SURABAYA, Harianmuria.com – Salah satu putri terbaik kelahiran Blora, Prof. Dr. Fajar Astuti Hermawati, resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar di Universitas 17 Agustus 45 (Untag) Surabaya, Selasa, 16 September 2025.
Bupati Blora, Arief Rohman, yang hadir dalam pengukuhan itu, mengaku bangga karena Fajar Astuti merupakan kakak kelasnya di SMAN 1 Blora.
“Selamat, ini luar biasa. Putri asli Blora yang lahir di tengah hutan kini menjadi Guru Besar. Pencapaian ini membanggakan warga Blora dan menginspirasi generasi muda,” ujar Bupati Arief.
Jejak Pendidikan dan Karier
Fajar Astuti Hermawati lahir pada 10 September 1972 di Blora, dari keluarga yang sebagian besar berprofesi sebagai guru. Ia menempuh pendidikan dasar di SD Jetis 2 dan SDN Kedungjen, lalu melanjutkan ke SMPN 1 Blora, aktif sebagai Sekretaris OSIS dan Ketua Regu Pramuka, termasuk mengikuti Jambore Nasional di Cibubur pada 1981.
Di SMAN 1 Blora, Fajar menjadi bendahara OSIS dan aktif dalam berbagai organisasi. Setelah lulus, ia diterima di tiga perguruan tinggi sekaligus: STAN, ST Telkom, dan ITS. Karier akademiknya dimulai sebagai dosen di Untag Semarang pada 1997.
Sejak itu, Fajar dikenal sebagai akademisi yang rendah hati, pekerja keras, dan aktif dalam publikasi ilmiah. Ia juga terlibat dalam berbagai program riset, termasuk mendukung percepatan penanggulangan Covid-19 melalui Task Force Riset dan Inovasi Teknologi Covid-19 (TFRIC19). Pada 2022, sebagai Dosen Prodi Teknik Elektro Untag Surabaya, ia memperoleh hibah World Class Professor (WCP) dari Ditjen Dikti Kemendikbud RI.
Kolaborasi dan Kontribusi untuk Blora
Bupati Arief berharap pengukuhan ini menjadi awal kerja sama antara Untag Surabaya dan Pemkab Blora, terutama dalam pengembangan SDM dan program satu desa dua sarjana. Fajar juga pernah melakukan penelitian di Blora pada 2016, 2017, dan 2019, yang diharapkan bisa memperkuat kolaborasi akademik.
Sosok di Mata Keluarga
Menurut sang suami, Dr. I Made Kastiawan, Fajar adalah sosok pekerja keras yang menekuni ilmu demi mahasiswa, sekaligus mencintai keluarga. Kegiatan sehari-harinya, termasuk memasak, dianggap sebagai wujud filosofi pendidikan: berani mencoba hal baru dan belajar dari kegagalan.
Pamannya, Hendro Basuki, menambahkan bahwa Fajar memiliki DNA guru dan kecintaan pada ilmu pengetahuan. Pilihan menjadi dosen dianggap sebagai panggilan nurani, menghubungkan nasionalisme, teknologi, dan pendidikan.
Sumber: Pemkab Blora
Editor: Basuki











