REMBANG, Harianmuria.com – Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Rembang mengungkap minat budi daya kerang hijau masih minim meskipun tingkat konsumsinya cukup tinggi.
Kepala Bidang Budidaya DKP Rembang, Pramujo, mengatakan budi daya kerang hijau memiliki peluang pasar yang besar karena tingkat konsumsi masyarakat terbilang tinggi.
“Untuk peminat atau konsumsi masyarakat sebenarnya cukup tinggi, tetapi untuk pembudidayanya sendiri masih minim. Sementara potensi pasarnya masih besar,” kata Pramujo, Kamis, 27 Agustus 2026.
Budi daya kerang hijau dinilai memiliki prospek ekonomi yang cukup menjanjikan apabila dikembangkan secara berkelanjutan.
Salah satu tantangan dalam budi daya kerang hijau adalah waktu tunggu hingga siap dipanen. Pembudidaya harus menunggu kerang tumbuh sebelum dapat dipasarkan.
Meski demikian, DKP Rembang terus mendorong pengembangan budi daya kerang hijau melalui pembinaan.
“Peran kami saat ini sifatnya pembinaan kepada para pembudidaya,” jelasnya.
Salah satu pembudidaya kerang hijau di Desa Purworejo, Kuslan, menceritakan bahwa aktivitas budi daya di wilayahnya bermula dari warga yang lebih dahulu mencoba usaha tersebut.
Melihat hasil yang cukup menjanjikan, masyarakat lainnya kemudian tertarik. Perkembangan tersebut semakin terasa sejak sekitar 2021, ketika sejumlah warga mendapatkan bantuan pribadi berupa sarana budi daya.
“Awalnya ada tetangga yang membuat kerang hijau. Hasilnya lumayan. Kemudian ada yang memberikan bantuan pribadi berupa bambu dan perlengkapan untuk warga yang mau mencoba,” ujar Kuslan.
Dari yang semula hanya beberapa orang, jumlah warga yang ikut membudidayakan kerang hijau terus bertambah.
Kuslan menyebut, pada periode awal terdapat sekitar 42 orang yang mendapatkan bantuan sarana budi daya dari pengusaha pabrik Bulu Raya berupa Batang bambu atau kayu berukuran besar untuk metode tancap, drum kosong (plastik atau besi) sebagai pelampung jika memakai rakit apung, tali PE atau jaring kolektor tempat menempelnya bibit kerang (spat).
Seiring waktu, sebagian pembudidaya kemudian menambah sendiri sarana budidayanya karena melihat peluang pendapatan yang semakin menjanjikan.
“Berjalan 6 sampai 7 bulan, alhamdulillah hasilnya lumayan. Tahun berikutnya masih ada bantuan lagi. Lama-lama karena masyarakat ingin penghasilannya lebih besar, ada yang menambah sendiri,” katanya.
Kini, permintaan kerang hijau dari Purworejo terbilang cukup tinggi. Bahkan, hasil budi daya di kawasan RT 03 RW 02 disebut kerap habis terserap pasar.
Dalam kondisi normal, permintaan dapat mencapai sekitar 7–8 kuintal per hari. Sedangkan pada momentum tertentu seperti Tahun Baru dan Lebaran, kebutuhan pasar dapat meningkat hingga sekitar 3 ton, 3,5 ton, bahkan mencapai 4 ton.
“Kalau sehari sampai tujuh kuintal hingga delapan kuintal. Kalau musim Tahun Baru sama Lebaran bisa sampai tiga ton, tiga setengah ton, bahkan empat ton,” ungkapnya.
Pasarnya pun tidak hanya berada di sekitar Kabupaten Rembang. Kerang hijau hasil budi daya warga Purworejo telah dipasarkan ke sejumlah daerah, seperti Jepara, Pati, Juwana, Kudus, Semarang hingga Weleri Kabupaten Kendal.
Dari sisi harga, kerang hijau saat ini berada di kisaran Rp7.000–Rp7.500 per kilogram. Dengan kapasitas produksi dan permintaan tersebut, Kuslan menyebut omzet pembudidaya dapat mencapai sekitar Rp10 juta per bulan.
Kuslan mengapresiasi perhatian Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Rembang terhadap para pembudidaya kerang hijau. Menurutnya, pihak dinas telah beberapa kali datang langsung ke lokasi untuk melihat aktivitas budidaya masyarakat.
“Dari dinas sudah beberapa kali datang ke lokasi. Kalau tidak salah sekitar empat kali datang dan melihat langsung lokasi,” ujarnya.
Menurut Kuslan, kunjungan tersebut menunjukkan adanya perhatian pemerintah terhadap potensi ekonomi yang tumbuh dari masyarakat pesisir.
Ia berharap pembinaan dapat terus dilakukan dan diikuti dukungan sarana produksi. Sebab, kebutuhan pembudidaya relatif sederhana, namun penting untuk keberlangsungan usaha, seperti bambu dan tali untuk media budidaya.
“Kalau nelayan seperti ini yang dibutuhkan itu bambu, tali tambang bekas kapal, sama tali ukuran sekitar empat milimeter. Itu saja sebenarnya sudah membantu,” jelasnya.
Selain bantuan sarana, pembudidaya juga berharap adanya penataan maupun sertifikasi lokasi budidaya sehingga keberadaan masing-masing area dapat lebih jelas dan tertata.
Kuslan menilai, apabila dukungan tersebut terus diperkuat, budidaya kerang hijau berpeluang menjadi salah satu sektor ekonomi unggulan masyarakat pesisir Purworejo.
“Harapannya dari dinas kelautan bisa memberikan solusi. Kalau ada bantuan-bantuan untuk pembudidaya, alhamdulillah, itu sangat membantu,” pungkasnya.
Jurnalis: Vicky Rio
Editor: Ulfa











