SEMARANG, Harianmuria.com – Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Jawa Tengah mengungkap luas tanam padi mengalami penurunan hingga 20 persen. Hal itu diakibatkan kekeringan yang melanda sejumlah wilayah di Jateng selama musim kemarau.
Kepala Distanak Jateng Defransisco Dasilva Tavares mengatakan terdapat enam wilayah yang menjadi perhatian karena rawan kekeringan. Diantaranya Wonogiri, Blora, Rembang, Grobogan, Jepara, dan sebagian wilayah Cilacap.
“Itu beberapa lokasi yang kita pantau karena kekeringannya lebih dulu,” kata Frans saat diwawancarai, Kamis, 27 Agustus 2026.
Tavares mengatakan hingga bulan juli 2026, luas tanam padi mengalami penurunan hingga 20 persen. Hal ini mengakibatkan aktivitas penanaman para petani berkurang karena masalah keterbatasan air.
“Turun sekitar 20 persen, tapi itu laporan yang angkanya masih bisa berbeda, karena penyuluh juga di lapangan, ini laporan dari Kabupaten per bulan lalu (Juli),” tegasnya.
Menindaklanjuti hal tersebut, pihaknya bekerjasama dengan pemerintah kabupaten, Kementerian Pertanian, penyuluh, Bank Indonesia, dan BBWS dalam menyediakan air untuk mempertahankan produksi padi dan menjaga pasokan air ke lahan pertanian.
“Selain menjaga pasokan air, pemerintah juga menyiapkan perlindungan bagi petani melalui asuransi. Tahun 2026, asuransi pertanian disiapkan untuk 10.400 hektar lahan padi yang tersebar di 29 kabupaten dan Kota Semarang,” katanya.
Untuk daerah yang sulit mendapat air, pemerintah menyiapkan sumur dalam dan sumur dangkal. Air kemudian dialirkan menggunakan pompa dan pipa menuju lahan pertanian.
Pihaknya juga memastikan kepada para petani yang mengalami gagal panen akibat serangan hama maupun kekeringan bisa mengajukan klaim bantuan dengan syarat kerusakan lahan mencapai 75 persen dan telah melalui pemeriksaan.
“Kalau gagalnya 75 persen, kondisinya tidak bisa diselamatkan dari luasan itu, otomatis diganti, biasanya Rp6 juta per hektar untuk mengganti kerugiannya,” jelasnya.
Meski luas tanam menurun, Distanak tetap menargetkan produksi gabah kering giling 10,5 juta ton pada 2026. Salah satu strategi yang didorong yakni meningkatkan produktivitas lahan melalui pertanian modern dengan metode PMAAS (Pertanian Modern-Advanced Agricultural System)
“Jadi Pertanian Modern-Advanced Agriculture System itu dia model tanamnya seperti jajar legowo, tapi dia tanamnya justru lebih banyak benihnya, karena langsung tidak pakai model pembibitan dulu terus bisa dipindahkan ke lahan, sehingga menghemat waktu dua minggu untuk persemaian, karena tanam langsung terus hasilnya (produksi padi) lebih tinggi,” pungkasnya.
Jurnalis: Rizky Syahrul
Editor: Tia











