SEMARANG, Harianmuria.com – Tanggul setinggi sekitar dua meter di wilayah RT 1/RW 2, Kelurahan Pakintelan, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, longsor pada Minggu siang, 12 April 2025. Insiden yang terjadi sekitar pukul 13.00 WIB itu menyebabkan tiga rumah warga rusak dan memaksa 10 jiwa dari tiga keluarga mengungsi.
Berdasarkan laporan di lokasi, tanggul sepanjang kurang lebih 18 meter longsor pada bagian sepanjang enam meter dan menimpa bangunan di sekitarnya. Kerusakan paling parah dialami rumah milik Tumiyati (63), dengan bagian kanan bangunan roboh dan mengenai teras rumah Yamsutiyono (52) serta sisi rumah milik anaknya, Ika Rundiati (40).
Peristiwa terjadi saat lingkungan dalam kondisi relatif sepi karena sebagian warga tengah beristirahat siang. Meski demikian, tanda-tanda longsor sempat dirasakan warga sebelum kejadian.
Yamsutiyono mengungkapkan dirinya mendengar suara retakan dari arah tanggul sesaat sebelum runtuh. Ia kemudian segera meminta keluarganya menyelamatkan diri.
“Saat itu saya sedang menjamu tamu, tiba-tiba terdengar suara ‘pletok-pletok sama bledug’. Saya langsung bangunkan anak-anak dan istri, saya suruh lari,” ujarnya, Senin, 13 April 2026.
Peringatan tersebut direspons cepat oleh seluruh penghuni rumah, termasuk anak, cucu, hingga tamu yang saat itu berada di lokasi.
“Langsung lari semua. Alhamdulillah selamat,” imbuhnya.
Tak lama berselang, kurang dari tiga menit setelah evakuasi, tanggul benar-benar longsor dan menghancurkan sebagian bangunan warga.
Diduga, longsor dipicu oleh hujan deras yang disertai angin kencang. Debit air yang tinggi membuat saluran drainase tidak mampu menampung aliran air, sehingga meluap dan meningkatkan tekanan pada talud hingga akhirnya runtuh.
“Air dari serokan tidak muat, masuk ke rumah orang tua dan rumah saya juga, lalu langsung longsor,” jelasnya.
Selain merusak struktur bangunan, material longsor juga menghancurkan sejumlah barang berharga milik warga. Total kerugian diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah.
Yamsutiyono mengaku kehilangan seperangkat gamelan miliknya yang bernilai puluhan juta rupiah, termasuk perlengkapan kesenian kuda lumping yang selama ini ia tekuni.
“Gamelan saya hancur semua. Dulu nilainya sekitar Rp75 juta, belum termasuk bangunan dan pakaian,” tuturnya.
Saat ini, rumah warga terdampak dinyatakan tidak layak huni. Para korban sementara waktu ditempatkan di hunian sewa yang difasilitasi pihak kelurahan hingga proses perbaikan selesai.
“Kami sepuluh jiwa disewakan kos oleh kelurahan sampai rumah selesai diperbaiki,” pungkasnya.
Jurnalis: Syahril Muadz
Editor: Rosyid










