KUDUS, Harianmuria.com – Prosesi puncak Salin Luwur Sunan Muria kembali digelar di kompleks makam Sunan Muria, Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Selasa, 30 Juni 2026. Tradisi tahunan yang telah berlangsung turun-temurun itu tidak sekadar mengganti kain penutup makam, tapi juga menjadi simbol penghormatan terhadap Sunan Muria, sekaligus media menjaga nilai spiritual, budaya, dan kebersamaan masyarakat.
Dewan Pengarah Salin Luwur Sunan Muria, Mastur, menjelaskan prosesi inti dimulai sejak selepas salat Subuh dengan menyiapkan seluruh kain luwur yang telah dijahit sesuai urutan pemasangan.
“Setelah Subuh seluruh luwur ditata sesuai urutan. Kemudian dibawa menuju makam dengan iringan sholawat terbang papat. Di dalam makam dilakukan pembacaan Yasin dan tahlil sambil proses pemasangan berlangsung,” ujarnya.
Menurut Mastur, proses pemasangan berlangsung sekitar dua jam dan dikerjakan sekitar tujuh orang. Jumlah tersebut bukan merupakan ketentuan khusus, melainkan disesuaikan dengan kondisi ruang di dalam cungkup makam.
Ia menjelaskan, kain luwur yang digunakan seluruhnya berbahan mori dengan kebutuhan lebih dari 10 lembar kain utuh. Kain tersebut dijahit menjadi beberapa bagian, mulai dari sab dua, sab tiga, hingga kembali sab dua yang membentuk tujuh lapis kain mengelilingi makam.
Selain itu terdapat lajer yang dipasang pada bagian langit-langit makam dengan sembilan lapis kain, kemudian sarung, wiron panjang, wiron pendek, kompol, hingga penutup nisan berwarna putih dan hijau.
“Semua dijahit dengan tangan, kecuali penutup nisan yang dijahit menggunakan mesin. Ini merupakan tradisi yang terus dipertahankan sejak dahulu,” jelasnya.
Mastur menambahkan, bunga yang digunakan dalam prosesi terdiri atas bunga melati, mawar, dan kenanga. Khusus bunga melati yang masih kuncup dianyam membentuk penutup nisan sesuai ukuran makam.
Setelah prosesi selesai, kain luwur lama tidak dibuang, melainkan dibagikan kepada masyarakat yang telah memesan maupun para peziarah. Menurutnya, masyarakat meyakini kain tersebut sebagai simbol berkah Sunan Muria.
“Ada yang menyimpan sebagai koleksi, ada yang dibuat peci, baju ataupun rida. Semua diniatkan untuk mengambil berkah Sunan Muria,” katanya.
Selain prosesi salin luwur, rangkaian kegiatan juga diisi pembagian ribuan nasi berkat kepada masyarakat. Mastur menyebut sekitar 7.000 besek telah dibagikan kepada warga Desa Colo dan satu RW di Dukuh Waringin, disusul sekitar 5.000 nasi pincuk saat pengajian, 900 jubung berkat setelah salin luwur, 1.200 nasi pincuk untuk organisasi kemasyarakatan, 1.300 paket untuk santri, serta ribuan paket lainnya bagi para penyumbang dan relawan.
Menurut Mastur, tradisi membagikan nasi pincuk merupakan implementasi ajaran Sunan Muria yang dikenal dengan falsafah pager mangkok.
“Konon Sunan Muria berpesan, jangan memagari rumah dengan tembok, tetapi pagari dengan mangkok. Artinya ketika mendapat rezeki jangan melupakan tetangga. Karena itu tradisi berbagi makanan terus dilestarikan,” tuturnya.
Ia menjelaskan menu nasi pincuk juga memiliki filosofi tersendiri. Selain gulai kerbau, hidangan dilengkapi kluban yang berisi daun kelor, daun dadap, dan daun mengkudu. Ketiga jenis daun tersebut dipercaya memiliki manfaat kesehatan dan menjadi bagian dari kearifan lokal yang diwariskan Sunan Muria.
“Beliau seperti sudah memberikan pesan agar masyarakat mengonsumsi makanan yang sehat. Kluban dari daun kelor, dadap, dan mengkudu baik untuk kesehatan, sementara lauk seperti ikan teri dibakar, bukan digoreng. Ini mengandung nilai hidup sederhana sekaligus menjaga kesehatan,” ungkapnya.
Mastur memperkirakan jumlah peziarah dan masyarakat yang mengikuti rangkaian Salin Luwur tahun ini mencapai sekitar 10 ribu orang sejak dimulainya rangkaian kegiatan hingga puncak acara.
Ia berharap tradisi tersebut terus menjadi media mempererat silaturahmi sekaligus melestarikan warisan budaya dan ajaran luhur Sunan Muria kepada generasi mendatang.
Jurnalis: Ahmad Abror
Editor: Sekar











