BLORA, Harianmuria.com – Polres Blora mencatat tiga sekolah melaporkan keluhan siswa yang diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi menu program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Mayoritas kasus terjadi di SMPN 1 Blora, di mana 198 siswa mengalami diare massal setelah menyantap menu MBG pada Selasa, 25 November 2025. Dua sekolah lain yang turut melapor adalah SMP Katolik dan SMP Kristen, namun jumlah siswa terdampak jauh lebih sedikit.
Ratusan Siswa Jalani Pemeriksaan Medis
Kasatreskrim Polres Blora, AKP Zaenul Arifin, menjelaskan total tiga sekolah telah menyampaikan laporan terkait gejala keracunan yang dialami para siswa. Pemeriksaan medis dilakukan di Rumah Sakit Dinas Kesehatan Tentara (RS DKT) dan RSUD Blora.
“Di RS DKT pemeriksaan 14 siswa, yang rawat jalan 67 siswa. Lalu di RSUD ada 5 siswa rawat jalan,” jelasnya.
Di dua sekolah lainnya, total empat siswa dilaporkan mengalami keluhan serupa dengan kasus di SMPN 1 Blora.
“Kebanyakan korban dari SMPN 1 Blora. Untuk SMP Kristen, 2 siswa dibawa ke RSUD. Sedangkan SMP Katolik, 2 siswa mengalami keluhan tapi belum dibawa ke rumah sakit,” tambahnya.
Baca juga: Ratusan Siswa SMPN 1 Blora Keracunan Diduga Usai Makan Menu MBG

Sampel Makanan MBG Diamankan
Dalam proses penyelidikan, polisi telah mengamankan sampel makanan dari dapur SPPG Karangjati 1, tempat menu MBG yang diduga bermasalah diproduksi.
Sampel tersebut akan dibawa ke Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) untuk memastikan penyebab pasti keracunan.
“Saat ini yang diamankan adalah sisa makanan kemarin. SOP-nya disimpan sampai seminggu. Itu yang nanti kami uji lab,” kata AKP Arifin.
Baca juga: Ratusan Menu MBG di SMPN 1 Blora Ditarik setelah Ratusan Siswa Alami Diare
Arifin menyampaikan bahwa pihaknya belum mengecek CCTV dapur SPPG karena fokus utama masih pada pemeriksaan korban serta sampel makanan.
“Pemeriksaan CCTV belum, kita fokus ke korban dan makanan,” katanya.
Sehari setelah insiden, pihak SMPN 1 Blora mengembalikan ratusan menu MBG ke dapur penyedia pada Rabu, 26 November 2025. Sekolah juga memulangkan siswa lebih awal sebagai langkah mengantisipasi kejadian serupa.
Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Basuki










