BLORA, Harianmuria.com – Sebanyak 14 kecamatan di Kabupaten Blora berpotensi mengalami kekeringan berkepanjangan seiring perkiraan terjadinya fenomena El Nino dan musim kemarau panjang tahun ini.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Blora, Mulyowati, mengatakan pihaknya masih menunggu arahan resmi dari pemerintah pusat dan provinsi sebelum menentukan langkah penanganan.
“Kami masih menunggu surat edaran resmi dari BNPB dan BPPD Provinsi Jawa Tengah untuk langkah apa yang akan kami tempuh,” ujarnya, Senin, 13 Apil 2026.
Selain itu, pihaknya juga berencana segera menggelar rapat koordinasi (rakor) untuk membahas kesiapsiagaan menghadapi potensi kekeringan.
“BPBD Kabupaten baru akan laksanakan rakor Kekeringan,” tandasnya.
Di sisi lain, dampak kekeringan telah menjadi fenomena rutin di sejumlah wilayah, salah satunya Kecamatan Jati. Warga setempat bahkan sudah terbiasa menghadapi krisis air bersih setiap musim kemarau.
Kepala desa setempat, Catur, menyebut kekeringan bukan lagi hal baru bagi masyarakatnya. Menurutnya, keterbatasan sumber air menjadi persoalan utama ketika musim kemarau tiba.
“Yang paling terasa itu sulitnya air bersih. Karena sumur-sumur milik warga semua sudah kering,” katanya.
Sebagai langkah antisipasi, warga telah menyiapkan tempat penampungan air berkapasitas besar dan mengandalkan pasokan dari penjual air.
“Tentunya airnya beli dari penjual air langganan mereka. Biaya hidup nambah, tapi warga kami, bisa,” terangnya.
Meski dihadapkan pada keterbatasan air, sektor pertanian di wilayah tersebut tetap menunjukkan produktivitas. Catur menyebut hasil panen jagung di desanya termasuk tinggi di tingkat kabupaten.
“Petani kami luar biasa, meski kering produksi jagung kami termasuk paling besar di Kabupaten Blora,” pungkasnya.
Jurnalis: Hanafi
Editor: Rosyid











