KAB. SEMARANG, Harianmuria.com – Jalan alternatif Ungaran–Demak di Dusun Bandungan, Desa Kalongan, Kabupaten Semarang, mengalami longsor parah sejak tahun 2022. Akibatnya, ruas jalan yang dahulu menjadi jalur penting penghubung kini berubah menjadi jurang curam dan tidak bisa dilalui kendaraan apa pun.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Semarang melalui Dinas Pekerjaan Umum (DPU) terus berupaya mencari solusi permanen atas bencana tersebut dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk pemerintah pusat.
Pemkab Koordinasi dengan Pemerintah Pusat
Kepala DPU Kabupaten Semarang, Valeanto Soekendro, mengatakan pihaknya masih menjalin koordinasi dengan sejumlah instansi terkait, mulai dari Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP), Kementerian Pekerjaan Umum (PU), hingga Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Tengah.
“Kami terus mencari solusi terbaik bersama pemerintah pusat dan provinsi untuk mengatasi longsoran di Desa Kalongan,” ujar Kendro, Selasa, 14 Oktober 2025.
Dari hasil kajian teknis, di bawah titik longsor ternyata terdapat sumber mata air besar yang menjaga kelembapan tanah dan memicu pergeseran tanah secara terus-menerus. Akibatnya, pergerakan tanah di lokasi tersebut masih terjadi, meski tidak separah tahun sebelumnya.
Longsor Capai 31,5 Hektare, Akses Jalan Ditutup
Kendro menjelaskan, area longsor di jalur alternatif Ungaran–Demak itu mencapai 31,5 hektare dengan ketinggian sekitar 75 meter dan kemiringan hingga 67 derajat. Karena tingkat bahaya yang tinggi, Pemkab Semarang menutup total jalan tersebut untuk umum.
“Kami alihkan akses ke jalur lain agar tidak membahayakan warga. Warga juga kami imbau agar tidak mendekat ke lokasi, karena masih rawan longsor susulan,” tegasnya.
Pemkab juga berencana menutup jalan itu secara permanen, lantaran pergerakan tanah terus terjadi dan dikhawatirkan menimbulkan korban jiwa.
Fenomena Tanah Bergerak Masih Terjadi
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Semarang, Alexander Gunawan Tribiantoro, menuturkan bahwa fenomena tanah bergerak tidak hanya terjadi di Desa Kalongan.
“Ada juga di Dusun Sedono, Desa Genting, Kecamatan Jambu, serta beberapa titik lain di Kabupaten Semarang,” ungkapnya.
Meski status darurat di Kalongan sudah menurun menjadi tahap rehabilitasi konstruksi, pemerintah masih melakukan kajian untuk menentukan langkah rekonstruksi yang paling tepat.
Sebagai langkah antisipatif, BPBD telah memasang sistem peringatan dini (EWS/Early Warning System) di sekitar lokasi untuk memberi sinyal kepada warga jika terjadi potensi longsor susulan.
“Longsor di sana masih mungkin terjadi, jadi kami pasang EWS agar masyarakat bisa lebih waspada,” pungkas Alex.
Jurnalis: Lingkar Network
Editor: Basuki











