KUDUS, Harianmuria.com – Siswa MTs NU Tasywiquth Thullab Salafiyah (TBS) Kudus berhasil membuat sabun cuci ramah lingkungan berbahan dasar sampah organik dari program Makan Bergizi Gratis (MBG.
Sabun ramah lingkungan yang diberi nama EcoTasywiq tersebut merupakan hasil inovasi dan kreatifitas kelompok siswa yang tergabung dalam ekstrakurikuler riset.
Pembina ekstrakurikuler riset, Muhammad Rifai, menjelaskan bahwa ide pembuatan sabun bermula dari upaya mengolah sampah organik menjadi pupuk. Namun, produk tersebut belum mendapat respons luas sehingga muncul gagasan untuk menciptakan produk yang lebih mudah dimanfaatkan masyarakat.
“Awalnya kami mengolah sampah organik menjadi pupuk, tapi yang melirik masih sedikit. Akhirnya muncul ide membuat sesuatu yang lebih bermanfaat dan bisa digunakan sehari-hari. EcoTasywiq ini menjadi ikhtiar pertama madrasah dalam mengelola sampah,” ujarnya, Rabu, 20 Mei 2026.
Rifai menerangkan bahwa EcoTasywiq dibuat dari sisa sampah organik program Makanan Bergizi Gratis di madrasah. Limbah tersebut diolah melalui proses fermentasi anaerob atau kedap udara hingga menghasilkan ecoenzyme sebagai bahan dasar pembuatan sabun cuci.
Menurut Rifai, penggunaan bahan alami membuat sabun EcoTasywiq aman digunakan untuk mencuci peralatan makan, baik milik orang dewasa maupun bayi. Menurutnya, sabun tersebut lebih ramah lingkungan karena diproses secara alami tanpa bahan kimia berbahaya.
“Meskipun jika dibandingkan total sampah harian madrasah, sampah yang kami kelola belum banyak. Tapi ini langkah awal agar siswa terbiasa mengelola sampah menjadi sesuatu yang bernilai,” jelasnya.
Saat ini, EcoTasywiq belum dipasarkan secara luas lantaran masih dalam tahap pengembangan. Pihak madrasah juga masih mempertimbangkan proses perizinan, termasuk izin BPOM serta penentuan harga jual yang sesuai.
Namun, masyarakat yang ingin mengetahui atau memperoleh produk tersebut dapat menghubungi pihak MTs NU TBS Kudus.
Selain mengembangkan EcoTasywiq, tim riset MTs NU TBS Kudus sebelumnya juga telah membuat produk kreatif berupa gantungan kunci karakter berbahan limbah tutup botol plastik. Sayangnya, keterbatasan cetakan karakter membuat produksi massal belum dapat dilakukan.
Rifai optimistis upaya pengelolaan sampah di lingkungan MTs NU TBS Kudus sudah berjalan ke arah yang tepat, terutama melalui kebiasaan memilah sampah sejak dini di lingkungan sekolah.
Sementara itu, Kepala MTs TBS Kudus, Salim, mengapresiasi lahirnya inovasi tersebut. Menurutnya, produk EcoTasywiq sejalan dengan langkah madrasah yang saat ini tengah menuju penilaian Adiwiyata
“Pengolahan sampah di madrasah memang tidak bisa dikerjakan satu dua orang saja, melainkan kerja sama antarindividu agar menciptakan nilai-nilai Adiwiyata dengan totalitas,” ungkapnya.
Ia berharap program Adiwiyata tidak sekadar menjadi ajang penilaian, tetapi benar-benar mampu menanamkan perilaku ramah lingkungan dalam kehidupan sehari-hari warga madrasah.
Jurnalis: Ahmad Abror
Editor: Ulfa











