KUDUS, Harianmuria.com – Sosok Sunan Kudus atau yang dikenal dengan Ja’far Shaddiq menjadi bahan diskursus menarik dalam dunia pendidikan dan kebudayaan modern.
Melalui simbol Menara Kudus serta nilai-nilai sosial yang diwariskannya, Sunan Kudus dinilai telah merumuskan konsep pendidikan moderat yang kontekstual dan berkelanjutan, jauh sebelum istilah moderasi beragama dikenal secara akademik.
Pengasuh pesantren sekaligus akademisi di Kudus, Ahmad Bahruddin, menilai Sunan Kudus bukan hanya ulama penyebar ajaran Islam, tetapi juga intelektual peradaban dengan kepekaan sosial yang tinggi.
Pendekatan dakwah dan pendidikannya tidak bersifat konfrontatif, melainkan dialogis dengan budaya lokal yang telah hidup di masyarakat.
“Sunan Kudus adalah pendidik peradaban. Ia mengajarkan agama sekaligus membaca konteks sosial masyarakatnya,” ujarnya, Selasa, 24 Februari 2026.
Pendekatan tersebut, kata dia, tercermin jelas dari keberadaan Menara Kudus yang secara arsitektural menyerupai bangunan candi Hindu-Buddha.
Menara itu bukan sekadar peninggalan sejarah, melainkan simbol pendidikan kultural yang menjadikan budaya sebagai jembatan dakwah, bukan sebagai objek yang harus dihapuskan.
“Menara Kudus adalah tesis visual. Ia mengajarkan bahwa agama tidak harus hadir dengan merusak simbol budaya yang sudah mengakar,” bebernya.
Kebijakan Sunan Kudus yang melarang penyembelihan sapi di wilayah Kudus juga dinilai sebagai strategi pendidikan sosial yang sangat maju pada masanya.
Larangan tersebut dianggap sebagai bentuk empati terhadap masyarakat Hindu, sekaligus upaya merawat harmoni sosial lintas keyakinan.
“Itu bukan kompromi akidah, melainkan empati sosial. Sunan Kudus mengajarkan bahwa kemuliaan agama tidak boleh dibangun di atas luka masyarakat,” tegasnya.
Nilai pendidikan Sunan Kudus juga hidup dalam filosofi Gusjigang, yakni Bagus, Ngaji, dan Dagang. Kredo ini dipandang sebagai kurikulum kehidupan yang membentuk karakter religius, intelektual, sekaligus mandiri secara ekonomi.
“Gusjigang bukan teks formal, tapi ia bekerja sebagai sistem nilai. Moralitas, keilmuan, dan kemandirian ekonomi dirajut menjadi satu,” ungkapnya.
Menurut Bahruddin, warisan Sunan Kudus menjelaskan mengapa masyarakat Kudus dikenal religius namun juga rasional dalam ekonomi.
“Ibadah dan produktivitas tidak dipertentangkan, melainkan saling menguatkan,” terangnya.
Di tengah tantangan pendidikan modern yang kerap memisahkan pendidikan karakter dan keterampilan vokasi, warisan Sunan Kudus justru menawarkan jalan tengah.
“Lima abad lalu Sunan Kudus sudah memberi teladan. Pendidikan harus melahirkan manusia saleh, cerdas, dan mandiri,” tandasnya.
Jurnalis: Fahtur Rohman
Editor: Ulfa











