KAB. SEMARANG, Harianmuria.com – Per Jumat (17/1), harga cabai di Kabupaten Semarang tembus Rp 100 ribu lebih per kilogram (kg). Namun pedagang komoditas cabai di Ungaran, Kabupaten Semarang mengaku tidak kekurangan pembeli.
Seorang pedagang di Pasar Bandarjo, Ungaran Barat, Kartinah (60) mengungkap bahwa harga cabai rawit merah tembus Rp 100 ribu per kg.
“Sudah semingguan ini harga cabai rawit merah naik terus. Terakhir beli untuk dijual itu Rp 90 ribu per kilogram, sampai naik terus di harga Rp 95 ribu per kilogramnya. Sekarang Rp 100 ribu per kilogram,” ungkap Kartinah, belum lama ini.
Dirinya pun mengaku tidak mengambil banyak keuntungan. “Mahal (harga cabai), jadi tidak ambil untung banyak-banyak. Kasihan pembeli nanti,” sambungnya.
Namun meski harga komoditas cabai rawit merah naik dua kali lipat, ia mengaku tidak ada penurunan jumlah pembeli cabai rawit merah di lapaknya.
“Alhamdulillah, tidak ada yang protes, juga tidak ada penurunan jumlah pembeli, masih tetap saja ada yang beli walau eceran. Misal beli cabai Rp 5 ribu atau Rp 10 ribu untuk beli cabai rawit merah ini,” imbuh dia.
Sementara dilihat dari data Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskumperindag) Kabupaten Semarang, harga cabai rawit merah di Ungaran rata-rata mencapai Rp 83.333 per kilogram. Sedangkan cabai rawit hijau rata-rata Rp 73.333 per kilogram dan cabai merah keriting Rp 63.333 per kilogram.
Seorang petani cabai di Desa Sidomukti, Kecamatan Bandungan, Anthony Cahyono (45) menyebutkan, bahwa kenaikan harga cabai dipicu turunnya hasil panen cabai akibat tanaman busuk.
“Sering kabut di sini karena musim hujan. Jadi lahan cabai saya yang memiliki luas dua petak ini rusak semua tanamannya karena hujan dan kabut tebal,” ungkapnya.
Kenaikan, menurutnya, juga dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti meningkatnya permintaan cabai, merajalelanya lalat buah, hingga menurunnya jumlah hasil panen.
“Ditambah lagi munculnya lalat buah yang merajalela kalau musim hujan, ini yang menyebabkan banyak daun-daun cabai pada jadi busuk, hasilnya di buah cabainya tidak maksimal,” kata Anthony.
“Biasanya kalau normal, sekali petik di lahan cabai dua petak ini bisa dapat 25 sampai 30 kilogram, tapi kalau sekarang ini hanya dapat 10 kilogram. Kalau turun lagi nanti hasil panennya, ya kami semua dan petani cabai menangis,” sebutnya.
Terpisah, Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Pangan (Dispertanikap) Kabupaten Semarang, Moh. Edy Sukarno menambahkan bahwa ketersediaan komoditas cabai di wilayah setempat masih aman.
“Bahkan di Kabupaten Semarang tidak ada petani cabai yang gagal panen, ya memang permintaannya begini. Apalagi sebentar lagi akan masuk bulan Ramadhan, jadi permintaannya juga meningkat,” paparnya.
Ia juga menegaskan, kondisi ketersediaan yang cukup ini juga terjadi di komoditas sayuran lainnya di musim penghujan seperti ini.
“Ketersediaannya cukup semuanya, sayuran, cabai ini ada semua stoknya, artinya aman meski sekarang cuaca masuk di musim penghujan, artinya masih aman untuk stok dan ketersediaannya,” pungkasnya. (Hesty Imaniar | Harianmuria.com)











