KUDUS, Harianmuria.com – Puluhan pemuda tampak larut mengamati dan menggambar di lingkungan Museum Keluarga HM Ashadie, Desa Janggalan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus.
Para peserta dari kalangan pelajar, mahasiswa, hingga orang dewasa tampak menikmati proses kreatif. Para peserta juga saling menunjukkan hasil karya masing-masing. Ada yang mengabadikan nuansa rumah saudagar, motif batik, hingga menuangkan ide-ide kreatif sesuai interpretasi pribadi.
Aktivitas menggambar itu diinisiasi Komunitas Kudus Sketch berkolaborasi dengan Cerita Kudus Tuwa pada Minggu, 7 Juni 2026.
Seorang mahasiswa, Rahma Abel Sadiya, mengaku mengikuti kegiatan Komunitas Kudus Sketch untuk kedua kalinya. Awalnya ia mengetahui komunitas tersebut melalui media sosial sebelum akhirnya memutuskan bergabung.
“Karena sudah jadi hobi, awalnya lihat di medsos kemudian join. Ternyata seru bertemu orang baru yang satu hobi,” ujarnya.
Menurut Rahma, kegiatan menggambar bersama tidak hanya menjadi sarana relaksasi dan penyegaran pikiran, tetapi juga membuka kesempatan untuk memperluas relasi dan berbagi pengalaman dengan sesama anggota komunitas.
Inisiator Kudus Sketch, Rizka Soviana (23), mengatakan komunitas yang baru berjalan sekitar dua bulan itu mendapat respons positif dari masyarakat. Antusiasme peserta menunjukkan bahwa banyak warga Kudus, khususnya anak muda, memiliki minat menggambar namun belum memiliki wadah yang memadai.
“Akhirnya saya membentuk komunitas ini dan banyak yang ingin bergabung. Menurut saya, ini satu komunitas dengan kegiatan yang positif dan produktif,” kata Rizka.
Ia menilai masih terbatasnya ruang kreatif membuat banyak talenta muda di Kudus belum terekspos secara optimal. Karena itu, komunitas tersebut diharapkan dapat menjadi tempat berkumpul, berbagi gagasan, dan mengembangkan kreativitas bersama.
“Saya lihat banyak anak muda di Kudus yang jago gambar, tetapi mereka jarang terekspos karena tidak ada wadah. Komunitas ini kami harap bisa jadi ruang untuk saling berbagi, bertukar ide dan menggambar bersama teman-teman sefrekuensi,” ungkapnya.
Sebelum sesi menggambar dimulai, 42 peserta yang terdaftar terlebih dahulu mengikuti walking tour di area Museum Keluarga HM Ashadie. Mereka diajak mengamati berbagai peninggalan sejarah dan jejak budaya yang tersimpan di lokasi tersebut.
Hasil pengamatan kemudian diterjemahkan ke dalam karya visual yang merekam berbagai cerita tentang saudagar Kudus, industri kretek, hingga batik kuno yang menjadi bagian dari sejarah kota.
Karya-karya yang dihasilkan peserta rencananya dikumpulkan dan dipamerkan di lokasi yang sama.
Melalui kegiatan tersebut, Kudus Sketch berharap menggambar dapat berkembang menjadi gaya hidup positif yang mendorong anak muda lebih peka terhadap lingkungan dan budaya sekitar.
“Harapannya bisa berkelanjutan, baik melalui kolaborasi serupa maupun dengan komunitas lain. Ini bisa menjadi ruang alternatif bagi anak-anak muda di Kudus yang sering merasa kesepian tetapi tidak punya tempat untuk berbagi cerita,” pungkasnya.
Jurnalis: Ahmad Abror
Editor: Ulfa











