diduga Suap BPK dan Pengadaan Barang Jasa

    97 shares
    Share 39 Tweet 24
  • Masih Ada SPPG Tak Serap Telur Lokal, Peternak Kendal Minta BGN Tindak Tegas

    208 shares
    Share 83 Tweet 52
  • Gubernur Jateng Tanggapi Kabar Bupati Klaten Terjaring OTT KPK

    96 shares
    Share 38 Tweet 24
  • OTT KPK di Klaten: Uang Rp1 Miliar Disita, 20 Orang Diamankan Termasuk Bupati Klaten

    95 shares
    Share 38 Tweet 24
Harian Muria

Harian Muria Merupakan Media Online Tersertifikasi Dewan Pers Dengan Nomer 1287/DP-VERIFIKASI/K/X/2024

Penerbit :
PT. Mediatama Anugrah Pers
SK. Kemenkumham RI Nomor : AHU-0008754.AH.01.01.TAHUN 2023

PILIHAN EDITOR

Rembang Catat Angka Terendah Kematian Ibu dan Bayi 2025 Lewat Program TELPONI

Rembang Catat Angka Terendah Kematian Ibu dan Bayi 2025 Lewat Program TELPONI

30 Juli 2026
652
Orang yang berjualan takjil. (Unsplash/Harianmuria.com)

10 Ide Bisnis Selama Bulan Ramadan, Dijamin Laris

22 Februari 2023
596

IKUTI SOSMED KAMI

  • Peta Situs
  • Box Redaksi
  • Kerjasama & Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

© 2026 Harian Muria - Portal Berita Muria Raya dan Sekitarnya

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Berita Daerah
    • Blora
    • Demak
    • Grobogan
    • Jepara
    • Kendal
    • Kudus
    • Pati
    • Rembang
    • Semarang
  • Artikel
    • Biografi
    • Kesehatan
    • Kuliner
    • Lifestyle
    • Parenting
    • Silabus & RPP
    • Tips
    • Travelling
  • Box Redaksi
  • Kerjasama & Iklan

© 2026 Harian Muria - Portal Berita Muria Raya dan Sekitarnya