REMBANG, Harianmuria.com – Perputaran uang selama penyelanggaraan Rembang Expo 2026 mencapai sekitar Rp4,5 miliar di luar pendapatan dari wahana dinosaurus.
“Selama kegiatan Rembang Expo itu rata-rata perputaran uang setiap harinya sekitar Rp450 juta,” kata Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi dan UKM (Dindagkop UKM) Kabupaten Rembang, M. Mahfudz, Selasa, 11 Agustus 2026.
Nilai tersebut berasal dari transaksi para pelaku usaha yang mengisi stan expo. Pedagang dari luar daerah rata-rata mampu memperoleh pendapatan sekitar Rp4 juta hingga Rp5 juta per hari.
Sementara itu, omzet UMKM lokal Rembang bervariasi. Rata-rata berada di kisaran Rp1 juta hingga Rp3 juta per hari, meski terdapat sejumlah pelaku usaha yang mampu mencatat pendapatan lebih tinggi.
“Kalau yang kecil-kecil itu hampir Rp1 juta sampai Rp2,5 juta sampai Rp3 juta untuk UMKM lokal. Ada juga yang melebihi, seperti yang jual dimsum,” jelasnya.
Mahfudz menilai perputaran ekonomi pada Rembang Expo tahun ini lebih besar dibandingkan pelaksanaan tahun sebelumnya. Bahkan, angka tersebut belum memasukkan transaksi dari wahana dinosaurus yang turut menjadi daya tarik pengunjung.
Wahana dinosaurus rata-rata mampu menjual sekitar 2.000 hingga 3.000 tiket per hari, dengan harga tiket Rp20 ribu.
“Kalau secara global sekitar Rp4,5 miliar, itu belum termasuk dinosaurus,” ujarnya.
Di balik besarnya transaksi selama Expo, Mahfudz melihat adanya perkembangan positif pada sebagian UMKM lokal Rembang.
Dari sekitar 60 UMKM lokal yang mengikuti expo, terdapat sekitar 20 UMKM yang dinilai sudah mampu mengimbangi pendapatan pelaku usaha dari luar daerah.
“Dari sekitar 60 UMKM lokal itu, sekitar 20 yang sudah mampu mengimbangi. Pendapatannya hampir sama dengan UMKM dari luar daerah,” ungkapnya.
Kendati begitu, kondisi tersebut sekaligus menunjukkan masih adanya pekerjaan rumah bagi pemerintah daerah. Sebab, sebagian UMKM lokal lainnya masih tertinggal dari sisi omzet jika dibandingkan dengan pedagang dari luar daerah.
Menurut Mahfudz, salah satu faktor yang memengaruhi adalah produk yang ditawarkan. Produk makanan kekinian dinilai menjadi jenis usaha yang paling banyak diminati pengunjung.
“Yang paling diminati itu menu-menu makanan, terutama makanan kekinian. Sementara produk seperti olahan ikan atau olahan yang dikemas masih terbatas peminatnya,” katanya.
Mahfudz berharap pengalaman mengikuti Rembang Expo dapat menjadi momentum bagi UMKM lokal untuk meningkatkan kualitas produk sekaligus keberanian dalam memperluas pasar.
Ia mendorong pelaku UMKM Rembang tidak hanya mengandalkan pasar lokal, tetapi mulai berani mengikuti berbagai pameran atau expo di daerah lain.
“UMKM lokal harus mampu bersaing, berani keluar. Jangan hanya di Rembang saja mengisi stan. Kalau ada Expo di Blora, Pati atau daerah lain, kami berharap UMKM lokal berani menjual produknya dan berani bersaing,” tegasnya.
Menurutnya, kemampuan bersaing di luar daerah penting agar produk UMKM Rembang semakin dikenal sekaligus mendorong peningkatan omzet.
Pemkab Rembang berharap gelaran serupa dapat kembali dilaksanakan pada momentum Hari Jadi Kabupaten Rembang. Evaluasi terhadap pelaksanaan tahun ini akan menjadi bahan penyempurnaan untuk penyelenggaraan berikutnya.
“Harapannya tahun depan bisa dilaksanakan lagi dengan penyempurnaan, baik dari sisi kebaikan maupun kekurangan yang ada tahun ini,” pungkasnya.
Jurnalis: Vicky Rio
Editor: Ulfa











