SEMARANG, Harianmuria.com – Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Jawa Tengah akan mengalihkan sekolah kemitraan yang sepi peminat ke sekolah lain untuk melengkapi sisa kuota yang belum terpenuhi.
Plt Sekretaris Disdik Jateng, Sunarto, mengatakan hingga SPMB berakhir daya tampung di sekolah kemitraan hanya terpenuhi 3.663 dari 5.004 kursi yang disediakan bagi siswa dari keluarga desil 1 sampai desil 4 pada tahun ajaran 2026/2027.
“Hingga SPMB selesai baru 3.663 siswa yang dinyatakan diterima. Terdiri atas 1.063 siswa SMA dan 2.600 siswa SMK. Artinya, tingkat keterisian mencapai 73,18 persen. Kini masih ada sekitar 1.342 kursi kosong,” terangnya.
Progam sekolah kemitraan yang digagas Pemerintah Provinsi Jateng ini menggandeng 139 SMK/SMA swasta yang terdiri dari 56 SMA dan 83 SMK. Namun, dari sekolah swasta yang bekerja sama dengan Pemprov Jateng tersebut terdapat enam sekolah yang sama sekali tidak mendapatkan murid, yakni SMA Islam Kandangan Temanggung, SMA Muhammadiyah 1 Wonogiri, SMA Mardisiswa Semarang, SMA Rifaiyah Rowosari Kendal, SMK Islam Sudirman Kedungjati Grobogan, dan SMA Muhammadiyah Sayung Demak.
“Karena itu (tidak ada peminat) atas arahan Pak Kepala Dinas, kuota 5.004 itu untuk dilakukan optimalisasi. Kita sekarang juga sedang melakukan upaya pemenuhan kuota,” katanya.
Sekolah Kemitraan Rangkul Siswa dari Keluarga Prasejahtera, Gubernur Jateng Titip Pesan Ini
Sunarto menjelaskan bahwa sekolah mitra yang sepi peminat diganti dengan sekolah swasta lain yang lebih banyak dilirik murid baru. Salah satunya SMK Muhammadiyah 5 Purwantoro, Wonogiri, yang kini menampung 52 siswa dari desil 1 sampai 4.
Kabupaten Wonosobo juga menjadi daerah yang membutuhkan sekolah setelah pemerintah daerah melaporkan masih ada anak dari keluarga kurang mampu yang belum mendapatkan sekolah.
Disdik Jateng telah merespons dengan menyiapkan SMA Muhammadiyah Wonosobo untuk menjadi sekolah mitra.
“Maka kita juga akan buka di SMA Muhammadiyah Wonosobo, kemarin sementara ini baru dua anak yang sudah terlaporkan menjadi siswa kemitraan,” terangnya.
Pola tersebut juga diterapkan di wilayah lain. Disdik masih menyisir calon siswa yang belum mendapatkan sekolah hingga batas pemutakhiran data pada 31 Agustus.
Menurut Sunarto, daerah yang paling banyak membutuhkan sekolah mitra ialah di wilayah cabang dinas 10, yakni meliputi Banyumas dan Cilacap. Lalu di cabang dinas 9 di Purbalingga yang memiliki kebutuhan tinggi.
“Di kantong-kantong itu banyak anak afirmasi yang butuh intervensi,” akunya.
Hingga kini, Sunarto mengaku belum ada laporan siswa yang keluar di tengah jalan. Kini yang terpenting adalah anak-anak dari keluarga kurang mampu tetap punya kesempatan belajar, gratis tanpa biaya, dan tidak mengalami diskriminasi maupun perundungan.
“Mereka dibebaskan dari pembebanan biaya, dapat seragam, dan sekolah menerima BOS plus hibah afirmasi Rp2 juta per siswa per tahun dari APBD Provinsi,” pungkasnya.
Jurnalis: Rizky Syahrul
Editor: Ulfa











